MEDIA LOMBOK - Selama dua hari, Rabu - Kamis (26-27/12), sejumlah peneliti dari staf Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprop NTB), perguruan tinggi dan swasta mengikuti pelatihan standar penyusunan proposal penelitian. Materinya, meliputi teknik penyusunan proposal. Diharapkan, mereka bisa memahami permasalahan yang dihadapi daerah sehingga dapat mengemukakannya secara rasional sewaktu mengajukan usulan.
Kepala Bidang Penelitian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah NTB Supran menjelaskan materi yang diberikan kepada peserta berupa kajian menggunakan metode untuk menuangkan data dalam bentuk sampling yang berkaitan dengan kajiannya. ”Semua materi diberikan oleh para peneliti yang memiliki kredit point taraf internasional,” katanya, Rabu (26/12).
Mereka yang dipercaya menjadi nara sumber sebanyak tiga orang yaitu dosen Universitas Mataram Sunardi (Fakultas MIPA), Arifuddin Sahidu (Fakultas Pertanian), dan Hirwan Hamidi (Fakultas Peternakan).
Diperlukannya pelatihan penyusunan proposal tersebut, menurut Supran, agar memiliki pemahaman kerangka pikir dalam tulisan yang dibuatnya sehingga bisa diterima oleh berbagai lembaga penyandang dana penelitian antara lain kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi atau lembaga dalam negeri yang sumbernya berasal dari APBD, APBN, maupun internasional lainnya berupa pinjaman (Loan).
Selama ini, dari peluang besar tersebut harus memerlukan proposal yang sempurna. NTB memiliki potensi diteliti yang berkaitan dengan prioritas pembangunan, persoalan NTB yang masih banyak memiliki unggulan yang bisa ditunjang pembiayannya. Bappeda NTB bisa menjadi penghubung pengajuan proposal ke berbagai lembaga sumber dana selain Pemprop NTB yang alokasi dananya masih sangat terbatas.
Sampai tahun 2000, Indonesia baru mencapai 0,052 persen dari PDRB, tahun 2001 turun menjadi 0,039 persen. Sedangkan Malaysia tahun 2001 mencapai 0,51 persen, Singapura tahun 2001 mencapai 1,89 persen dan standar UNESCO yang wajar dua persen.(supriyantho khafid)

