Malam itu, Nopember 2007 lalu, Ghina Aurilia Dhiya Minandar, 10 tahun, harus menyelesaikan pekerjaan rumah dari guru Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) Negeri 31 Cakranegara di kampungnya Selag Alas di Mataram. Ada lima kata yang harus dicari arti katanya. Tidak semuanya bisa dijawab. ”Pak, apa arti kata lapangan dan sportif,” tanya Gina yang duduk di kelas 4, kepada bapaknya, Heru Minandar.
Heru, yang tamatan teknik sipil jurusan transportasi Universitas Udayana tahun 2000 mengaku tidak bisa langsung menjawab. Namun, karena sudah malam, tidak mungkin pergi ke toko mencari buku kamus. ”Saya tidak punya kamus eka bahasa,” kata Heru, suami dari Eka Erawati dan bapak dari anak pertamanya Gina dan adiknya, La Reina Alghaidah, 4 tahun.
Lalu, ia membuka akses internet untuk mendapatkan kamus on line. Dicobanya mengakses Pusat Bahasa, namun tidak didapatnya. Dan akhirnya, mengisi arti kata yang diminta dengan menggunakan nalar. Misalnya lapangan diisi tanah yang luas dan tidak ada pohon atau gedung. Oleh gurunya Gina, ternyata dibenarkan. Walaupun di dalam kamus bahasa Indonesia, kemudian diketahui arti kata lapangan yang sebenarnya adalah tanah luas dan lebar tanpa ada tanaman, pohon besar dan bangunan.
Sejak itulah, setelah pula sempat membaca di milis ketiadaan kamus bahasa Indonesia online, ia membuat sendiri kamus elektronik itu agar memudahkan orang lain yang juga membutuhkan. Awalnya, ia membuat kamus online yang menumpang alamatnya kbbi.lombokhost.com. Sampai dengan entri 180 kata, setelah banyak memperoleh respon, ia lalu menjadikannya alamat sendiri kbbi.web.id menggunakan biaya sekitar Rp1 juta untuk keperluan membayar domain, hosting dan fasilitas lainnya. Walaupun, masih terbatas ruang simpannya (space) yang digunakannya baru 200 MB. Ini karena masih harus berbagi IP dengan beberapa web lain. Padahal seharusnya, sebagai kelas portal kamus seharusnya menggunakan server dedicated yang minimal 20 GB.
Sampai saat ini, ia mengerjakan entri konten di sela kesibukannya bekerja. Utamanya, pada pagi dan malam hari sewaktu akses internet masih kuat. Rumahnya - menempati tiga kamar memanjang sebagai pemberian dari orang tuanya, terletak di ujung gang buntu di Selag Alas termasuk pinggir kota Mataram. Ia menyebutnya Small Office Home Office (SOHO). Di ruang tamunya yang berkuran tiga kali delapan meter, ia bekerja di atas meja kecil untuk menempatkan laptop AXIOO layar 14 inci yang menggunakan memory 1 GB dan hardisk 8 GB yang dibelinya seharga Rp4 juta. Untuk aksesnya, menggunakan kartu XL yang ditempatkannya dalam HP Motorola C 380 yang disambungkan menggunakan kabel data ke laptopnya.
Katanya, menjelaskan, mesin design webnya menggunakan CMS (content management system) - Joomla yang menggunakan bahasa pemrograman PHP untuk website yang paling banyak digunakan oleh webmaster terutama pemula. Dan database My SQL. Design yang dibuatnya, mengadopsi template yang diedit ulang yang diunduh dari Joomla.Com. Untuk mengamankan dari gangguan, dibuatkan otoritas sehingga pengaksesnya melalui prosedur terlebih dahulu dan upload bisa dilakukan untuk yang sudah melakukan registrasi. ”Kalau tidak sesuai, sebagai editor saya delete,” ucapnya.
Seperti dikatakannya, kemunculan kbbi.web.id ini mengundang respon pengaksesnya. Ada yang menelpon langsung selain melalui email. Rata-rata sehari ada dua email pertanyaan yang diterimanya. Bahkan tidak hanya dari seorang pelajar. Ada seorang guru agama, mahasiswa teknik kimia dan juga mahasiswa pasca sarjana telah menghubunginya. ”Menyenangkan. Mau tidak mau, banyak membaca lagi dan belajar. Seperti masih sekolah SMA,” ujarnya. Menurutnya, sebenarnya menarik dan enak membicarakan bahasa Indonesia. Misalnya ada yang menanyakan tulisan script atau skrip. Field, dan scripting.
Karenanya, ada dua buku kamus yang dibelinya di emperan toko, yang diletakkan di bawah meja kerjanya. Satu, Kamus Kecil Bahasa Indonesia yang dibuat oleh Pius A Partanto dan Trisno Yuwono yang diterbikan Arkola Surabaya seharga Rp14 ribu. Buku kedua, Kamus Besar Bahasa Indonesia bersampul merah yang dibelinya seharga Rp99 ribu.
Nah, untuk memajukan kbbi.web.id, ia banyak melakukan kontak melalui berbagai milis diantaranya disebutnya Kaskus dan Detik. Juga meningkatkan update agar semakin baik peringkatnya di mesin pencari Google. Sekarang ini sudah ada 800 entri yang terpakai yang menghabiskan space 50 MB. Setiap harinya, kalau ada, bisa 5-10 entri yang diup load. ”Yang saya utamakan, pertanyaan dari pengunjung,” katanya.
Adapun sumber datanya, yang juga mengutip dari berbagai buku, Wikipedia atau sumbangan dari Onno W Purbo, karena dinilainya kbbi.web.id tidak komersial. ”Ada yang sudah dicantumkan sumbernya tapi juga ada yang belum,” ucapnya. Disebutkannya bahwa Onno W Purbo ikhlas menyumbang kepadanya karena untuk kepentingan publikasi umum dan tidak komersial. Lainnya, sudah ada kontak dengan mantan Kepala Pusat Bahasa Hasan Alwi yang juga menyatakan dukungannya.
Ia mengaku tidak buru-buru melakukan entri data sebanyak-banyaknya karena masih adanya keterbatasan space tadi. Termasuk untuk menggunakan audio. Itu sebabnya, agar dapat mandiri profesional, memiliki staf khusus, direncanakan adanya sponsor yang dapat membiayai kebutuhan operasionalnya.
Heru, yang memiliki tinggi 180 senti dan berat 90an kilo ini kelahiran Surabaya, 1971. Tapi sejak kelas 2 SD, mengikuti orang tuanya seorang anggota Marinir, hidup di kota Mataram, sebenarnya menggemari bermain musik ? sebagai vokalis pada grup Mad Dog yang beraliran klasik rock - dan semasih kuliah juga telah memulai bekerja sebagai wartawan menangani resensi musik di koran lokal Bali Post di Denpasar (1997). Dikatakan, bahwa sebagai penyuka musik, memang harus tahu bahasa Indonesia. Untuk membuat lagu, katanya, setidaknya tahu bahasa yang indah. Apalagi, sejak SMP Negeri 2 Mataram ia menyukai seni drama.
Kegiatan lainnya, sewaktu kuliah, membuka usaha warnet kedua di Watu Renggong Denpasar bersama teman-temannya, termasuk membuat web. Setelah lulus pun, Heru merintis usaha warnet di Mataram namun hanya berjalan selama dua tahun. Kini, sehari-hari ia bekerja sebagai karyawan Cakrawala Multi Media - kantornya di lokasi lain di Jalan Airlangga di tengah kota Mataram, yang menyewakan akses internet di kota Mataram. ”Saya kuliah Teknik Sipil untuk menyenangkan orang tua,” katanya.(supriyantho khafid)




