MATARAM - Lombok menjadi pilihan persinggahan pelayaran megaship dunia Rhapsody of The Seas Royal Caribean setelah pulau Komodo. 1.200 dari 2.000 orang penumpangnya akan melakukan perjalanan wisata sehari, Selasa (4/12) nanti. Mereka akan dijamu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat (Budpar NTB) layaknya tamu daerah dengan berbagai atraksi tradisional Sasak.
Kunjungan persinggahan yang membawa 2.000 orang wisatawan ini adalah pertama kali dilakukan ke Lombok. Sebelumnya kapal pesiar yang berlabuh di Teluk Lembar Lombok Barat hanyalah kapal pesiar yang kapasitas muatnya 300-500 orang. ”Kami harus menyambut mereka selayaknya tamu yang harus dihormati,” ujar Kepala Sub Dinas Pemasaran Dinas Budpar NTB Mahdi, Kamis (29/11).
Selama ini Lombok dinilai tenang, tidak ramai dan indah. Sebelumnya, Lombok menjadi pilihan tujuan kunjungan perjalanan kapal pesiar MV Funchal milik Classic International Cruises yang telah berulang kali berlabuh di Lembar membawa ratusan wisatawan mancanegara setiap datang. Lainnya adalah kapal Bali Sea Dancer dan Ocean Odissey.
Hanya saja, untuk bisa berlabuh, kapal-kapal tersebut tidak dapat langsung bersandar di dermaga. Mereka harus lepas jangkarnya di tengah Teluk Lembar dan setiap penumpangnya yang turun ke darat menggunakan kapal sekoci. ”Sebenarnya para penumpangnya tidak memasalahkan. Tetapi semestinya di sini harus ada pelabuhan yang bisa melayani kapal wisata tersebut,” kata Mahdi.
Hingga kini, Pelabuhan Lembar di Lombok Barat tersebut tidak memiliki kelayakan yang disyaratkan oleh pelayaran internasional, harus mendapatkan pengakuan dari International Standard.Port Certification (ISPC). Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sudah memberikan bantuan fasilitas dilakukannya studi lokasi pembangunan pelabuhan wisata yang diharapkan bisa dibangun 2008 nanti.
Ada tiga lokasi yang sudah disurvey yaitu di kawasan wisata Sekotong Lombok Barat di selatan Lembar, pantai Ampenan yang pernah memiliki pelabuhan dan sebelum tahun 1980 Ampenan dikenal pedagang antar pulau di Indonesia sebagai kota pelabuhan. Lokasi ketiga adalah lokasi bekas pelabuhan kapal cepat di Teluk Nara. ”Hasil studinya masih dikaji,” ucapnya.
Kalau di pantai Ampenan memungkinkan sebagai lokasi yang dipilih, adalah sebagai upaya menghidupkan kembali kota tua Ampenan yang lebih mudah penataannya karena tidak banyak membangun fasilitas baru jika memilih Sekotong atau Teluk Nara. Selain itu, transportasi darat tidak sulit dan kegiatan ekonomi masyarakat diantaranya rumah makan juga bisa menjadi hidup kembali.
Sebagai penutup akhir tahun, Departemen Luar Negeri juga menjadwalkan penyelenggaraan Forum Seminar Bisnis Asia Afrika Trade Tourism Investment. Pesertanya 100 orang dari berbagai negara se Asia dan Afrika yang akan dibuka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jro Wacik.
Lombok juga memiliki peluang baru menjadi tempat Wedding Party (pesta perkawinan). Tidak sedikit wisatawan mancanegara yang melakukan hajatan pernikahan mereka di hotel-hotel boutique yang ada di kawasan wisata Senggigi dan sekitarnya. Juga tempat mereka yang berasal dari Korea melakukan bulan madu.
Lainnya, telah menjadi tahunan kegiatan internasional seperti lomba dansa yang diselenggarakan oleh Lombok International Dance Championships (LIDC) 2007 yang digelar oleh PT International Dansa Indonesia bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat yang merupakan gagasan dari Marcel De Rijk - Vice President World Dance Council dan Chairman World Social Dance Committe yang berkedudukan di London. Kemudian ada pula pameran foto Jepang.
Bima dan Lombok juga akan disinggahi pelayaran Sail Indonesia yang diberangkatkan dari kota Darwin di utara Australia, masing-masing selama empat hari. Event baru adalah lanjutan dari Lombok Triathlon, Rinjani Race sebagai wisata pendakian dan kejuaraan selancar internasional di pantai Lakey Huu Kabupaten Dompu.(supriyantho khafid)




