MATARAM - Mitra Perusahaan Listrik Negara (PLN) membangun proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Nusa Tenggara Barat (NTB). Di Teluk Endoh Kabupaten Lombok Barat, dibangun pembangkit berkekuatan 75 megawatt atau satu kali 50 megawatt dan satu kali 25 megawatt senilai Rp900 miliar. Di Kabupaten Lombok Timur, 100 megawatt atau dua kali dua kali 25 megawatt senilai lebih dari Rp1 triliun. Selain itu, di pulau Sumbawa juga dibangun 32 megawatt atau dua kali dua kali delapan megawatt untuk keperluan industri.
Konstruksi PLTU Teluk Endoh akan dimulai 2008 mendatang karena sebelumnya telah selesai persiapannya. Pendanaan proyek listrik tersebut bukan berasal dari APBD maupun APBN. Namun dilakukan oleh pengusaha swasta mitra PLN. ”Jadi tidak ada masalah pembiayaannya,” ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah NTB Lalu Fathurahman sewaktu ditemui, Sabtu (24/11).
Karenanya, dipastikan NTB akan terbebas dari kesulitan listrik yang selama ini menghambat rencana investor menanamkan modalnya di NTB. Karenanya diharapkan 2010 di NTB tidak ada masalah listrik lagi. ”Ini akan mempercepat pertumbuhan ekonomi,” kata Fathurahman. Kalau sudah tersedia, untuk bisa mengentaskan kemiskinan, Pemerintah Propinsi NTB akan memikirkan pemerataan ekonominya agar tidak hanya kelompok ekonomi tertentu yang menikmatinya.
Pentingnya penyediaan listrik tersebut dibutuhkan untuk memenuhi keperluan industri, baik hotel dan restoran maupun pengolahan makanan. Sebab, para calon penanam modal di NTB selalu menghitung keterbatasan daya listrik sebagai kendala untuk memulai investasinya.
Menurutnya, Pemerintah Propinsi NTB maupun pemerintah kota dan pemerintah kabupaten tidak ikut menyiapkan dananya untuk keperluan pembangunan listrik tersebut. Walaupun PLN memiliki keterbatasan pembiayaan, namun mitra usahanya telah menyatakan kesiapannya. ”Kalau mengundang pemerintah daerah pun, kami senang hati. Ini kan investasi,” ucapnya. Namun, sebenarnya investor tidak memerlukan keikut sertaan pembiayaan dari pemerintah daerah.
Apabila listrik sudah tersedia, dan bandara internasional Lombok (BIL) di Tanak Awu Kabupaten Lombok Tengah juga tidak ada masalah, investor Emmar Corp dari Dubai akan menginvestasikan dananya di kawasan wisata Mandalika hingga senilai 10 kali biaya pembangunan bandara tersebut. ”Kalau demikian, bandara itu juga akan diperpanjang menjadi terbesar di Indonesia,” ujarnya.
Saat ini panjang landas pacu BIL yang dibangun baru mencapai 2.750 meter. Nantinya, apabila Emaar Corp memastikan investasinya, akan lebih panjang dari Hang Nadim di Batam yang landas pacunya 4.025 meter. Sebab, dibutuhkan bandara yang bisa didarati oleh pesawat Airbus 380 yang dapat membawa penumpang hingga 900 orang.
Untuk pembangunan BIL pun sudah tidak ada masalah lagi. Proyek bandara yang sedang digarap di Desa Tanak Awu Kabupaten Lombok Tengah ini diperkirakan selesai dan sudah digunakan tahun 2009. Akhir September 2007 lalu, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal melakukan peninjauan lokasi.
BIL yang dibangun untuk pengganti bandara Selaparang di Mataram luasnya mencapai 535 hektar atau dua kali lebih besar dari Bandara Internasional Ngurah Rai di Bali. Sebagaimana diminta oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, panjang landas pacunya mencapai 3.000 meter dari semula direncanakan 2.750 meter setelah diperbaiki dari awal gagasan 2.500 meter. ”Ini menjadi salah satu syarat Emaar,” kata General Manager PT Angkasa Pura (AP) I Heru Legowo waktu itu menjelaskan kepada Jusman.
Emaar adalah investor yang akan mendanai proyek seluas 1.250 hektar dikawasan wisata di Lombok Tengah bagian selatan. Pekerjaan landas pacu sepanjang 2.750 meter senilai Rp150 miliar, telah mulai dilakukan oleh PT Hutama Karya yang memenangkan pelelangannya.(supriyantho khafid)


