MATARAM - Permasalahan perekonomian Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah rendahnya pendapatan daerah dan masyarakatnya. Pertumbuhan ekonomi rendah yaitu kurang dari lima persen dan labil. Sedangkan angka kemiskinan tinggi, mencapai 25,35 persen atau 1.073.400 jiwa. Keadaan perekonomian NTB tersebut disebabkan rendahnya produktivitas industri meliputi agro, pariwisata, pabrikan, pengolahan, jasa dan lainnya.
Semuanya berasal dari rendahnya kapital, kualitas sumber daya manusia (SDM), infrastruktur yang terbatas dan kebijakan yang kurang effektif, serta rendahnya teknologi dan daya saing. Karena itu, menurut Kepala Bidang Perencanan Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah NTB Lalu Bayu Windia, arah pembangunan perekonomian NTB ditujukan untuk meningkatkan dan stabilisasi pertumbuhan mencapai lebih enam persen. ”Dan menurunkan angka kemiskinan menuju dua persen setahun,” katanya.
Kondisi tersebut disampaikan sewaktu mengawali pembicaraan pada Focus Group Discussion Perkembangan Ekonomi Regional NTB Semester II yang berlangsung di Hotel Lombok Raya, Rabu (5/12). Ikut berbicara sebagai nara sumber pada diskusi tersebut pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Mataram Prayitno Basuki dan Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima NTB Irwan Prasetyo yang juga pengurus Kamar Dagang dan Industri NTB, dan Oney dari Sekretariat Millenium Development Goal’s.
Masih menurut Bayu Windia, rendahnya kapital adalah karena pendapatan asli daerah yang menyebabkan pula rendahnya anggaran pendapatan dan belanja daerah, dana pusat, investasi swasta, perbankan, dana masyarakat. Kualitas SDM rendah berasal dari pendidikan dan kesehatan. ”Ini semua yang harus ditingkatkan,” ujarnya.
Irwan Prasetyo menyebutkan bahwa kesejahteraan masyarakat ditentukan oleh pendapatan masyarakat. Karena itu pertumbuhan ekonomi harus didahulukan, bukan pemerataan pendapatannya. ”Sekarang ini orang kaya bertambah banyak. Yang miskin juga tambah banyak,” ucapnya.
Karenanya, ia meminta agar pedagang kaki lima tidak diusik selama tidak menjual minuman tuak, kupon judi togel, atau VCD porno. ”Biarkan mereka berdagang. Kaki lima itu kan memang di trotoar,” katanya.
Prayitno Basuki sewaktu sesi tanya jawab menjawab masalah rendahnya indeks pembangunan manusia (IPM) NTB di urutan ke 32 se Indonesia, mengatakan bahwa pergerakan indikator IPM itu lambat. ”Satu tingkat itu lama,” ujarnya.
Disebutkan kalau lama sekolah penduduk NTB hanya 6,8 tahun kemudian ingin ditingkatkan menjadi tujuh tahun, memerlukan waktu yang lama. Demikian pula kematian bayi pada usia satu tahun kelahiran yang menjadi salah satu dasar IPM. ”Kita ini kalah tahan hidup dibandingkan orang Irian,” ucapnya. Berdasar data Badan Pusat Statitistik, IPM Propinsi Papua Barat di urutan 30, Nusa Tenggara Timur di urutan 31. NTB hanya lebih unggul dari Papua yang berada di nomor buncit.(supriyantho khafid)


