MEDIA LOMBOK - Perusahaan patungan Indonesia dan Emaar Properties dari Dubai Uni Emirat Arab akan mengelola aset lahan seluas 1.250 hektar kawasan wisata Mandalika ex milik Lombok Tourism Development Corporation (LTDC). Diperkirakan awal 2008 nanti perusahaan dari Indonesia yang terdiri dari PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) milik pemerintah dan Bali Tourism Development Corporation (BTDC) yang selama ini mengelola kawasan wisata Nusa Dua Bali, sudah bisa meneken joint venture dengan Emaar Properties.
Rencana joint venture tersebut dikemukakan oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Barat (Bappeda NTB) Lalu Fathurahman sewaktu ditemui, Rabu (26/12) siang. ”Pembicaraan sudah mencapai 70 persen selesai,” ujarnya.
Pemerintah Propinsi NTB yang semula memiliki 35 persen saham LTDC yang diambil alih PT PPA karena LTDC tidak dapat membayar hutangnya, masih berusaha untuk ikut memiliki bagian saham dalam perusahaan joint venture tersebut.
Aset ex LTDC seluas 1.250 hektar tersebut senilai sekitar Rp1 triliun akan menjadi saham Indonesia. Sedangkan saham Emaar Properties sebesar Rp6,5 triliun. Khusus pengelolaan lahan tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah setuju memenuhi permintaan Emaar Properties selama 80 tahun dan perpanjangan selanjutnya selama 70 tahun. Bahkan pemerintah juga telah setuju menghapus pajak penjualan tanah sebesar lima persen yang seharusnya dipungut dari penjualan tanah 1.250 hektar tersebut.
Dampak dari investasi Emaar Properties ke Lombok Tengah bagian selatan tersebut, sudah dua hotel besar Armani dan Ritz dipastikan keberadaannya di sana. Ini untuk keperluan memasarkan wisatawan asal Timur Tengah. Selain itu, bandara internasional Lombok yang dibayai Rp650 miliar telah memasuki tahap pembangunan landas pacu, secara bertahap akan memiliki panjang 4.400 meter. ”Akan datang pesawat Air Bus 380 yang berpenumpang 1.000 orang ke sini,” ucap Fathurrahman.
Untuk memenuhi kebutuhan investasi tersebut, semua infrastruktur telah dipastikan tersedia. Mulai awal 2008 nanti, sudah dipastikan Perusahaan Listrik Negara akan membangun pembangkit listrik tenaga uap di Lembar Lombok Barat yang biaya pembangunannya lebih besar dari BIL. Daya yang tersedia dua kali 25 megawatt. Juga disiapkan kebutuhan air bersih.
Dikatakannya, bahwa prospek ekonomi NTB tergantung keberhasilan pariwisata yang dikembangkan berbeda targetnya dari Bali. Targetnya, diyakini oleh Fathurrahman, kehadiran BIL dan Emaar Properties tersebut menggairahkan investasi industri yang lain. Semua produk pertanian seperti padi, jagung, mete, kacang bisa menjadi produksi olahan di dalam daerah sendiri. Kalau tahun 2010 angka kemiskinan di NTB mencapai 1.033.348 jiwa atau 24 persen bisa berkurang 1,35 persen atau 60.000 jiwa dan butuh waktu 10 tahun kemudian sudah bisa bebas dari kemiskinan pada tahun 2020.(supriyantho khafid)


