Tanjung Pinang - Pemerintah propinsi kepulauan Riau (Kepri) menghadapi kendala transportasi udara dari mancanegara yang membawa wisatawan. Pesawat yang membawa mereka tiba di Singapura pada malam hari. Padahal jadwal penyeberangan feri Harbour Front Centre di Singapura terakhir pukul 22.00.
Karenanya, Pemerintah Propinsi Kepri berupaya memutuskan mata rantai yang jadi kendala kunjungan wisatawan mancanegara ke daerah Batam dan sekitarnya.
Untuk itu, Pemerintah Propinsi Kepulauan Riau menyiapkan penerbangan langsung. ”Disiapkan pesawat carteran,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepri Robert Iwan Loriox kepada wartawan Nusa Tenggara Barat peserta press trip, sewaktu bertemu di kantor Gubernur Kepri di Tanjung Pinang.
Selama ini wisatawan dari sejumlah negara seperti, Thailand, China, Korea dan Jepang yang hendak berkunjung ke sejumlah obyek wisata di Kepri tiba di Singapura pada malam hari harus menginap terlebih dahulu sebelum meneruskan perjalanan ke Kepri.
Menurut Robert, penjadwalan pesawat Singapura tiba malam karena kelihaian Singapore untuk mengupayakan penerbangan malam bagi wisatawan yang hendak ke Kepri sehingga mau tidak mau mereka harus menginap terlebih dahulu di Singapura dan baru kemudian pada pagi hari meneruskan perjalanan menggunakan kapal fery menuju Batam.
Wisatawan yang berkunjung ke Batam dan sekitarnya mencapai 1,5 juta orang setiap tahun ke Kepri. Sebagian besar diantaranya tujuan Batam baru kemudian sekitar 197 ribu ke kawasan wisata Lagoi di pulau Bintan.
Dikemukakan bahwa jika saja kendala transportasi kunjungan bisa diatasi maka jumlah kunjungan kedua terbanyak di Indonesia setelah Bali akan meningkat dan bisa menambah pendapatan. Dari pajak hotel dan restoran, Kepri mendapatkan Rp 5 miliar sebulan.
Di Bintan selain kawasan resort Lagoi yang jadi primadona juga dikembangkan obyek wisata sejarah atau wisata religius di P. Penyengat.
Potensi wisata lainnya adalah di Galang. Di sana wisatawan dapat menyaksikan keberadaan pengungsi eks Vetnam berikut dengan bekas kapal-kapal yang membawa mereka mendarat di Pulau Galang sekitar 1976 lalu. Saat itu jumlahnya sekitar 20 ribu orang.
Mereka selama ini kerap kali dikunjungi oleh orang-orang dari Vietnam, “Hanya saja kita tidak ingin mengeksploitasi keberadaan mereka sebagai obyek kunjungan,” kata Kepala Biro Humas Dimyath.
Kepri utamanya Batam memiliki potensi wisata MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) akan semakin dikembangkan terus.(supriyantho khafid)

