MATARAM - Sejak akhir Nopember 2007 lalu, gedung Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Sumbawa yang terletak di persimpangan Jalan Sernu Raya di kota Sumbawa Besar itu disulap berubah menjadi galeri. Isinya, koleksi benda bersejarah seorang putra daerah Samawa (Sumbawa) almarhum Laksamana Madya TNI Lalu Manambai Abdul Kadir. Benda-benda itu dipindahkan dari kediamannya di Jati utara Nomor 1 Pangkalan Jati Pondok Labu Jakarta Selatan. Kelak galeri tersebut akan ditingkatkan menjadi Museum Bahari.
Abdul Kadir yang lahir di Sumbawa Besar, 28 November 1928 dan meninggal di Jakarta, 15 Februari 1995, adalah putra Indonesia pertama yang memperoleh sertifikat kapal selam KRI Nanggala 402 bantuan Pemerintah Uni Soviet yang diambilnya dari Polandia di zaman Presiden Soekarno. Kadir, memulai karir sebagai anggota TRIP di Jawa Timur, 1944. Setahun kemudian, 1945 menjadi komandan kompi Batalyon Sriwijaya, dan komandan kompi Pasukan Istimewa Bandung, 1946. Pada tahun yang sama ia kemudian menjadi anggota TNI AL.
Ada koleksi 1.718 lembar foto Abdulkadir selama karirnya yang dimulai di kapal Terpedo Jager HR MS Banekert sebagai komandan detasemen sampai menjadi wakil ketua otorita Asahan 1984 - 1989, setelah sebelumnya juga pernah menjabat Sekretaris Jenderal Departemen Perdagangan. Pernah pula menduduki jabatan Deputy KSAL dan pada tahun 1974 juga pernah dipercaya sebagai duta besar luar biasa dan berkuasa penuh Republik Indonesia untuk Pemerintah Tanzania di Dar Es Salaam dan Zambia di Lusaka (Afrika Timur).
Disana, ada pula 342 eksemplar buku, dua pasang tanda pangkat Laksamana Madya (Bintang Tiga), 23 buah bintang tanda jasa ukuran besar. 23 buah bintang tanda jasa ukuran kecil, 5 set tanda jasa dada, 20 buah Piagam Tanda Jasa dan Bintang Kehormatan. Kadir yang juga pernah dipercaya sebagai 2 buah medali bintang kehormatan, 30 buah Plakat dan Cinderamata.
Dari masa tugasnya sebagai duta besar, disajikan 12 buah tanduk hasil berburu di Afrika Timur, satu buah patung gajah Afrika dengan gading asli, dua buah fosil tulang punggung ikan paus, 2 buah lukisan buatan tahun 1963 dan 1968, satu buah pataka kehormatan TNI Angkatan Laut, 3 buah miniatur kapal selam, 3 stel baju dinas perwira TNI Angkatan Laut, satu buah tanda jabatan Deputy Kepala Staf Angkatan Laut, satu buah brevet perwira Kapal Selam, satu buah Lencana Kehormatan Hiu Kencana, satu buah tanda Jabatan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Pemerintah RI, beberapa film dokumenter, serta berbagai asesoris lainnya, dengan nilai sejarah yang patut untuk dipahami dan diselamatkan.
Menurut Ketua Umum Yayasan Sumbawa Bangkit Nurdin Ranggabarani, 38 tahun, yang juga ketua DPW PPP Kabupaten Sumbawa, kehadiran galeri tersebut bisa menjadi inspirasi membangun daerah. ”Dan percaya diri, bahwa kami pernah punya figur seperti itu,” kata Nurdin sewaktu ditemui di galeri tersebut, Rabu (12/12).
Melalui media pameran ini, diharapkan oleh Nurdin uyang pernah menjadi aktivis mahasiswa di Mataram, dapat menjadi wahana pembelajaran dan pendidikan bagi generasi muda Sumbawa khususnya, dan bagi warga Tau Tana Samawa pada umumnya. ”Kalau pemerintah daerah ingin mengambil alih, silahkan,” ujar Nurdin pula.(supriyantho khafid)


