MATARAM - Muhammad Said Didu, kelahiran Pinrang Sulawesi Selatan, 45 tahun, dari keluarga Perintis Kemerdekaan. Bicaranya ceplas ceplos ketika bicara manajemen BUMN di depan pengurus Forum Komunikasi BUMN Nusa Tenggara Barat yang dilantiknya, Sabtu (8/12).
Sekretaris Kementerian Negera BUMN yang baru 2 tahun 4 bulan dijabatnya ini, sewaktu berbicara masalah regulasi akses Telkom, ia menyatakan akan melakukan pembelaan apabila BUMN dirugikan. Ketika itulah, kemudian menyinggung masalah kepemilikan nomor telepon seluler (ponsel). Tidak sebagaimana pejabat lainnya, yang minimal memiliki empat nomor telepon genggam, ia mengaku hanya punya satu nomor Indosat yang dimilikinya sejak 1995.
Dikatakannya, ia mempersilahkan lembaga intelijen negara melakukan penyadapan. Ia menyebutkan dirinya berpikir positif jika ponselnya disadap. Menurutnya, mmang dipersilahkan disadap, dimonitor supaya tahu ada dimana. ”Berpikir positif saja, orang ini masih hidup tidak,” ucapnya. Ketika ditanya, penyadapan itu agar dirinya bisa dijaga ia menjawab : ”Tidak usahlah dijaga-jaga itu. Kalau jernih hatinya, orang jahat akan diberi wejangan Tuhan jangan ganggu orang itu,” katanya.
Said Didu, mengaku dulu semasa kecilnya pernah menjadi penjual kayu bakar dan daun jati di kampungnya. Selama 20 tahun pernah berkarier di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Mengenai pengalamannya selama dua tahun menjadi anggota DPR RI, 1997-1999, sebagai anggota Fraksi Karya Pembangunan, ia yang memiliki latar belakang pendidikan Sarjana Bio Kimia, S2-nya Rancang Bangun Pabrik, S3-nya System Engineering, ia hanya mengatakan tidak ingin mengulang lagi.(supriyantho khafid)


