MATARAM - Di Nusa Tenggara Barat (NTB) kredit konsumtif yang dikucurkan bank umum mencapai Rp2,65 triliun. Jumlah tersebut 53 persen dari Rp5,01 triliun kredit yang diberikan kepada masyarakat termasuk pegawai negeri sipil. Selebihnya, Rp2,35 triliun adalah kredit produktif keperluan modal kerja dan investasi. Sebaliknya, dana pihak ketiga yang tersimpan di NTB mencapai Rp5,5 tiriliun.
Menurut Peneliti Eonomi Muda Senior Kelompok Kajian Statistik dan Survey Bank Indonesia Cabang Mataram Budi Widihartanto, sekitar Rp700an miliar dana yang dipinjamkan oleh bank se NTB itu, berasal dari luar. Adapun pertumbuhan kredit di NTB sampai bulan Oktober 2007 lalu mencapai 25 persen. Bank-bank di NTB masih mengincar pasar konsumtif. ”Karena masih kecil. Perkembangannya masih signifikan,” ujarnya.
Ia mengemukakannya sewaktu berbicara di depan Focus Group Discussion Perkembangan Ekonomi Regional NTB Semester II 2007 dipimpin oleh Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan III Badan Perencanaan Pembangunan Daerah NTB Lalu Bayu Windia, Rabu (5/12).
Berdasar data yang dipegangnya, Budi Widihartanto menjelaskan bahwa kredit yang pagunya Rp50 juta untuk modal kerja sebesar Rp968 miliar diberikan kepada 39.598 pengusaha dan untuk investasi kepada 11.587 pengusaha senilai Rp248 miliar. Kredit yang pagunya Rp50 juta-Rp500 juta diberikan untuk modal kerja sebanyak Rp370 miliar kepada 1.874 pengusaha dan untuk investasi kepada 440 pengusaha sejumlah Rp73 miliar.
Kredit menengah pagu Rp500 juta – Rp5 miliar untuk modal kerja kepada 484 pengusaha sejumlah Rp654 miliar. Untuk investasi kepada 68 pengusaha yang menerima sejumlah Rp97 miliar. Sedangkan pagu diatas Rp5 miliar untuk modal kerja diberikan kepada 13 pengusaha yang jumlahnya mencapai Rp166 miliar dan seorang pengusaha mendapat kredit investasi sebesar Rp15 miliar.
Adapun kredit yang mengalami kurang lancar (non performing loan-NPL) kesemuanya baik yang konsumtif maupun produktif oleh penerima kredit konsumtif, sebesar 4,24 persen atau Rp212 miliar.
NPL yang pagunya sampai dengan Rp50 juta mencapai Rp153,807 miliar atau 3,07 persen, kredit modal kerja 8,01 persen dan kredit investasi 4,14 persen. Seterusnya yang kurang lancar pagu Rp50 juta-Rp500 juta mencapai 6,85 persen yang terinci penerima kredit modal kerja sebanyak 8,90 persen dan investasi 6,87 persen.(supriyantho khafid)


