Udara sejuk menyambut di negeri bunga Sakura ini. Ketika itu, suhu udara 23 derajat Celsius. Cuaca mendung dan sedikit gerimis di sana sini membuka mata, inilah Jepang. Kekhasan yang pertama dari warga negeri Matahari Terbit ini adalah dimana-mana orang berjalan seperti memburu waktu. Yang kedua, para pria dan wanitanya pun berpenampilan necis. Kalau prianya mengenakan full dress. Wanitanya pun terlihat modis. Selebihnya, mereka berjalan kaki berpayung dengan langkah cepat. ”Di sini memang empat hari dalam seminggu ada hujan,” kata Atsushi Miura, mantan sekjen YUAI Youth Association (YYA) organisasi persaudaraan pemuda di Jepang yang membina hubungan dengan berbagai lembaga di Asia.
Kekhasan lainnya yang menarik adalah ramainya suasana siang hari saat istirahat kerja dan malam hari. Sekitar pukul 12 siang rumah-rumah makan ramai. Seperti di Royal Host Restaurant di kawasan Otowa dori siang itu. ”Ayo kita keluar, sudah banyak yang menunggu berdiri,” kata Atsushi Miura mengajak pergi seusai makan siang hari itu. Mau tahu harga sepiring nasi goreng. Di situ harganya 1.080 Yen. Suasana ramai pulang kantor tidak hanya pada sore hari tetapi juga pada pukul 8 malam. Diantaranya terlihat di sepanjang jalan Aoyama-dori Avenue. ”Di sini memang gila kerja,” ujar Atsushi Miura tadi.
Sebagai kota metropolis, Tokyo dikenal sebagai salah satu kota mahal di dunia. Tingginya biaya hidup di sini, saya ketahui sewaktu masih berada di dalam pesawat sebelum mendarat di bandara Narita. Sekitar setengah jam menjelang pesawat Garuda yang saya tumpangi dari Denpasar tiba di Tokyo, seorang kawan seperjalanan saya memberi tahu betapa mahalnya ongkos taksi dari bandara Narita ke kota Tokyo. Majalah intern Garuda yang dibukanya menyantumkan tarif 20.000 Yen.
Tetapi, kami tidak harus mengeluarkan uang taksi sebesar itu. Begitu keluar dari pintu kedatangan, Atsushi Miura sudah menunggu dengan bendera pengenalnya. Ini berarti aman menghemat uang saku yang sudah di-Yen-kan. Betapa tidak, selain sangu rupiah dan dolar AS yang tersedia, waktu itu saya hanya punya 45.000 Yen. Kalau saja harus menumpang taksi, ini berarti hampir separo persediaan Yen saya habis hanya untuk naik taksi saja.
Tingginya biaya hidup di sini, bisa pula dilihat dari tarif penginapannya. Saya sebelumnya memang sudah mengirimkan facsimile meminta dicarikan kamar di The Olympic Youth Center - tempat berlangsungnya konferensi YYA yang dihadiri utusan dari berbagai negara se Asia. Ternyata, Atsushi Miura hanya mendapatkan Asia Center yang berada di tengah kota.
Hari pertama di sana, saya hanya mendapatkan kamar yang bertarif 12.300 Yen. Ini sebenarnya bisa disebut kamar sederhana. Sempit ruangannya. Baru keesokan harinya tersedia sebuah kamar yang lebih murah 6.800 Yen tapi kamar mandi di luar. Sangat jauh bila dibandingkan dengan kamar hotel di pantai Senggigi Lombok yang lebih mewah. Apalagi, untuk bisa menikmati televisi di kamar hotel tersebut tidak gratis. Kita harus memasukkan coin 100 Yen ke samping pesawat televisi tersebut untuk waktu 120 menit.
Jepang memang merupakan negeri maju. Penghasilan penduduknya pun cukup tinggi. Misalnya untuk seorang pekerja pemula di kantor Garuda di Tokyo, penghasilannya 200.000 Yen. Contoh lainnya, Eiichi Koyama, 32 tahun yang berdampingan duduk dengan saya dalam pesawat Garuda dari Tokyo menuju Denpasar Bali, memiliki penghasilan 700 ribu Yen sebulan. Eiichi Koyama yang sehari-hari bertugas sebagai dokter psikiater di RS Aichi Handa Nagoya untuk berlibur ke Bali dan Yogyakarta selama lima hari mengeluarkan biaya seperempat gajinya atau 160 ribu Yen.
Karena memiliki potensi sebagai wisatawan itulah, Garuda juga berkepentingan menarik mereka sebagai wisatawan ke Bali. Setahunnya mencapai 500an ribu orang. Mereka datang dari Tokyo, Osaka, Nagoya dan Fukuoka. Rute Tokyo dan Osaka bisa disebut sukses.
Sebagai kunjungan wisata pertama saya diajak Miura-san menengok sebuah rumah pendiri YUAI Youth Association di kawasan Otowa dori yang dijadikan museum keluarga Hatoyama. Di rumah keluarga Hatoyama ini, formasi dari partai Liberal yang sekarang dikenal dengan Liberal Democratic Party (LDP) - sebagai kekuatan politik - direncanakan. Di rumah itulah persiapan awal dalam menghadapi hubungan diplomatik dengan Uni Soviet, yang mana waktu itu Ichiro Hatoyama sebagai perdana menteri mengambil keputusan terhadap pemulihan hubungan kembali dengan Uni Soviet.
Rumah tersebut didirikan Ichiro Hatoyama yang menjabat sebagai perdana menteri Jepang (1954-1956) dan sebelumnya pernah menjabat sebagai sekretaris kabinet dan menteri pendidikan. YUAI didirikan oleh almarhum Ichiro Hatoyama tahun 1953. Organisasi ini bergerak di bidang penelitian, pengembangan kebudayaan, hubungan internasional dan pendidikan internasional ini.
YUAI Youth Association ini, didukung sekitar 110.000 orang - mayoritas pemuda. Tercatat yang aktif terlibat membuat program sebanyak 2.000 orang yang berada di seluruh kota di Jepang, termasuk Tokyo ada 100-200 orang setiap bulannya terlibat dalam kegiatan YUAI yang pendanaannya setiap tahun mencapai 40 juta Yen ditanggung bersama oleh keluarga Hatoyama - selaku pendirinya, pemerintah Jepang dan bantuan dari perorangan maupun perusahaan.
Program kegiatan YUAI Youth Association Jepang selama ini memang menyentuh kehidupan manusia. ”Kelemahan di negara masing-masing kita bicarakan agar bisa menjadi maju. Kami harus selalu berpikir tentang negara lain, apa yang sedang mereka pikirkan. Apa yang kira-kira bisa kita bantu,” ujar Atsushi.
YUAI Youth Association tidak bisa lepas dari keluarga Hatoyama. Dan nama YUAI Youth Association sudah tidak asing lagi di masyarakat terutama kalangan politisi Jepang maupun negara-negara maju lainnya. Contohnya, kata Atsushi, YUAI bisa memberi masukan kepada pemerintah Jepang berkaitan dengan misi jalinan persaudaraan, antara lain ide untuk melaksanakan program Nippon Maru atau yang lebih dikenal sebagai Program Kapal Pemuda Asia yang kini tengah berjalan.
Organisasi yang fanatik dengan pandangan hidup kemanusiaan itu, dirintis oleh keluarga Hatoyama yang telah memberi banyak sumbangsih bagi kemajuan rakyat Jepang. Kini keluarga Hatoyama telah empat generasi. Pendiri YUAI Ichiro Hatoyama adalah putera dari Kazuo Hatoyama (1856-1911) yang pernah menjadi juru bicara parlemen di Jepang dari seorang istri Haruko - seorang tokoh wanita dan seorang profesor di Universitas Tokyo. Kemudian anak dari Ichiro Hatoyama sebagai generasi ketiga, Iichiro Hatoyama (1918-1993) pada tahun 1976 memegang jabatan Menteri Luar Negeri Jepang. Generasi keempat yang kini masih hidup, Yukio Hatoyama, menjadi anggota parlemen Jepang.
Tempat tinggal bersejarah Hatoyama di Otowa dori, sekaligus telah menjadi simbul bagi cita-cita keluarga Hatoyama dalam memperjuangkan keutuhan persaudaraan dan persatuan bangsa. YUAI selalu menjadikan bangunan itu - yang kini dijadikan museum - sebagai salah satu sumber inspirasi dalam melanjutkan cita-cita keluarga Hatoyama.(supriyantho khafid)
Shinjuku-Asakusa
Selama dua hari terakhir disana, Sabtu-Minggu berada di Tokyo yang dihuni lebih dari 12 juta jiwa penduduk, saya mendatangi daerah-daerah perbelanjaan wisatanya mulai dari Shibuya, Harajuku dan Shinjuku di bagian barat Tokyo. Kesemuanya ini merupakan wilayah-wilayah pertokoan modern yang merupakan salah satu wilayah fashion di kota metropolis Tokyo. Dari Shibuya ke Shinjuku, saya terlebih dahulu mendatangi Harajuku berjalan kaki menikmati suasana sejauh 1,5 kilometer menuju Harayuku. Sungguh ramai sekali. Bisa disebut sebagai bagian wilayah hiburan dan mangkalnya anak-anak muda Jepang. Di sini ada semacam pasar pedagang kaki lima. Kemudian saya pun melihat Hibiya dan Ginza yang masuk dalam wilayah pusat kota Tokyo.
Suasana kota tidak semata-mata terasa ditengah-tengah gedung pencakar langit. Misalnya ketika kami mengunjugi Gaien Mae. Ahad pagi itu, seorang rekan saya ingin melihat pusat kerajinan rakyat di sana. Relatif dekat karena ticket kereta ke Gaien Mae ini hanya 160 Yen. Tapi karena waktunya terlalu pagi, masih menunjukkan pukul 8, toko-toko pun masih tutup. Sejauh jalan, pohon-pohon perindang yang ditanam di tepi jalan memperindah suasana lingkungan yang dipenuhi bangunan beton menjulang tinggi. Uniknya, ditopang dan diikat ke batang-batang kayu agar tumbuh lurus dan kokoh. Hanya, di sini, di negeri perokok itu, kebersihan kelihatannya agak longgar. Buktinya masih bisa ditemukannya puntung rokok yang tercecer di jembatan penyeberangan.
Amannya wilayah kota ini juga terkesan dari etalase kaca tanpa pelindung menampakkan busana merek terkenal Isetan dan Hackett London yang dipajang. Kemeja wanita seharga 11.000-15.000 Yen. Atau yang pria 9.800 Yen. Harga sebuah sepeda anak-anak dan sepeda gunung - mountain bike - mulai dari 14.700, 24.800, 25.800, 27.800, 29.800 Yen.
Salah satu obyek wisata yang jangan dilupakan untuk dikunjungi bila anda ke Tokyo adalah pergi ke Asakusa. Saya mendatanginya setelah balik dari Gaien Mae yang berjarak tempuh 27 menit menggunakan subway yang ongkosnya 230 Yen. Asakusa yang terletak di timur laut kota Tokyo merupakan daerah pinggiran kota Tokyo adalah wilayah yang berada di dalam aliran sungai Sumida yang merupakan peninggalan raja Edo (1603-1867).
Sungguh ramai sekali kawasan wisata Asakusa ini. Sejak pukul 8 pagi, bus-bus wisata berukuran besar mulai berdatangan membawa wisatawan dalam negeri. Untuk bisa mengelilingi obyek wisata di sini, anda bisa meminta bantuan pemandu wisata gratis dari kantor informasi wisata yang ada di sana. Di sana hari itu ada Hiromi Ashida, Hisayo Mitani dan Onuki. ”Tanpa dipungut bayaran untuk mengelilingi seputar kuil tertua ini,” ujar Ashida-san.
Di sana terdapat kuil Sensoji yang dikenal nama lainnya Asakusa Kannon. Asakusa menjadi sangat terkenal karena Dewi Mercy dan rumah-rumah kuil dewi-dewi. Burung merpati seakan jinak bertebaran di tanah sekitar kuil tersebut. Sensoji Temple dikenal sebagai Asakusa Kannon yang memiliki kegiatan tradisi Festival Sanja yang merupakan salah satu dari tiga festival besar di Tokyo yang berlangsung Sabtu dan Minggu pertengahan Mei. Balai utama kuil ini yang didirikan tahun 645 dibangun kembali tahun 1958. Di depan kuil, terdapat semacam perapen besar yang berasap bakaran dupa. Saya lihat semua pengunjung yang hendak memasuki kuil mengipas asap ke arah tubuh dan kepalanya. Diseberangnya, juga ada pancuran air untuk membersihkan kaki dan tangan.
Untuk menuju Sensoji Temple ini kita melewati gerbang terdepan Kaminarimon yang dibangun kembali tahun 1960. Dari sana melewati Asakusa-dori Ave sebuah lorong panjang, 250an meter, yang dipenuhi toko-toko kecil menjelang gerbang Hozomon sebelum memasuki kuil Sensoji. Di pasar wisata ini banyak dijual barang kerajinan. Ada juga jual jajan khas Jepang hingga ikan laut kering. Tapi, namanya daerah serba mahal, untuk menghilangkan rasa haus, kita harus membayar 250 Yen untuk satu cup ukuran kecil minuman Orange atau Coca Cola. Di sana, di balik sebuah toko saya melihat seorang wanita bekerja sebagai penyemir sepatu.(supriyantho khafid)
Tokyo Tower
Dari Asakusa, saya memilih ingin melihat Tokyo Tower yang tingginya 333 meter. Dari Asakusa saya selama 40 menit menikmati perjalanan kapal motor yang memuat 400an orang penumpang melalui sungai Sumida membayar 660 Yen ke Hinode Pier. Perjalanan kapal ini dimulai dari dermaga di samping jembatan Azuma, melewati seluruhnya 12 buah jembatan yang unik bentuknya dan berbeda-beda jembatan Komagata, Umaya, Kuramae, jembatan kereta api JR Soubu Line, Ryogoku, Shinohashi, Kiyosu, Sumidagawa ohashi, Eitai, Chuo-ohashi dan Tsukuda-ohashi dan Kachidoki sebelum memasuki dermaga taman Hamarikyu dan kemudian bersandar pada dermaga terakhir Hinode. Dari sini tampak jembatan Rainbow yang dikenal sebagai jembatan Tokyo.
Sekeluarnya dari dermaga Hinode, berjalan kaki sekitar 30 menit melalui stasiun Hamamatsucho kita melihat tampang Tokyo Tower yang warna cat tiang-tiangnya orange-putih berada di balik kuil Zojoji - kuil keluarga Tokugawa dan Tokyo Prince Hotel.
Menara Tokyo atau lebih dikenal dengan Tokyo Tower merupakan salah satu objek menarik yang menjadi kebanggaan Jepang. Dia memiliki keunikan tersendiri sebagai media bagi siapa saja yang ingin menikmati panorama kota Tokyo. Menara Tokyo setinggi 333 meter memberikan kenikmatan keindahan dan kecantikan Tokyo yang tampak begitu modern. Semakin indah menikmati suasana kota Tokyo pada malam hari. Tokyo Tower lebih tinggi 13 meter dari menara Eiffel di Paris yang tingginya 320 meter. Beratnya sendiri, 4.000 ton, lebih ringan dari Eiffel yang memiliki berat 7.000 ton. Lebih ringannya Tokyo Tower menandakan teknologi Jepang lebih maju.
Menara yang dibangun tahun 1958 oleh seorang pengusaha Jepang Fuku Saburo Maeda itu tidak pernah sepi dari pengunjung. Yang datang tidak hanya wisatawan domestik saja, tapi tidak sedikit datang dari wisatawan mancanegera, terutama Eropa yang jumlahnya tidak kurang dari 5.000 orang. Kalau musim libur, yang datang ke Tokyo Tower bisa sampai 10 ribu orang setiap hari. Kalau ingin menikmati kota Tokyo di ketinggian 150 meter, setiap orang dewasa harus membayar 820 yen. Untuk bisa naik ke ruang yang lebih tinggi lagi, ruang observasi di ketinggian 250 meter, tentu juga menggunakan lift, pengunjung harus membayar lagi 600 yen atau Rp 16.500 lagi. Kalau dihitung rata-rata setiap hari yang berkunjung 5 ribu orang, maka The Tokyo Tower Products Control Committee memperoleh pendapatan sekitar 4,1 juta yen setiap harinya.
Menara Tokyo yang dicat warna orange dan putih - menghabiskan 28 ribu liter cat, kalau dilihat dari kejauhan kelihatan sederhana. Tapi dari dekat, ia menampilkan sosok bangunan yang unik dan di dalamnya berisikan berbagai kehidupan yang menarik untuk dipandang dan dirasakan. Di lantai bawah dari empat lantai yang tersedia untuk pengunjung, terdapat berbagai sarana hiburan, restoran dan perbelanjaan. Menginjak lantai satu misalnya, pengunjung bisa melihat aquarium besar yang berisikan koleksi 50 ribu dari 800 jenis ikan, di lantai dua ada restoran dan perbelanjaan, di lantai tiga bisa melihat museum lilin. Di lantai empat terdapat galeri lukis.
Kemudian bagaimana keadaan mulai dari ketinggian 150 meter hingga 333 meter. Banyak yang cukup menikmati kota Tokyo di ketinggian 150 meter. Ruang observasinya berlantai dua yang dimanfaatkan pengunjung untuk mengabadikan diri dengan latar belakang gedung-gedung yang menjulang tinggi dan pantai nan biru. Di tempat itu antara lain kita jumpai sekelompok fotografer yang menjual jasanya bagi pengujung yang ingin difoto dan penjaja sovenir yang ber-merk Tokyo Tower. Diketinggian 250 meter, terpasang 14 saluran stasiun radio FM dan televisi.
Dari menara Tokyo itu para pengunjung dapat menikmati 360 derajat panorama alam kota Tokyo. Menggunakan teropong yang biaya coin-nya 100 Yen, kita bisa melihat secara dekat. Memandang ke sebelah Barat, akan terlihat sejumlah objek menarik, seperti Gunung Fuji, kawasan super ramai Shinjuku dan Shibuya, dan kuburan besar Aoyama. Sebelah Timur, diantaranya terlihat Tokyo Disneyland, gedung Toshiba, dan kawasan Ginza. Utara terlihat kawasan Ueno dan Asakusa, NHK Broadcast Museum dan Istana Kerajaan Jepang. Sedangkan ke selatan akan terlihat Museum of Maritime Science, Tokyo International (Haneda) Airport, kawasan Shinagawa dan Yokohama. (supriyantho khafid)
Transport Murah di Tokyo
Dalam kunjungan di Tokyo, saya hanya dua hari pertama bisa ditemani Miura-san untuk melihat dan mendengarkan kegiatan YYA baik di kantornya hingga mendatangi museum rumah keluarga Hatoyama. Setelah itu, hanya diantar ke stasiun kereta api bawah tanah (subway) Myogadani. ”Sangat mudah naik subway. Ini petualangan buat anda untuk mengenal Tokyo,” kata Miura-san, sore itu.
Hotel Asia Center tidak jauh dari Geihinkan (the State Guesthouse) yang untuk mengelilinya butuh waktu sekitar satu jam. Asia Kaikang - demikian orang sana menyebut, terletak tidak jauh dari dua stasiun subway. Stasiun Nogizaka untuk jalur Chiyoda Line dan Aoyama I-Chome untuk Ginza dan Hanzomon Line. Saya berkesempatan menikmati kebesaran Tokyo yang dilengkapi kesempurnaan transportasi kereta api bawah tanah yang disebut subway. Memang semula muncul rasa cemas berjalan sendiri di kota yang terkenal penduduknya lebih peduli menggunakan bahasanya sendiri. Sore itu kami berdua hendak menjadual tanggal kepulangan ke Indonesia di kantor Garuda yang berada di wilayah Kasumigaseki. Namun, sewaktu sudah berada di dalam kereta, sirna kecemasan itu. Di atas setiap pintu gerbong kereta tersedia jalur rute dan tujuan stasiun berikutnya. ”Ah tidak ada masalah kalau begini,” kata saya kepada teman perjalanan seraya menunjuk peta jalur subway.
Rasanya, sangat mudah mendatangi bagian-bagian kota Tokyo ini bermodalkan peta kota dan peta jalur kereta yang mudah didapat, sehingga mengurangi kesempatan terlalu banyak bertanya. Berbeda jauh dibanding bila kita keliling kota Jakarta menggunakan transportasi bis kota yang sumpek dan pengap. Di setiap gerbong kereta subway yang sejuk dan nyaman - walaupun pada jam tertentu padat penumpang, memang dilengkapi jalur rute kereta tersebut menggunakan lampu kelip-kelip pada titik stasiun yang dilewati atau yang akan ditujunya. Tidak itu saja, tanpa memperhatikan jalur tersebut, kita bisa mendengarkan suara rekaman pemberitahuan nama-nama tempat yang akan dituju. Demikian pula ketika kereta berhenti, menjelaskan pula nama stasiunnya. Di tiang-tiang dan tembok stasiun pun tertera nama stasiun setempat serta arah stasiun berikutnya. Rata-rata jarak antar stasiun ditempuh dalam waktu lima menit. Ongkos kereta ini mulai dari 140 Yen hingga 280 Yen. Anak-anak usia 6-12 tahun dikenai bayaran separo.
Di sana ada 12 jalur kereta subway ini yang jalurnya digambarkan menggunakan simbol warna yang berbeda. Delapan jalur dilayani oleh Teito Rapid Transit Authority yang disingkat TRTA atau disebut Eidan Subway dan empat jalur lainnya oleh Toei Subway. Mulai bekerja sejak pukul lima pagi, kereta subway ini melayani penduduk Tokyo hingga tengah malam. Menurut Atsushi Miura, pembangunan subway ini sudah selesai pada tahun 1970an. Mulut pintu masuk menuju stasiun bawah tanah ini ada yang lebarnya sekitar enam meter tetapi ada pula yang separonya bagaikan masuk pos jaga hingga ke lantai bawah yang kedalamannya mencapai belasan meter.
Untuk memilih jalur mana yang dilewati kereta api yang akan dituju, kita bisa melihat papan-papan nama jurusan kereta yang akan ditumpangi. Demikian pula sewaktu kita memasuki lorong stasiun tersebut, kita harus mengamati papan-papan petunjuk arah yang terpampang di atas plafond beton stasiun. Untuk ke luar stasiun ini juga dilengkapi petunjuk pintu-pintu keluar ke arah mana yang hendak didatangi. Kita pun bisa berpindah kereta pada stasiun tertentu apabila tujuan kita tidak dihubungkan dengan kereta yang ditumpangi dari stasiun asal. Tujuan-tujuan yang kita inginkan bila menggunakan subway ini, umumnya tidak jauh dari stasiun. Seperti kantor Garuda yang terletak di Gedung Kazan, yang terletak beberapa blok dari stasiun Kasumigaseki.
Untuk memperoleh ticket kereta di sana, kita berhadapan dengan mesin otomatis. Tarifnya, sesuai rute yang akan ditempuh sudah tercantum pada papan yang terpasang di atas tembok stasiun. Di sana ada yang berlanggganan. Kalau kesulitan, kita bisa mendatangi seorang petugas yang berada di ruang kantornya. Pintu masuk stasiun ini sebenarnya pula tanpa penjaga. Semuanya serba otomatis. Begitu kita akan memasukinya, kita harus memasukkan ticket yang ukurannya mirip ticket kereta api di Indonesia ke mesin pelobang dan langsung secepat kilat muncul di tengah. Begitupun kalau kita hendak meninggalkan stasiun, ticket harus dimasukkan untuk membuka pintunya yang sebenarnya kecil sekali. Kalau kita terlambat berjalan, pintu itu akan segera menutup kembali. Apabila memaksa keluar maka suara rekaman pemberitahuan akan terdengar.(supriyantho khafid)


