Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami kemajuan yang pesat, setelah berkembang sejak tahun 1987. Malah dikatakan telah mengalami kemajuan 35 tahun ke depan. Tetapi, berkembangnya pariwisata di daerah tetangga provinsi Bali ini belum merata. Bisa dikatakan sebagian besar hanya ke Lombok. Pulau Sumbawa belum banyak terjamah.
NTB, pada tahun awalnya pariwisata berkembang 1987 hanya didatangi 25.714 orang wisman dan 53.402 orang wisnu. 1993 sudah mencapai 140.442 orang wisman dan 106.907 orang wisnu. Tetapi, konsentrasinya masih di pulau Lombok saja yang jumlahnya 114.891 orang wisman dan 77.443 orang wisnu.
Di pulau Sumbawa terdapat tiga daerah kabupaten tingkat II yaitu Sumbawa di bagian barat, Dompu ditengah dan Bima di sebelah timur. Pada musim kemarau, ketiga daerah ini terlihat gersang karena bukit dan gunung menjadi gundul kekeringan. Coklatnya bukit ditemui di sepanjang perjalanan di daerah ini. Meskipun demikian, ternyata pulau Sumbawa tidak miskin potensi obyek wisatanya.
Bima, memiliki posisi strategis karena merupakan daerah persinggahan wisatawan yang hendak pergi atau kembali dari pulau Komodo. Data Dinas pariwisata NTB 1993 menyebutkan wisman yang menginap di sana sebanyak 9.823 orang dan wisnu 12.593 orang. Karena itu, pula NTB memanfaatkan letaknya yang berada di daerah segitiga emas pariwisata. Di barat adalah pulau Bali, Tanah Toraja-Sulawesi di utara dan Komodo di timurnya.
Dari kabupaten Bima, di sini ada banyak pantai yang indah namun masih perawan. Tidak kalah indahnya dari alam pantai di Lombok seperti Senggigi (Lombok Barat) atau A’an (Lombok Tengah). Di Bima ada pantai Lamere di Teluk Matamboko-Kecamatan Sape yang berhadapan dengan pulau Komodo. Atau Asa Kota - yang berarti pintu masuk kota melalui laut - yang dilengkapi peninggalan sejarah penjajahan Belanda berupa benteng dan peninggalan Jepang berupa goa dan tangki-tangki minyak serta dari tulisan Arab berbahasa Melayu diketahui adanya kuburan penyebar Islam Abdul Karim Daeng Makule di pulau Nisa yang kini disebut sebagai pulau Kambing. Untuk ini, telah diprioritaskan peningkatan jalan mulai bandara Sultan Salahudin hingga pelabuhan laut Sape yang biayanya miliaran rupiah.
Namun, Bima sebagai daerah persinggahan memiliki kekuatan daya tarik obyek sejarah dan budaya selain beberapa pantai. Coba saja lihat istana dan barang peninggalan Sultan Salahudin di kota Bima yang kini dijadikan museum daerah Asi Mbojo. Di sebelah pintu masuk terdapat tiang bendera yang terbuat dari bekas tiang layar kapal perang kerajaan Bima. Belum lagi yang ada di rumah pribadi keluarga sultan yang kini didiami oleh anaknya yang ke-5 puteri Siti Sulaeha. Mulai dari pakaian kebesaran hingga kitab suci Al-Qur’an yang ditulis tangan berukuran 30 kali 50 senti. Ada pula museum budaya Samparaja milik puteri Siti Maryam.
Sepanjang jalan dari kota Raba-Bima menuju Sape pun tak kurang obyek yang bisa dilihat. 14 kilometer arah timur, terdapat Jurang Pengantin yang berada di ketinggian 200 meter di atas permukaan laut menampilkan suasana kota Bima dari kejauhan. Cahaya lampu malam hari terlihat gemerlap. Hanya, tidak enaknya kalau pada musim kemarau. Bukit-bukit di sekitarnya berwarna merah karena kekeringan.
Dua kilometer di timurnya, di desa Ntori Kecamatan Wawo terdapat lumbung padi kolektif milik penduduk yang jumlahnya mencapai 100an buah. Pada satu lokasi berbentuk Jompa. Sedangkan di lokasi lainnya berbentuk Lengge. Masing-masing lingkungan lumbung tradisional ini dipagari dan dikunci. ‘’Untuk membuka lumbung harus seizin pemegang kunci dan waktunya tertentu,” ujar Abdul Manaf M.Said Husny (La Sangi) yang pernah menjabat Kepala Dinas Pariwisata Bima..
Di sekitar desa tersebut juga terdapat pesanggrahan Wawo yang dulunya digunakan sebagai tempat peristirahatan sultan. Kemudian berjalan ke timur lagi ada desa Maria yang terkenal dengan pengrajin batu permata Wadu Ake. Belum lagi kesenian tradisionalnya.
Tapi sayang sekali, potensi industri wisata di daerah ini belum tergarap. Setidak-tidaknya seperti yang sudah dilakukan di Lombok, ada pedagang acung kaos atau kerajinan gerabah. Sehingga tidak banyak masyarakat yang bisa menikmati dampak berkembangnya pariwisata dan dijadikannya Bima sebagai persinggahan oleh wisatawan yang hendak ke Komodo. Contohnya, tak ada tanda-tanda kehidupan wisata di lokasi-lokasi tadi. ”Kami memang masih ketinggalan,” ujar La Sangi ketika ditanya tiadanya kios-kios cinderamata.
Di Kabupaten Dompu, memang ada pulau wisata Satonda yang tanpa penghuni yang setiap minggunya didatangi kapal-kapal pesiar dari Bali dan Lombok sebagai persinggahan perjalanannya dari dan ke pulau Komodo. Kawasan utara ini masuk dalam jalur segitiga emas Tamosa. Yaitu pendakian ke gunung Tambora. Pulau Moyo di sebelah barat yang terkenal dengan hotel tenda Amanwana Resort yang pernah didatangi Lady Diana dari Inggris dan Pangeran William dari Belanda. Di utaranya adalah pulau Satonda seluas 2 kilometer persegi yang tidak hanya memiliki pantai dan taman laut yang indah tetapi juga ada danau berair asin seluas 200 hektar yang kedalamannya 60-70 meter.
Memang wisata ke utara ini bisa berburu karena banyak babi hutan yang oleh rakyat dianggap sebagai hama, pendakian gunung Tambora, juga meninjau perkebunan kopi dan mete baik yang dikelola oleh PT Bali Anacardia maupun masyarakat setempat yang sebagian besar para transmigran asal Lombok. Sejak tiga tahun terakhir ini perkebunan mete sudah mencapai 5.000 hektar. Oleh karenanya wilayah utara ini disebut sebagai daerah agrowisatanya Dompu.
Wilayah utara Dompu ini sebagian daerahnya jalan tidak begitu baik. Jarak 106 kilometer dari kota Dompu ke Calabahi yang waktu tempuhnya sekitar 3,5 jam terasa melelahkan. Karena itu, lebih banyak wisatawan yang datang ke sini melalui jalur laut.
Dompu selatan telah memiliki kawasan andalan pantai Lakei yang berombak dan telah dikenal oleh para peselancar dunia. Jaraknya 30an kilometer dari kota. Sejak beberapa tahun terakhir ini memang menjadi sasaran kehadiran peselancar dari mancanegara. Istimewanya pantai Lakei, menurut Irianto yang memiliki Malingi Cottage, karena lebarnya bentangan ombak, tidak membuat para peselancar kerepotan bermain selancar. ”Sekaligus turun delapan puluh peselancar tidak masalah,” ujarnya. Apalagi di sana ada lima jenis gelombang yaitu periscope, nangas, Lakei peak, Lakei pipe dan Capeal stone yang cocok untuk para peselancar bukan pemula. Sudah ada banyak penginapan yang relatif cukup bagus pada areal kawasan Lakei seluas 600 hektar.
Peselancar bule yang ke sana kalau cocok ombaknya, bisa berminggu-minggu. Apalagi kini tidak mengenal musim, setiap bulan bisa ditemui ombak yang bagus untuk berselancar. Seorang perawat asal Melbourne-Australia Peter Loddon yang bukan peselancar mengingatkan bahwa Lakei bukan untuk peselancar pemula. Lakei berjarak sembilan kilometer dari Kecamatan Hu’u atau 38 kilometer dari kota Dompu.
Di Kabupaten Sumbawa, kelihatannya lebih siap menjual obyek wisatanya. Paket wisata yang biasa ditawarkan ke wisatawan yang datang, dibawa ke sentra pengrajin pandai besi di dusun Talwa desa Batu Bulan sekitar 12 kilometer dari kota Sumbawa Besar. Riwayatnya, di sini tinggal orang-orang kepercayaan Sultan Sumbawa.
Dusun ini memang sudah pernah dijual dalam paket wisata untuk para wisatawan kapal pesiar Bali Sea Dancer yang merapat di pelabuhan Badas-Sumbawa. Tidak hanya melihat para pengrajin bekerja membuat parang dan pisau yang oleh wisman asal Jerman disebut Solingen Sumbawa. Tetapi ada sanggar tari yang ikut mewarnai daya tarik menyambut wisatawan. 12 orang wanita memainkan ratib rebana. Yang disambut pun ikut larut berjoget di atas panggung. Dari jualannya sendiri, setiap rombongan yang datang tak kurang membeli puluhan parang pendek Layong atau parang Calak yang harga perbijinya Rp25-40 ribu.
Selepas meninjau dusun Talwa, kami diajak mandi air terjun Ai Beling yang berjarak 30an kilometer jauhnya. Jalan masuk ke air terjun ini sepanjang enam kilometer walaupun menanjak tajam tetapi telah diaspal yang biayanya lebih dari semiliar rupiah. Ai Beling ini dulunya merupakan hutan perburuan Sultan Muhammad Djalaludin III. Di sana, terdapat hamparan batu datar seluas sehektar. Air mengalir melalui celah dataran batu tersebut. Mandi di bawah aliran yang jatuh setinggi 1,5 meter terasa enak sekali. Selain segar, punggung yang tertimpa jatuhnya air seperti dipijat dengan enaknya.
Hanya yang perlu diwaspadai, di situ terdapat sumur-sumur air yang membahayakan bila tidak waspada melewatinya. Kedalamannya diperkirakan lebih dari lima meter. Orang yang tinggi badannya hanya 160 sentimeter apabila terperosok kakinya tidak menyentuh dasar. Airnya pun memutar di dalam.
Wisatawan kapal pesiar bisa berkunjung pula ke dusun Pemulung. Di sini, para wisman disambut atraksi menumbuk padi wanita setempat di bawah rumah panggung. Para wisman pun diberikan kesempatan memasuki rumah penduduk dan menyaksikan perkawinan adat. Mulai dari persiapan sang calon pengantin wanita yang menangis di dalam selubung kain sarung hingga acara manggungnya di pelaminan.
Di perkampungan penduduk pun wisman digiring ke balai dusun yang menyiapkan hasil kerajinan tenunan, rajutan benang anak-anak SD setempat yang sengaja diperagakan langsung oleh puluhan siswa. Juga dijual kerajinan terompet dari daun lontar dan rebana Sumbawa.
Lebih menarik lagi, adanya atraksi Barapan Kebo atau balapan kerbau yang disiapkan terlebih dahulu. Barapan kerbau ni bukan seperti balapan sapi di Madura. Setiap pasang kerbau yang dikendalikan oleh jokinya di atas papan di belakang yang ditarik bukan lari adu cepat. Arenanya di sawah berlumpur.
Tetapi pasangan kerbau tersebut mengejar sebuah tonggak Saka di ujung arena - yang dikendalikan oleh Sanro (dukun) Saka yang melalui mantra-mantranya berupaya mengalihkan kerbau agar tidak menabrak Saka. Di sini terjadi adu kemampuan dua orang sanro. Yang satu sanro kerbau yang berupaya membawa kerbau menabrak Saka. Sebab, apabila sepasang kerbau mampu menabrak saka berarti menang.
Pada atraksi ini selain wisman diberikan kesempatan menjadi joki, juga para wisman diberikan kesempatan menyerahkan hadiah berupa pakaian kepada para joki yang memenangkan barapan kebo. Setiap usai menyerahkan hadiah, oleh penerimanya para wisman diajak berputar-putar bagaikan berjoget. ”Fantastik,” begitu ucap mereka.
Sumbawa sendiri juga memiliki peninggalan sejarah yang amat berharga yaitu Bala Kuning - rumah sultan Sumbawa beserta barang-barang peninggalannya berupa pakaian diantaranya kopyah emas dan foto-fotonya. Memang, Sumbawa telah lebih maju pariwisatanya. Tidak jarang, pengusaha perjalanan yang berkedudukan di Mataram sering mengantar tamunya yang membeli paket wisata sehari ke Sumbawa.(supriyantho khafid)


