MATARAM - Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Mataram mendistribusikan 6.125 liter minyak goreng tanpa merek (curah) untuk keperluan 3.000an kepala keluarga miskin. Memberikan subsidi senilai Rp2.500 per litar, dijual kepada masyarakat melalui operasi pasar seharga Rp6.500 per liter. Operasi pasar dilakukan setelah melonjaknya harga eceran di pasaran mencapai Rp9 ribu hingga Rp10 ribu per liter.
Operasi pasar akan dilakukan selama satu pekan hingga tanggal 12 November mendatang. Sasarannya adalah masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah di sejumlah Kelurahan pada enam Kecamatan di Kota Mataram. ”Operasi pasar ini untuk menjual murah minyak goreng tanpa merek ini,” ujar Kepala Seksi Pengawasan Disperindag Kota Mataram Gusti Ayu Yuliani.
Rabu (7/11) siang, operasi pasar minyak goreng tersebut dilakukan di Kelurahan Tanjung Karang Permai dan Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela. Warga setempat, terutama kaum ibu, mengaku sangat membantu kebutuhan dapur mereka di saat harga minyak goreng di pasaran mencapai Rp10 ribu perliter. ”Saya ke sini harganya hanya Rp.6.500 per liter,” ucap seorang warga asal Kelurahan Tanjung Karang Nurjanah, 40.
Ia yang bersuamikan seorang nelayan menyatakan penjualan minyak goreng ini sangat membantu. Utamanya, saat hasil tangkapan ikan sepekan terakhir mulai berkurang akibat gelombang laut pasang pada musim hujan ini. Kebutuhan minyak goreng di rumahnya satu liter untuk keperluan dapur selama empat hari. ”Pemerintah harus terus menjual minyak goreng murah,” ujarnya.
Kurang lebih 150 orang wanita dari keluarga nelayan di Kelurahan Tanjung Karang Ampenan, datang ke kantor kelurahan untuk mendapatkan minyak goreng murah itu. Juga sekitar 500 ibu rumah tangga di kelurahan itu ikut membeli minyak goreng murah.
Gusti Ayu Yuliani mengemukakan bahwa guna untuk memastikan operasi pasar tepat sasaran, pemerintah mendata keluarga miskin di setiap kelurahan melalui Kepala Lingkungan masing-masing. Keluarga yang terdata kemudian diberikan sebuah kupon untuk mengambil minyak goreng murah tersebut. ”Kami gelar langsung di Kantor Kelurahan, agar mudah terjangkau masyarakat. Juga menghindari tidak tepat sasaran jika digelar di pasar umum,” katanya.
Pengalaman operasi pasar sebelumnya, banyak pedagang nakal yang membeli kupon-kupon dari masyarakat sasaran kemudian mengambil minyak gorengnya untuk dijual lagi dengan harga pasar. Masyarakat sasaran dibatasi untuk hanya membeli maksimal dua liter minyak goreng. Disperindag memperkirakan mampu membantu sedikitnya 3 ribu keluarga miskin dalam operasi pasar tersebut.
Operasi pasar ini dananya berasal dari subsidi pemerintah pusat. Namun Pemerintah Kota Mataram juga sedang menyiapkan operasi pasar serupa dengan dana dari APBD.
Dengan subsidi pemerintah pusat, Propinsi Nusa Tenggara Barat mendistribusikan subsidi minyak goreng sekitar 90 ribu liter untuk enam kabupaten dan dua kota.
Tapi beda dengan Kabupaten/Kota lainnya yang menggunakan minyak goreng bermerk, Kota Mataram memilih menggunakan minyak goreng curah untuk OP. Alasannya, karena masyarakat miskin dan berpenghalisan rendah lebih banyak mengkonsumsi minyak goreng curah ketimbang minyak goring bermerk. Harga minyak goreng ÿbermerk rata-rata mencapai Rp12 ribu per liter, sehingga disubsidi Rp2.500 pun hanya jadi Rp9.500 perliter. Ini berarti harganya tinggi bagi masyarakat miskin.(supriyantho khafid)


