MATARAM - Selama dua hari, Kamis - Jum’at (22-23/11), UNICEF (United Nations Children’s Fund) bekerja sama dengan Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat menyelenggarakan lokakarya Pencegahan dan Pengendalian Flu Burung yang diikuti oleh 15 orang wartawan di Mataram. Berlangsung di Hotel Jayakarta Lombok Barat dan juga kunjungan peninjauan di RSU Mataram untuk mengetahui kesiapannya menangani kemungkinan adanya penderita yang harus dirawat.
Tubagus Arie Rukmantara dari UNICEF yang berbicara di depan peserta, mengemukakan perlunya kesadaran masyarakat. ”Kami ingin fokus ke media, karena itu perlu pengembangan pengetahuan Avian Influenza oleh para wartawan,” ujarnya.
Untuk kepentingan penanggulangan flu burung di Indonesia ini, UNICEF memperoleh dana Pemerintah Jepang dan Kanada. Kata Tubagus Arie Rukmantara, satu diantara 10 personil UNICEF yang bekerja di lingkungan anak-anak, Jepang membantu membiayai UNICEF sebesar US $ 3 juta. ”Penanggulangan flu burung ini harus berjangka panjang,” katanya.
Kepedulian terhadap flu burung ini masuk di urutan prioritas keenam dari program lainnya di bidang pendidikan, perlindungan anak, lingkungan, HIV-Aids, kesehatan nutrisi.
Sebenarnya, berdasar sejarahnya, Tubagus Arie Rukmantara yang juga aktif di Forum Flu Burung Indonesia, menyebutkan bahwa sebenarnya flu burung sudah lama terjadi yang menyebabkan korban jiwa lebih besar dari pada kematian yang ditimbulkan Perang Dunia I. Pertama terjadi 1918, yang dikenal sebagai virus Spanyol yang menyebabkan prajurit demam, batuk dianggap pilek biasa sehingga gudang senjata terpaksa diubah menjadi tempat perawatan. Waktu itu wabah dua kali menyerang yang sekali merebak selama delapan minggu. Korban jiwa merenggut ratusan ribu orang.
Kedua kalinya, 1930 yang menimbulkan korban jutaan jiwa. Kemudian, 1957 yang dikenal sebagai Asia Flue juga menyerang 500an ribu orang. Kali terakhir 1997 yang menyerang Hongkong sebelumnya akhirnya 2003 lalu muncul di Indonesia.
Di Indonesia, saat ini sudah 113 kasus - 91 orang meninggal - yang diakibatkan Avian Influenza ini di 12 daerah. Sebenarnya, 31 propinsi di Indonesia yang merupakan daerah endemi. Hanya Gorontalo dan Sulawesi Utara yang masih bebas dari virus tersebut.
Pada lokakarya tersebut, Kepala Dinas Peternakan Nusa Tenggara Barat Abdul Muthalib selain mewakil Asisten II Sekretaris Daerah Nusa Tenggara Barat Abdul Malik membuka kegiatan tersebut, juga menyampaikan presentasinya tentang kebijakan dan strategi penanggulangan Flu Burung di Nusa Tenggara Barat. Kepala Sub Dinas Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat Moch. Ismail berbicara masalah Flu Burung yang menjadi prioritas tinggi selain penyakit menular lainnya seperti TBC, malaria, HIV-Aids.(supriyantho khafid)


