MATARAM - Mahalnya harga bawang selama bulan Desember 2007 menjadi salah satu penyebab utama inflasi sebesar 1,68 persen di kota Mataram. Padahal sebelumnya, Nopember 2007 Mataram mengalami deflasi sebesar 0,07 persen. Dari pantauan Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat (BPS NTB) di empat pasar di kota Mataram : Ampenan, Pagesangan, Cakranegara dan Mandalika, harga bawang yang semula di awal Nopember 2007 kwalitas bersih besar perkilonyaRp7.750 dan sedang Rp6.375 melambung pada akhir tahun menjadi Rp19.083 yang bersih besar dan Rp16.167 yang sedang.
Menurut Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat (BPS NTB) Sumarwiyanto, kelompok yang memberikan sumbangan inflasi terbesar adalah kelompok bahan makanan sebesar 1,11 persen. ”Komoditas yang paling dominan memberikan sumbangan inflasi adalah bawang merah,” katanya, sewaktu ditemui Ahad (6/1).
Dari pantauan mingguan selama dua bulan terakhir, harga bawang memang terus meningkat di Mataram. Dilihat dari awal Desember 2007 saja, harga bawang besar bersih perkilonya Rp15.417 dan sedang Rp12.823 di akhir tahun menjadi Rp19.083 dan Rp16.167.
Komponen bawang menyumbang inflasi sebesar 0,4060 persen. Lainnya, yaitu tomat sayur, beras, kol putih, sawi hijau, cabe rawit, daging ayam ras, ayam hidup, minyak goreng, kacang panjang dan rampela hati ayam. Adapun yang menyumbang deflasi adalah cabe merah, kangkung, bayam, kemiri, salak, teri, kentang, cumi-cumi segar, dan ikan kembung.
Semua kelompok barang dan jasa menyebabkan inflasi selama sebulan terakhir. Bulan Desember 2007 lalu, akibat melonjaknya harga barang dan jasa sebesar, inflasi yang ditimbulkan mencapai 1,68 persen. Keseluruhan sepanjang tahun 2007, inflasi di kota Mataram mencapai 8,76 persen.
Tujuh kelompok barang dan jasa yang indeksnya naik adalah bahan makanan 3,63 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,66 persen. Kelompok perumahan, listrik, gas dan bahan bakar 1,56 persen. Kelompok sandang 0,36 persen, kelompok kesehatan 0,80 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,01 persen, dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,10 persen.(supriyantho khafid)


