DOMPU - Setelah terjadinya gempa tujuh kali berturut-turut sejak dini hari hingga sore, Senin ()26/11), yang besar goyangannya hampir sama 6,7 skala richter, hampir seluruh warga Dompu baik di kota maupun di desa, bersama-sama tidur di luar rumah. Kendaraan pribadi motor maupun mobil ditempatkan di halaman bahkan di pinggir jalan. Termasuk mobil dinas Bupati Dompu Syaifurrahman Salman di luar garasi.
Semuanya memenuhi peringatan Pemerintah Kabupaten Dompu melalui masjid-masjid agar waspadai adanya gempa susulan. Ada yang berada di ruang terbuka di rumahnya sendiri atau berkumpul bersama tetangga di lapangan, di halaman masjid dan taman kota. ”Saya trauma sekali. Sewaktu gempa subuh kemarin, kayak kiamat, suara gemuruh mengiang terus,” ujar Abdurrahim, 46 tahun, - Kepala Bidang Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Dompu, sewaktu ditemui di rumahnya di Lingkungan Larema Kelurahan Simpasai Kompleks BTN di kota Dompu, Selasa (27/11) dini hari pukul 02.30 Waktu Indonesia Tengah.
Tidur bersama berarti mereka tenang. Karena selain dingin juga
menghadapi nyamuk yang membuat tidak nyenyak.Seperti yang dialami Atniati, 36 tahun, istri Dudi Junaidi, dan dua orang anaknya di lapangan badminton RT 02 Lingkungan Doro Toi, Kelurahan Doro Tangga selatan Kantor Bupati Dompu. ”Tidak cukup bakar obat nyamuk, ya bekas tempat telur ini dibakar,” ucapnya.
Tenda-tenda yang didirikan warga untuk tidur sudah mulai tampak memasuki Desa Soriutu Kecamatan Manggelewa, arah barat dari perbatasan Kabupaten Dompu, Kalau di dalam kota, ada yang berada di halaman masjid Baiturrahman di Kelurahan Kandai II, lapangan di Kelurahan Karijawa bahkan jalan-jalan diantaranya Jl KH Ahmad Dahlan ditempati tenda. Suparman, 46 tahun seorang montir motor yang ditemui membeli mie kuah di tengah kota, Selasa dini hari, mengatakan bersama penduduk di Lingkungan Mantro Kelurahan Bada, tidur di bawah tenda terpal yang didirikan di kuburan. ”Seumur-umur belum pernah ada gempa seperti ini,” katanya.
Mereka yang berada di dekat kantor Bupati Dompu mengaku belum ada kiriman bantuan makanan. ”Belum ada pembagian makanan ke sini,” kata Atniati yang dibenarkan oleh Ramlah Rifaid, 34 tahun, ibu dari tiga orang anak yang sewaktu gempa bangun dari tidurnya lupa mengenakan baju dan sarung sampai suaminya menarik dirinya dan berteriak mengingatkan berpakaian. Ini juga dialami oleh wanita lainnya yang karena udara di rumahnya panas terbiasa tidur tanpa berpakaian lengkap.
Untuk mewaspadai adanya goyangan gempa susulan yang membahayakan, sejak Senin (26/11), anak-anak sekolah diliburkan. Karyawan kantor pemerintah juga belum sepenuhnya bekerja.(supriyantho khafid)


