Lombok Sumbawa Online
Jual Fiber Optic Link IIX untuk Seluruh Indonesia
FULL FO sampai pelanggan, cocok untuk korporat, game online, isp dll.
tarif: 1 Mbps=13jt, 2Mbps=15jt, 4Mbps=20jt, 6mbps=26jt, 10Mbps 35jt per-bulan.
kami juga menyediakan bandwidth internasional 10jt/Mbps per-bulan
info lebih lanjut hubungi : 081353570001
Google
 
Friday, 23 November 2007 • KESEHATAN

MATARAM - Selama dua hari, Kamis - Jum’at (22-23/11), UNICEF (United Nations Children’s Fund) bekerja sama dengan Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat menyelenggarakan lokakarya Pencegahan dan Pengendalian Flu Burung yang diikuti oleh 15 orang wartawan di Mataram. Berlangsung di Hotel Jayakarta Lombok Barat dan juga kunjungan peninjauan di RSU Mataram untuk mengetahui kesiapannya menangani kemungkinan adanya penderita yang harus dirawat.

Tubagus Arie Rukmantara dari UNICEF yang berbicara di depan peserta, mengemukakan perlunya kesadaran masyarakat. ”Kami ingin fokus ke media, karena itu perlu pengembangan pengetahuan Avian Influenza oleh para wartawan,” ujarnya.

Untuk kepentingan penanggulangan flu burung di Indonesia ini, UNICEF memperoleh dana Pemerintah Jepang dan Kanada. Kata Tubagus Arie Rukmantara, satu diantara 10 personil UNICEF yang bekerja di lingkungan anak-anak, Jepang membantu membiayai UNICEF sebesar US $ 3 juta. ”Penanggulangan flu burung ini harus berjangka panjang,” katanya.

Kepedulian terhadap flu burung ini masuk di urutan prioritas keenam dari program lainnya di bidang pendidikan, perlindungan anak, lingkungan, HIV-Aids, kesehatan nutrisi.

Sebenarnya, berdasar sejarahnya, Tubagus Arie Rukmantara yang juga aktif di Forum Flu Burung Indonesia, menyebutkan bahwa sebenarnya flu burung sudah lama terjadi yang menyebabkan korban jiwa lebih besar dari pada kematian yang ditimbulkan Perang Dunia I. Pertama terjadi 1918, yang dikenal sebagai virus Spanyol yang menyebabkan prajurit demam, batuk dianggap pilek biasa sehingga gudang senjata terpaksa diubah menjadi tempat perawatan. Waktu itu wabah dua kali menyerang yang sekali merebak selama delapan minggu. Korban jiwa merenggut ratusan ribu orang.

Kedua kalinya, 1930 yang menimbulkan korban jutaan jiwa. Kemudian, 1957 yang dikenal sebagai Asia Flue juga menyerang 500an ribu orang. Kali terakhir 1997 yang menyerang Hongkong sebelumnya akhirnya 2003 lalu muncul di Indonesia.

Di Indonesia, saat ini sudah 113 kasus - 91 orang meninggal - yang diakibatkan Avian Influenza ini di 12 daerah. Sebenarnya, 31 propinsi di Indonesia yang merupakan daerah endemi. Hanya Gorontalo dan Sulawesi Utara yang masih bebas dari virus tersebut.

Pada lokakarya tersebut, Kepala Dinas Peternakan Nusa Tenggara Barat Abdul Muthalib selain mewakil Asisten II Sekretaris Daerah Nusa Tenggara Barat Abdul Malik membuka kegiatan tersebut, juga menyampaikan presentasinya tentang kebijakan dan strategi penanggulangan Flu Burung di Nusa Tenggara Barat. Kepala Sub Dinas Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat Moch. Ismail berbicara masalah Flu Burung yang menjadi prioritas tinggi selain penyakit menular lainnya seperti TBC, malaria, HIV-Aids.(supriyantho khafid)

1 Comment »
  • Terima kasih dan selamat atas liputannya Lomboknews.com.
    Hanya, ada beberapa hal yang perlu diklarfikasi meskipun tidak mengurangi substansi, bagus dan pentingnya tulisan ini.

    1. Saya juga aktif di Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (KOMNAS FBPI), bukan Forum Flu Burung Indonesia. Forum wartawan yang sering menulis isu flu burung disebut secara informal “the AI Writers”.

    2.Yang muncul di Indonesia pada tahun 2003 ialah kasus pada unggas, sedangkan pada manusia baru terjadi pada tahun 2005 di Tangerang, Banten.

    3. Provinsi yang masih dinyatakan bebas flu burung pada unggas ialah Gorontalo dan Maluku Utara, sedangkan 31 propinsi lainnya dianggap wilayah dimana virus flu burung H5N1 sudah endemik.
    Sedangkan kasus manusia baru tercatat di 12 propinsi.

    Silahkan kunjungi www.komnasfbpi.go.id untuk informasi lebih banyak.

    Terima kasih. Saya yakinkan bahwa klarifikasi ini tidak mempengaruhi pentingya liputan flu burung dari media agar masyarakat menjadi lebih paham dan dapat melindungi diri dari bahaya virus pembunuh ini.

    Tubagus Arie Rukmantara
    UNICEF Avian Influenza Communication
    arukmantara@unicef.org
    rukmantara@gmail.com

    Comment by arie — December 5, 2007 @ 9:35 pm

  • Leave a comment

    You must be logged in to post a comment.

    Recent Comments
    » LALU SERINATA MENOLAK DIBAWA KE KEJARI MATARAM
    11/27/2008 03:47 pm | 10 Comments
    » KPI CEGAH TAYANGAN KEBANCI-BANCIAN
    11/26/2008 09:36 pm | 1 Comment
    » PEJABAT TERLAMBAT DATANG, PINTU RUANGAN DITUTUP
    11/26/2008 06:25 pm | 3 Comments
    » BEASISWA NEWMONT NUSA TENGGARA UNTUK 8.493 SISWA
    11/26/2008 01:26 pm | 3 Comments
    » PNS SE NTB DIPERIKSA KESEHATANNYA
    11/25/2008 09:18 pm | 1 Comment
    Lomboknews.com - 2007 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com | busby seo challenge