MATARAM - Penduduk kota Mataram sebagai ibukota propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terbanyak penganggurannya dibandingkan delapan kota dan kabupaten lainnya. Jumlahnya mencapai 13,58 persen atau 23.081 orang dari seluruh jumlah penduduk angkatan kerja (AK) di Mataram sebanyak 170.016 orang. Di urutan kedua, pengangguran di kota Bima sebanyak 12,76 persen atau 7.421 orang dari sejumlah 58.176 orang. Di urutan ketiga adalah Kabupaten Lombok Tengah, sebanyak 6,49 persen atau 27.834 orang dari 428.592 orang AK.
Besarnya jumlah pengangguran di kedua kota tersebut, menurut Kepala Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik NTB Wahyudin, karena banyaknya pendatang yang ingin mencari rezeki tetapi tidak mendapatkan pekerjaan. ”Mataram dan Bima adalah dua kota penyumbang terbesar pengangguran di NTB,” ujarnya, Rabu (3/1). Tetapi besarnya persentase pengangguran di dua kota tersebut masih di bawah rata-rata nasional yang mencapai 9,11 persen.
Besarnya pengangguran di Mataram dan Bima tersebut melebihi rata-rata persentase pengangguran di NTB yang besarnya 6,48 persen dari 2.086.446 orang angkatan kerja. Dari sembilan kota dan kabupaten se NTB, persentase pengangguran terendah adalah daerah Kabupaten Sumbawa Barat 4,81 persen atau 2,140 orang dari sejumlah 44.501 orang penduduk AK, Kabupaten Bima 4,99 persen atau 9.940 orang dari 199.100 orang AK dan Kabupaten Lombok Timur 5,02 persen atau 25.069 orang dari sejumlah 498.998 orang AK.
Untuk pekerjaan penduduk NTB, lebih banyak yang bekerja sebagai buruh tani dan lainnya dibandingkan sektor jasa dan industri. Jumlahnya mencapai hampir separo atau 47,41 persen. Selebihnya, bekerja di sektor perdagangan 17,95 persen, jasa-jasa 11,13 persen, industri pengolahan 10,01 persen, angkutan dan pergudangan 6,21 persen, bangunan 4,73 persen. Lainnya, di sektor pertambangan dan penggalian 2,55 persen.
Berdasar hasil Survey Angkatan Kerja Nasional Agustus 2007, dari 1.951.192 jiwa penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja menurut kategori sektor, penduduk yang bekerja di sektor pertanian mencapai 924.975 orang. Di urutan kedua, di sektor jasa-jasa meliputi perdagangan, angkutan, pergudangan dan komunikasi, keuangan dan jasa perusdahaan serta jasa kemasyarakatan mencapai 706.285 orang. Selebihnya di sektor industri meliputi pertambangan dan penggalian 319.922 orang.
Menurut Wahyudin, sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja di NTB adalah pertanian. ”Pertanian menjadi lapangan pekerjaan utama. Setahun terakhir bertambah 0,2 persen,” ujarnya. Agustus 2006, besarannya yang bekerja di sektor pertanian 47,2 persen.(supriyantho khafid)


