MATARAM - Selama lima tahun terakhir ini, luas lahan kritis di Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai 527.800 hektar. Jumlah tersebut mencapai 26 persen dari luas daratan. Hutan kritisnya mencapai 159.000 hektar dan non hutan 368.800 hektar. Karena itu, NTB dalam keadaan prihatin karena penggarapan lahan hutan lindung yang kemiringannya mencapai lebih 45 persen.
Keprihatinan kritisnya kawasan hutan lindung di NTB tersebut dikemukakan Gubernur NTB Lalu Serinata, sewaktu pencanangan penanaman dan pemeliharaan pohon serta gerakan perempuan menanam pohon yang berlangsung pekan kemarin. Dampak penggundulan hutan ini, sumber air di NTB sudah berkurang. ”Bencana kekeringan dan tanah longsor sudah menimpa warga di NTB,” ujarnya sewaktu hadir di kawasan Bendungan Pengga Desa Pelambik Lombok Tengah.
Luasnya lahan kritis di NTB tersebut cukup besar dibandingkan penggundulan hutan di Indonesia yang rata-rata mencapai 1,5 juta hektar setahunnya sehingga menjadikan 50 juta hektar lahan kritis. Angka tersebut merupakan tingkat deforestasi terbesar di dunia.
Di NTB sudah sulit dijumpai tempat yang rindang dan sejuk.Utamanya di selatan Lombok dan Sumbawa. Contohnya di Desa Pelambik yang semula terkenal dengan hutan jati yang lebat sehingga sawah di sekitarnya tidak kekurangan air karena sumber airnya cukup. Penggundulan hutan dan penggarapan lahan pada kawasan lindung yang kemiringannya diatas 45 derajat. ”Tidak mengherankan kalau NTB semakin gersang,” ucapnya.
Untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan gerakan penanaman serentak ini, Pemerintah Propinsi NTB dan pemerintah kabupaten/kota telah menyiapkan bibit sebanyak lebih dari 13,5 juta pohon yang akan dibagikan ke masing-masing kecamatan dan desa masing-masing minimal 1.000 pohon.(supriyantho khafid)


