MATARAM - NTB tetap mengandalkan sektor pertanian. Luas baku sawahnya mencapai 215.783 hektar. Sedangkan luas lahan keringnya mencapai 893.758 hektar .Peluang untuk pengembangan perluasan areal tanaman padi masih tersedia, terutama pada lahan sawah yang baru satu kali tanam setahun. Juga pengembangan lahan kering untuk tanaman padi gogo.
Penegasan tersebut dikemukakan oleh Wakil Gubernur NTB Bonyo Thamrin Rayes sewaktu berbicara di depan peserta Forum Penyuluhan Pertanian, Senin (3/12). Ia mengatakan hendak memaksimalkan pola tanam yang cocok untuk dikembangkan. ‘’Potensi lahan sawah dan lahan kering masih cukup tersedia,’’ ujarnya.
Saat ini, sudah dilakukan pola Sri memiliki produktivitas yang cukup tinggi dan jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan padi non Sri. Produktivitas pola Sri rata-rata 8,32 ton per hektar, hemat air 35 persen, hemat biaya 20 persen dan pendapatan mencapai Rp9 juta per satu kali panen. Sedangkan biaya yang dikeluarkan sebesar Rp2 juta lebih.
Bila dibandingkan dengan pola non Sri, rata-rata produktivitasnya hanya 4,84 ton per hektar dengan total pendapatan Rp1,8 juta dikurangi biaya produksi Rp1,2 juta.’’Pola Sri jauh lebih menguntungkan. karena itu, pola sri tentunya menjadi pilihan yang tepat untuk dikembangkan di daerah kita,’’ ucapnya.
Selain padi, NTB juga memiliki potensi jagung yang cukup besar dan memiliki kualitas hasil yang baik, dimana setiap hektar bisa menghasilkan 7-8 ton jagung kering.(supriyantho khafid)


