MATARAM - Untuk mengangkat potensi perdagangan, pariwisata dan investasi Indonesia dengan negara-negara se Asia dan Afrika, sebanyak 97 orang pejabat, akademisi dan pelaku bisnis dari 14 negara se Asia dan Afrika bertemu di Senggigi, Senin (17/12). Mereka membicarakan ketiga masalah tersebut dalam rangka melaksanakan program kegiatan New Asian-African Strategic Partnership (NAASP).
Inspektur Jenderal Departemen Luar Negeri (Deplu) Dienne Hardianti Moehario mengemukakan bahwa masing-masing delegasi telah menawarkan peluang di negerinya masing-masing. Ini tindak lanjut dari pertemuan Asia Afrika di Bandung, April 2005. ”Agar dapat ditindak lanjuti antara warga masing-masing, ” ujar Dienne Hardianti Moehario. Utamanya adalah memberdayakan pasar non tradisional di kawasan sehingga dapat terjadi peningkatan hubungan antar warga dengan masing-masing negara.
Mereka yang datang adalah delegasi dari India, Iran, Kazakhstan, Kenya, Kyrgystan, Mesir, Nigeria, Pakistan, Filipina, Afrika Selatan, Sri Lanka, Uzbekistan dan Vietnam selain utusan Indonesia sendiri. Direktur Asia Selatan dan Tengah Deplu M Asruchin menyebutkan ada 17 kegiatan yang telah dilakukan sampai akhir tahun 2007 ini.
Asruchin menegaskan kerja sama antar negara Asia Afrika ini untuk mengembangkan potensi guna dapat dilakukan pelatihan dan pemberian modal sebagai upaya memberdayakan negara yang perlu dibantu. Selain peluang pasar yang cukup besar yang dapat digarap. Sebab, selama ini terkendala modal, sumber daya manusia dan transportasi.
Selama ini, angka 2006, neraca perdagangan Indonesia dengan beberapa negara se Asia Afrika adalah sebagai berikut. Nilai perdagangan Indonesia-Uzbekistan US $ 10,537 juta, Kazakhstan US $ 1,682 juta, India US $ 4,798 miliar, Sri Lanka US $ 471,341 juta, Filipina 1,69 miliar, Vietnam US $ 1,898 miliar, Mesir US $ 514,421 juta, Kenya US $ 43,999 juta, Pakistan US $ 769,762 juta, Nigeria US $ 163,024 juta, Iran US $ 404,404 juta, Tajikistan US $ 131,7 ribu, Afrka Selatan 607,206 juta, United Arab Emirat US 1,413 miliar,
Selain pembicaraan dalam seminar dan forum bisnis juga terbuka pembicaraan antar delegasi dan mini expo kerajinan, mebel, mutiara. Juga kunjungan ke sentra kerajinan, ke obyek pariwisata termasuk desa tradisional Sasak. ”Pertemuan ini juga untuk mempersiapkan penanda tanganan kesepakatan antar presiden,” kata Dienne. Rencananya tiga kepala negara Kazakhstan, Uzbekistan dan Azerbaizan sudah dijadwalkan akan berkunjug dan menanda tangani kesepakatan, 2008 mendatang.
Menurut Dienne, dalam awal pembicaraan yang berlangsung Senin (17/12) pagi, Uzbekistan membuka peluang wisatawan dari negaranya untuk berlibur ke Indonesia. Adapun kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, 2006, dari Afrika mencapai 27.899 orang, Asean 2.199.764 orang, Asia Pacific 4.871.351 orang Eropah sebanyak 782.060 orang dan Amerika 196.038 orang.(supriyantho khafid)


