MATARAM - Untuk pilihan pengganti minyak tanah, biji jarak dan buah Nyamplung yang diolah menjadi pasta menggunakan kompor khusus Jipi Subayu bisa digunakan untuk memasak. Dari sekilo biji jarak yang harga pasarannya hanya Rp600 perkilo, bisa digunakan untuk memasak hingga enam jam. Temuan oleh Alfy Cholidyanto, 39 tahun, sudah dimintakan hak patentnya.
Kini dibantu Lemelson Foundation dari Amerika Serikat dan RAMP (Recognition and Mentoring Program) Indonesia, pasta dan kompor itu dikembangkan teknologinya. ”Katanya orang-orang asing, ini temuan pertama di dunia,” ujar pria yang kuliahnya macet hanya sampai delapan semester di jurusan Biologi Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram tersebut kepada Tempo, Kamis (25/10) pagi.
Pasta biji jarak ini mudah dinyalakan menggunakan korek api dan seperti kompor gas menyala langsung dan warnanya biru. Tabung pasta kompornya mampu menampung dua kilogram pastayang bisa nonstop menyala selama enam jam. Kompor ini tanpa menggunakan sumbu.
Semula di Lombok, dikenal Dila Jojor (obor suluh) yang dibuat dari getah biji jarak dan buah Nyamplung. Dila Jojor ini biasanya dinyalakan di kampung-kampung di Lombok sewaktu puasa memasuki malam ke-27. ”Saya terinspirasi Dila Jojor,” ujarnya mengenai penemuan pasta dan kompor tersebut. Dikatakannya gampang campurannya dan mudah didapati.
Menurutnya, untuk menjadikan pasta, buah jarak dan Nyamplung itu digiling yang diberikan perlakuan khusus - fermentasi. Setelah itu didiamkan selama tiga hari. Namun karena masih diajukan hak patentnya, Alfy belum bersedia menyebutkan nama nabati lainnya yang menjadi campurannya sehingga berbentuk pasta atau seperti saos namun berwarna putih. Satu kilo biji jarak bisa menghasilkan sekilo pasta. ”Tidak ada yang terbuang, tidak ada yang disaring dan tidak ada penyusutan,” kata Alfy - suami dari Dwi Susiani, guru Biologi SMPN 15 Mataram yang memberinya lima orang anak.
Adapun kompornya yang masih berupa prototype berukuran sebesar kompor sedang, menggunakan plat besi dan lubang api berbahan tembaga yang tahan api dan tidak karatan.
Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat telah melakukan gerakan menanam jarak di sejumlah daerah. Potensi lahan tanam bahkan lebih dari 600.000 hektar. Untuk mengatasi penghapusan minyak tanah bersubsidi, menyiapkan bahan bakar alternatif pengganti yaitu minyak jarak dan batu bara. Sejak 2006 lalu sudah 2.482 hektar ditanami jarak. Setelah empat tahun produksi bisa menghasilkan 12.500 ton biji jarak atau 2.500.000 liter minyak jarak.(supriyantho khafid)


