MATARAM - Tunggakan pembayaran perawatan dan pengobatan keluarga miskin (Gakin) di Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga Agustus 2007 lalu mencapai Rp22 miliar. 1 Oktober lalu PT Askes (Asuransi Kesehatan) Cabang Mataram baru menyicil Rp8,7 miliar. Sisanya Rp13 miliar belum dibayar karena masih menunggu pencairan dananya dari Menteri Kesehatan (Menkes). Untuk penanggulangan pelayanan masyarakat, diutamakan penyediaan obat langsung oleh rumah sakit.
Kepala Cabang PT Askes Mataram Anurman Huda mengemukakan masih menunggu dana Depkes untuk membayar daftar tagihan yang diterimanya. Jumlahnya membesar karena warga yang dilayani fasilitas Gakin memang semakin besar. Dari kuota yang ditetapkan Menkes sebanyak 2.028.000 orang di NTB yang bisa mendapatkan pelayanan asuransi kesehatan untuk keluarga miskin kenyataannya bisa lebih besar karena adanya penerbitan surat keterangan tidak mampu dari kepala Desa. ”Masyarakat semakin tahu bahwa mereka punya hak sehingga berbondong-bondong berobat,” ucapnya.
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Mataram Agus Wijaya menyebutkan tagihan Desember 2006 hingga saat ini belum sepenuhnya dibayar. Dari semula memiliki tagihan sebesar lebih Rp8 miliar tetapi yang baru dibayarkan Rp1,8 miliar. ”Untuk menutupi kebutuhan dana operasional menggunakan dana fungsional yang diperoleh rumah sakit,” ujarnya. Di RSU Mataram, menurutnya, kebutuhan obat untuk pelayanan Gakin rata-rata sehari Rp8 juta. Kebijakan Gubernur NTB Lalu Serinata memberikan bantuan dana utamanya untuk obat sebesar Rp360 juta sebulan selama tiga bulan terakhir ini, Oktober-Desember 2007.Di sana, selama ini pelayanan Gakin mencapai 60 persen.
Kepala Dinas Kesehatan NTB Baiq Magdalena menjanjikan untuk menjembatani tagihan askes tersebut ke Departemen Kesehatan (Depkes). ”Kami tidak bisa berbuat apa-apa kalau tidak ada droping,” katanya. Pihak apotek banyak yang menghubunginya agar bisa membantu fasilitasi penyalurannya dari Depkes ke NTB.(supriyantho khafid)


