MATARAM - Selama lima tahun terakhir, TKI asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang bekerja di 10 negara tujuan sebanyak 166.835 orang. Setiap tahun rata-rata kiriman uang mereka kepada keluarnya mencapai Rp443 miliar lebih. Wakil Gubernur NTB Bonyo Thamrin Rayes mengatakan pengiriman TKI tersebut memiliki dampak yang cukup positif terhadap peningkatan roda perekonomian daerah. ”Dan upaya pengurangan angka pengangguran di NTB,” ujarnya sewaktu berbicara pada acara Sosialisasi Perlindungan Ketenagakerjaan, Sabtu (3/11).
Diakui Bonyo Thamrin Rayes bahwa keberhasilan mereka bisa membuat bangga. Namun dibalik dampak positifnya, masih banyak permasalahan yang dihadapi dan sangat membutuhkan perhatian dan kerja keras. ”Permasalahan itu akan tetap menjadi permasalahan. Tidak menutup kemungkinan semakin rumit jika tidak dicarikan solusinya,” katanya.
Masalah perlindungan ketenagakerjaan para TKI asal Indonesia yang keberadaannya mencapai 90 persen dari pekerja di Semenanjung Malaysia, sudah dilakukan upaya kerja sama dengan National Union of Plantation Workers (NUPW) yakni serikat buruh perladangan. Hanya saja, diantara mereka ini ratusan ribu orang tanpa melalui prosedur yang benar. Ada yang langsung oleh pengguna, berangkat sendiri dan atau bersama keluarganya, atau calo. Kondisinya rentan masalah penipuan dan tidak memiliki jaminan asuransi.
Rincian mereka di luar negeri terbanyak di Malaysia, 111.681 orang. Disusul bekerja di Saudi Arabia 52.858 orang, Kuwait 966 orang, Korea 601 orang. Lainnya, sebanyak 336 orang di Yordania, 218 orang di Abu Dhabi, 102 orang di Brunai Darussalam, f36 orang di Taiwan, 20 orang di Singapura, 17 orang di Hongkong. Sepanjang tahun 2006, lima negara penempatan TKI terbanyak pengirim uang yaitu Saudi Arabia Rp209 miliar lebih, Malaysia Rp200an miliar, Singapura dan Kuwait masing-masing Rp2 miliar.(supriyantho khafid)

