Siang itu, laut tenang di perairan Pai Kecamatan Wera Kabupaten Bima. Jaraknya pulau Nisa Kapa itu sekitar 400 meter dari pantai dusun Pai tersebut. Sekitar 10 menit menggunakan perahu motor untuk menjangkau Nisa Kapa, begitu pulau tersebut diucap oleh orang Bima di kampung tersebut. Apabila air laut sudah pasang, jangan harap bisa menjangkau Nisa Kapa.
Nisa Kapa dari bahasa Bima berarti pulau kapal. Entah seperti apa persis riwayatnya. Orang-orang hanya menyebutnya konon dahulu kalau sebuah kapal terdampar di sana. Pulau itu sendiri, terdiri dari bukit karang setinggi sekitar 15-20 meter. Lebarnya 50an meter dan panjangnya lebih 100 meter. Di sekitar pulau itu pun di sisi ujung sebelah timur dan sisi barat terdapat daratan karang yang memanjang hingga 100 meter. Di atasnya terdapat rerumputan dan adanya dua pohon Jenamawa sebutan lokal untuk pohon Kamboja.
Sebenarnya, menurut salah seorang penduduk setempat, Sueb M Nur, dahulunya ada sebuah batu berpahat yang tidak diketahui bunyi tulisannya. Tetapi Muhamadiah mengatakan, oleh penduduk dari desa tetangga yang menghancurkannya, diduga sebagai barang antik dicari kandungan permatanya. Ternyata tidak ada apa-apanya. Tentu disayangkan.
Tanda-tanda sejarah telah hilang. Sebab, kemungkinan batu berpahat itu adalah petunjuk semacam prasasti. Ada yang bercerita, di sana konon pernah ada seseorang yang membawa putrinya berlayar hendak ke Makassar. Tetapi meninggal dalam perjalanan dan akhirnya dikuburkan di situ.
Padahal, kini tidak sedikit para wisatawan mancanegara yang menumpang perahu wisata mulai berdatangan ke sana. Ada orang Amerika Serika, Perancis, Australia. ”Mereka sering singgah ke sini. Anak-anak diberikan uang masing-masing lima ribu rupiah,” kata Sueb. Setiap kapal membawa sekitar 10 orang bule. Di sana, mereka berlama-lama hingga empat jam. Ada yang mengulang datang sambil menunjukkan foto-foto sewaktu pertama kali datang sebelumnya.
Kenapa mereka ke sana. Ya disitulah ada ular laut yang jumlahnya disebut mencapai ribuan ekor. Ular-ular itu berada di sela-sela batu karang yang ada di pinggir pulau ataupun yang terdapat di rongga-rongga dinding pulau tersebut. Untuk mengambilnya pun tidak sulit. Dan memang tidak liar. Siapa pun yang berani, mudah memegangnya. Bahkan, dijadikan mainan. Kadang dikalungkan di leher, dimasukkan ke dalam celana (bukan masuk kantong),
Ini dilakukan oleh Abdul Gafar dan Hamdiah. Ciri-ciri ular itu kepalanya lonjong, dan ekornya seperti sirip. Kulitnya tidak bersisik. Geraknya lincah dan cepat sewaktu dilepas ke air laut. Ular-ular itu langsung berbalik masuk ke sela-sela batu.
Ular yang warna kulitnya selang seling hitam dan putih melingkar itu, sebenarnya memiliki waktu ke luar dari sela batu. Biasanya, kata para penduduk dusun Pai, pada jam 17.30 Waktu Indonesia Tengah. ”Jumlahnya banyak sekali. Saatnya mereka mencari makan ikan-ikan kecil,” kata Sueb.
Utamanya di musim hujan, mudah sekali ditemukan di atas rumput di atas bukit pulau tersebut. Sebagai binantang jenis ampibi, ular-ular tersebut keluar dari rongga batu berenang ke air mencari mangsanya ikan. Kalau malam hari, sewaktu nelayan memancing ikan menggunakan lampu minyak obor (bukan petromak) sebagai penerang, ternyata ular tersebut tertarik mengikuti cahayanya. Bahkan naik ke perahu. Tetapi kalau kemudian diturunkan, ular itu kemudian menghilang tidak balik naik ke perahu lagi.
Namun, yang mungkin harus dipikirkan ulang, adalah jangan membawanya ke luar pulau tersebut. Bisa dibawa hingga ke daratan pantai Pai dan kemudian dilepaskan lagi ke laut. Kata ibu-ibu warga dusun tersebut, ular yang dibawa harus segera dilepaskan lagi ke laut. Sebab, ada keanehan yang terjadi. Konon, adanya seseorang dari desa tetangga yaitu Desa Sape yang datang ke pulau itu membawa pulang dua ekor. Kemudian keduanya ditandai menggunakan cat warna merah dan putih. Seterusnya dilepas. Ternyata ditemukan kembali di tempat asalnya.
Ada pula seseorang yang membawanya pulang. Kemudian suaminya, datang ke desa Pai minta diberikan obat karena istrinya sakit dan menjulur-njulurkan lidahnya. Cerita lain, seseorang kehilangan perhiasan kalung sewaktu pesiar ke sana, lebaran tahun lalu. Karena jengkelnya, ular yang ditemukannya dipotong-potong. ”Tiga hari kemudian orang itu dikabarkan meninggal,” ujarnya. Seorang petani di dusun Pai, Nurdin Abidin, 36 tahun, mengaku takut terhadap ular tersebut walaupun disebut sebagai ular jinak.
Diakui oleh Sueb, Nisa Kapa menjadi terkenal sebagai pulau ular sejak lima tahun terakhir. Karena jalan yang menghubungkan ibukota Kecamatan Sape di selatan desa Pai tersebut telah beraspal. Karena itu, sewaktu lebaran Hari Raya Idul fitri, jumlah pengunjungnya bisa mencapai enam ribu orang. Menurut Abdul gafar, sehari bisa dapat uang karcis hingga sejuta rupiah. Setiap pengunjung dipungut seribu rupiah belum termasuk ongkos perahu per orang pergi pulang Rp2 ribu.
Nisa Kapa sebenarnya memang sudah menjadi tempat pesiar warga setempat sejak mereka masih muda. Siti Hawa yang bersuamikan Munawar, mengaku pacaran sambil mencari kepiting di sana. Demikian pula Nuraini istri Jamaludin. ”Ya begitulah. Setiap anak muda banyak yang ke sana,” kata mereka seraya tertawa.
Adanya ular-ular tersebut belum banyak diketahui oleh orang Kabupaten Bima. Akhirnya pulau Nisa Kapa ioni dijadikan obyek wisata minat khusus. Nantinya, untuk memudahkan naik ke atas pulau tersebut yang tingginya 15-20an meter akan disiapkan tangga. Sebab, sekarang ini mereka seperti pemanjat tebing. Juga kalau mengelilingi pulau tersebut di bawah. Di beberapa tempat juga merayap di dinding batu bila tidak ingin berbasah-basah di laut yang dasarnya tajam karena batu-batu karang dan adanya kulit tiram.
Perjalanan ke Nisa Kapa
Selama ini Bima dikenal sebagai daerah transit wisatawan mancanegara yang hendak bepergian ke Taman Nasional Komodo. Para wisatawan umumnya datang dari Bali menggunakan pesawat terbang. Dari Bima, selanjutnya menggunakan kapal pesiar atau kapal feri ke Komodo melalui Pelabuh Sape.
Tetapi para wisatawan petualang menumpang kapal pesiar dari Benoa Bali sehingga banyak menyinggahi pulau-pulau wisata mulai dari Gili Trawangan, Meno, Air di Lombok kemudian menuju pulau Moyo di Sumbawa dan Satonda di Dompu dan juga Gili Banta untuk melakukan penyelaman ataupun snorkeling mengamati indahnya alam laut.
Kalau hendak ke Nisa Kapa, pertama-tama apabila berangkat dari kota Bima, tujuan terdekat dan jalannya relatif baik adalah jalur selatan melalui Sape. Jaraknya 42 kilometer yang bila mengendarai kendaraan sendiri waktu tempuhnya satu jam. Demikian pula rute Sape-Pai sejauh 35 kilometer bisa ditempuh dalam waktu satu jam. Tetapi kalau menggunakan bis umum, waktunya relatif lebih lama dan ongkosnya sekitar Rp10 ribu. Jalannya berliku-liku dan penuh tanjakan dan turunan.
Sedangkan jalur utara, lebih jauh jaraknya karena Bima-Wera waktu tempuhnya dua jam dan selanjutnya ke Pai sekitar satu jam. Tetapi jumlah bus jalur utara lebih banyak dibanding jalur selatan.
Untuk mendatangi Nisa Kapa jangan lupa mengenakan sandal jepit atau sepatu karet lainnya. Sebab, apabila tidak akan merasa sakit berjalan di atas batu karang di pinggiran pulau tersebut. Bahkan, kemungkinan luka robek kulit atau telapak kaki sebab adanya tiram.
Obyek wisata lainnya.
Di sekitar Nisa Kapa terdapat Sangiang Pulo. Di sebelah utara, terdapat gunung api yang masih aktif. Jarak Nisa Kapa ke Sangiang Pulo sekitar tiga jam menggunakan perahui moto. Adapun gunung api Sangiang di Sangiang Pulo tersebut, terletak di Kecamatan Wera. Sekitar 60 kilometer utara kota Bima. Wera memiliki hutan tropis di sisi jalan, pantai indah yang berlatar belakang perkebunan kacang, pasir putih, air murni, selancar dan renang. Di Sangiang Pulo terdapat rusa, kerbau, dan kuda liar.
Gunung api Sangiang, memiliki ketinggian 1.842,05 meter. Luasnya 215 kilometer persegi. Pendakian dimulai dari desa Toroponda yang bisa ditempuh menggunakan perahu motor selama 1,5 jam dari daratan Wera. Pendakian ke puncak Doro Api memerlukan waktu tempuh sembilan jam.
Jalur yang bisa dilalui dari arah selatan mengikuti pinggir sungai (Sori) Mbere alu menyeberang ke Sori Miro melalui Wadu Pela Ma Awa, Wadu Pela Ma Ese kemudian mengikuti Sori Miro sampai puncak. Untuk melihat alir larva yang ke luar dari puncak Doro Api yang mengalir ke arah timur melalui lembah Sori Berano dan Sori Oi, dapat ditempuh dari arah utara (kampung Oi Menanga atau Doro Dungga) ke arah selatan atau dari arah timur (kampung Sempa Seda) ke arah barat. ”Namun dari arah ini sangat sulit untuk mencapai puncak karena harus melalui lembah (jurang) yang sangat dalam dan terjal,” ujar Wakil Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Heryadi Rachmat. Sedangkan untuk mengamati hasil endapatan awan panas dan lahar pada lembah Sori Usu hasil letusan 1997 dapat dilihat langsung dari pantai sebelah barat.
Sedangkan di sebelah timur terdapat pulau Gili Banta yang memiliki keindahan alam bawah lautnya. Jarak kedua obyek wisata alam ini juga sekitar tiga jam perjalanan laut.
Sedangkan wisata bawah air diantaranya terumbu karang yang warnanya bisa berbeda violet dan hitam di Gili Banta sudah menjadi salah satu tujuan kapal perahu pesiar yang pada musim liburan, hampir setiap minggu didatangi wisatawan. Gili Banta Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat ini berdekatan dengan pulau Komodo yang masuk wilayah Nusa Tenggara Timur.
Di Kabupaten Bima kawasan wisatanya dibagi tiga. Yaitu kawasan wisata alam gunung Tambora, wisata alam laut Teluk Bima dan Teluk Sape. Di Teluk Bima terdapat peninggalan masa lalu, situs Wadu Paa atau batu bertulis yang dipahat untuk sembahyangan kepercayaan mereka sebelum Islam. Sekitar empat kilometer di selatan di mulut Teluk Bima ada benteng Asa Kota terbuat dari batu besar yang disusun seluas lima hektar, kemungkinan adalah peninggalan zaman Belanda.(supriyantho khafid)


