MATARAM - Product domestic regional brutto Nusa Tenggara Barat (PDRB NTB) triwulan III-2007 atas dasar harga berlaku mencapai Rp8,989 triliun. Sedangkan atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp4,399 triliun. Sumbangan terbesar berasal dari sektor pertambangan dan penggalian sebesar 37,44 persen. Sedangkan pertanian sebagai leading sector mempunyai peranan sebesar 25,10 persen.
Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik NTB Wigiarso mengatakan bahwa sumbangan terbesar PDRB tanpa sub sektor pertambangan non migas berasal dari sektor pertanian yaitu 39,14 persen. ”Pertambangan non migas ternyata tidak memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat secara umum,” katanya, sewaktu memaparkan Berita Resmi Statistik, Selasa (4/12) di kantornya.
Menurutnya, dari sektor pertambangan non migas, nilai tambah yang dihasilkan sebagian besar keluar NTB sebagai pendapatan (surplus usaha) dari pemilik modal. Karena alasan tersebut, maka perlu ditampilkan PDRB tanpa sub sektor pertambangan non migas untuk mengurangi pengaruh nilai tambah yang terbentuk oleh perusahaan tambang di NTB.
PDRB NTB masih didominasi oleh sektor primer (pertanian, pertambangan dan penggalian). Kontribusinya sebesar 62,54 persen terhadap PDRB pada triwulan III-2007. Setelah dikeluarkannya sub sektor pertambangan non migas, PDRB NTB menjadi sebesar Rp5.765 miliar atas dasar harga berlaku dan Rp3.416,57 miliar atas dasar harga konstan tahun 2000.
Setelah pertanian, kontribusi PDRB NTB berasal dari perdagangan, hotel dan restoran, sektor jasa-jasa dan sektor pengangkutan. Sektor lainnya masih mempunyai peran di bawah 10 persen. Struktur perekonomian NTB yang dicerminkan oleh PDRB tanpa sub sektor pertambangan non migas menunjukkan bahwa peranan terbesar adalah sektor tersier (sektor jasa-jasa) yaitu 44,58 persen. Sedangkan peranan sektor primer sebesar 41,60 persen dan sekunder 13,82 persen.(supriyantho khafid)


