Proyek Batu Hijau adalah industri tambang pertama di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Penambangan pertama dilakukan di lokasinya di Kecamatan Jereweh Kabupaten Sumbawa Barat (awalnya sebelum pemekaran termasuk daerah Kabupaten Sumbawa).
Dinamai Batu Hijau sesuai dengan temuan batu di lokasi yang berwarna hijau yang lokasi tambangnya terletak pada ketinggi 450 meter di atas permukaan lautSetelah cukup lama dipersiapkan, mulai dari eksplorasinya oleh perusahaan tambang asal Amerika Serikat Newmont Gold Company, kontrak karyanya ditanda tangani 2 Desember 1986. Pada tahun 1990, ditemukan positif adanya cebakan tembaga porfiri.
Pembangunan proyek akhirnya dimulai 1996 senilai US $ 1,8 miliar dan selesai tiga tahun kemudian, 1999. Terhitung Maret 2000 diresmikan operasi tambangnya. Tambang ini dilakukan oleh PT Newmont Nusa Tenggara sebagai perusahaan hasil patungan dari Newmont dan Nusa Tenggara Mining Corp.Jepang yang mayoritas sahamnya dikuasai Sumitomo Corp dan PT Pukuafu Indah Indonesia.
Batu Hijau adalah tambang terbuka yang semua mineral berharganya yang mengandung unsur tembaga, emas dan perak ditambang dari permukaan tanah dengan menggunakan berbagai peralatan tambang seperti shovel listrik, dan truck pengangkut. Bila kelak penambangan berakhir, maka pit atau lubang tambang akan merupakan lingkaran seperti kerucut terbalik yang lebarnya dua kilometer dan kedalamannya satu kilometer.
Di sana terdapat kandungan tembaga porfiri dan sedikit kandungan emas dan perak. Pada akhir tahun 2004, tercatat cadangan tembaga sebesar 6,3 miliar pound dan cadangan emas 7,2 juta ounce. Perkiraan cadangan tersebut yang secara ekonomis layak ditambang. Diperkirakan cadangan mineral akan habis dalam waktu 20 tahun. Setiap harinya penambangan batuan mencapai 600.000 ton.
Logam berharga ini tidak dapat secara langsung diperoleh karena bercampur dengan mineral lainnya yang tidak memiliki nilai ekonomis. Setiap ton bijih yang diolah menghasilkan 487 kilogram tembaga. Sedangkan rata-rata hasil perolehan emas jauh lebih sedikit, yaitu hanya 0,37 gram dari setiap ton bijih yang diolah.(*)


