Lombok Sumbawa Online
Jual Fiber Optic Link IIX untuk Seluruh Indonesia
FULL FO sampai pelanggan, cocok untuk korporat, game online, isp dll.
tarif: 1 Mbps=13jt, 2Mbps=15jt, 4Mbps=20jt, 6mbps=26jt, 10Mbps 35jt per-bulan.
kami juga menyediakan bandwidth internasional 10jt/Mbps per-bulan
info lebih lanjut hubungi : 081353570001
Google
 
Wednesday, 3 October 2007 • PARIWISATA

Tak seperti biasanya, kedatangan penumpang dari sebuah pesawat yang mendarat di bandara Brang Biji di Sumbawa Besar dijemput langsung oleh mobil di mulut pintu pesawat. Sebuah mobil Mercy dan Toyota Kijang langsung memasuki landasan merapat di bawah pesawat turboprop Nugrasanta B 350 PK NSI milik Ponco Sutowo, Senin pagi 16 Agustus 1993, sekitar pukul 11.42.

Penumpangnya ternyata memang istimewa. Waktu itu Lady Diana bersama 11 orang anggota rombongannya - tiga orang lainnya wanita sebaya dan lainnya adalah pengawalnya. Selanjutnya, Lady Diana menumpang kapal cruise Aman XI ke pulau Moyo.

Ada apa sih di sana, kok sampai menarik perhatian Lady Diana untuk mendatanginya. Ini tak lain, adanya sebuah hotel yang unik beratap tenda di kawasan taman buru dan taman laut pulau Moyo. Hotel tersebut, Amanwana Resort yang dibangun oleh PT Moyo Safari Abadi (MSA) merupakan hideaway resort, jauh dari keramaian dan tersembunyi sehingga tidak terganggu. Sebagaimana tamu eksklusif yang dilindungi, tamu yang rileks di situ tidak diusik oleh orang lain. Di sana, mereka bisa melakukan aktivitas berenang, menyelam, tracking dan menikmati kicauan burung. Resort ini untuk mereka yang ingin menikmati keindahan dan ketenangan pulau Moyo ini.

Apa dan bagaimana Moyo ini sampai didatangi Lady Diana, Pangeran Willem dari Belanda, dan beberapa pangeran dan ratu asal negeri di Eropah juga mengunjunginya. Waktu itu, menurut saksi mata, Lady Diana yang rumah tangganya dengan Pangeran Charles sedang mengalami masalah datang ke Moyo dengan wajah murung dan mata sayu. Di sana, ia selama dua malam tiga hari tidur di sebuah kamar beratap tenda - tent room - di pinggir pantai. Berenang di laut, di sungai dan menikmati suara kecipak air laut, burung yang bersiul di pagi hari, dan langkah kaki rusa yang turun berkeliaran di malam hari, membuatnya senang. Ia berenang dan menikmati sunset. Cantik sekali dan tampaknya menikmati. Ia kembali pulang dengan mata yang bersinar.

Pulau Moyo, berdasarkan SK Menteri Kehutananan Nomor : 308/Kpts-II/1986 tanggal 29 September 1986 ditetapkan sebagai taman buru dan taman laut. Sebelumnya adalah kawasan suaka alam dan margasatwa. Setelah alih status, MSA diberikan hak pengusahaan hutan wisata.

Luas pulau Moyo adalah 30.000 hektar. Panjang pulau ini dari selatan ke utara sejauh 27 kilometer dan dari barat ke timur sekitar 8 hingga 20 kilometer. MSA memperoleh hak pengusahaan pariwisata alam di dalam taman buru tersebut seluas 12.000 hektar. Luas taman buru seluruhnya 22.250 hektar dan luas taman laut seluruhnya 6.000 hektar.

Pulau Moyo merupakan pulau karang yang mempunyai topografi yang datar di bagian selatan dan tengah serta bergelombang berbukit di bagian utara. Bukit tertinggi mencapai 600 meter di atas permukaan laut. Sebagai taman buru, Moyo memiliki potensi satwa liar yang sangat tinggi. Rusa, babi hutan, sapi liar (banteng), kera abu-abu, burung gosong yang telurnya besar dan bila bertelur ia pingsan, ular dan kupu-kupu.

Oleh Departemen Kehutanan, MSA diberikan izin hak pengusahaan hutan wisata alam selama 30 tahun. Di Moyo terdapat tiga sentra yang dibuka oleh MSA. Pertama, yaitu di Gedal Brang Sedo untuk yang mewah tadi. Amanwana Resort adalah akomodasi untuk kelas menengah ke atas, menempati areal 50 hektar daratan dan 5 hektar laut. Kedua, akomodasi untuk wisatawan kelas menengah ke bawah di Ai Manis. Sedangkan yang ketiga di Tanjung Pasir adalah pusat perburuan.

Di sekitar depan perairan Gedal Brang Sedo, terdapat taman laut yang indah. Di sana bisa dilakukan penyelaman malam hari dan Wreck Dive - yaitu menyelam di sekitar lokasi tenggelamnya kapal Jepang pada zaman Perang Dunia ke-2 yang dipenuhi ikan hias. Wreck Dive berada di lokasi sekitar 30 menit menggunakan boat dari Gedal Brang Sedo. Selain itu, sekitar 100 meter di depan hotel tersebut, terdapat karang laut membentuk dinding setinggi 10-30 meter dan bentangannya 20 meter.

Sesuai hasil ekspedisi Pulau Moyo yang dilakukan LIPI selama 3 minggu 17 September-7 Oktober 1993, di Ai Manis terdapat paparan terumbu karang yang panjangnya lebih dari 3 kilometer dan lebarnya dari garis pantai ke arah tubir, 60 meter. Belum lagi yang ada di perairan sekitar Moyo lainnya. Seperti di Brangkoa, Sebotok dan Satonda. Lereng terumbu yang hampir tegak lurus sampai di kedalaman lelbih dari 40 meter. Pada dinding terumbu yang tegak lurus terdapat gua-gua kecil yang menarik.

Di sana pun ada air terjun Mata Jitu. Untuk kesana, apabila dari Gedal Brang Sedo, menggunakan motor boat yang mesinnya 80 PK waktunya 30 menit menuju Labuan Aji. Ini desa pemukiman penduduk setempat. Dari sini ke Mata Jitu jaraknya kira-kira 7 kilometer. Lady Diana menggunakan jeep terbuka, sekitar 15 menit. Bila berjalan kaki sekitar satu jam ke Mata Jitu. Jalan ke air terjun tersebut melewati hutan semak yang kering pada musim kemarau.

Di lokasi air terjun tersebut cukup teduh. Suhu air sedang-sedang saja. Tidak terlalu dingin. Air terjun sendiri hanya puluhan meter saja tingginya. Namun di bawahnya, ada tiga tingkat dasar sebelum air mengalir ke alur sungai di bawahnya.

Moyo memiliki potensi satwa liar yang sangat tinggi. Rusa, babi hutan, sapi liar (banteng), kera abu-abu, burung gosong yang telurnya besar dan bila bertelur ia pingsan, ular dan kupu-kupu. Floranya, selain adanya padang savana yang cukup luas, juga terdapat pohon tegakan besar yaitu Suren, Kesambi, Kuken, Asam, kayu Batu, Binong, Laban, Beringin dan lainnnya. Taman lautnya selain keindahan karangnya, juga adanya ikan hias seperti dakocan, loreng botana kasur, moris idel, sersan mayor disamping adanya ikan lumba-lumba, tenggiri, kakap, beronang, udang, cumi-cumi.

Adanya taman buru ini dikaitkan dengan upaya hidup sehat satwa dan lingkungannya. Dari 22.250 hektar taman buru tersebut, 10 ribu hektar lebih separuhnya adalah zona inti yang tidak boleh diganggu oleh siapapun - berupa hutan yang tidak memberi kehidupan pada rusa dan banteng karena pohonnya tinggi. Sedangkan lahan yang diizinkan untuk MSA adalah 12 ribu hektar merupakan safana tempat ketergantungan hidupnya satwa buruan tersebut.

Hasil penelitian Pusat Studi Lingkungan Universitas Mataram (PSL Unram), tahun 1990, untuk menyiapkan amdal (analisa mengenai dampak lingkungan) untuk MSA, populasi Rusa sekitar 3.000-an. Sapi murni yang disebut-sebut seperti banteng atau sapi liar lebih dari 1.000 ekor. Satwa tersebut, diperkirakan sudah bertambah. Babi hutan, karena terlalu banyak bisa dikatakan telah menjadi hama maka bisa diburu setiap waktu.

Idealnya setiap dua hektar lahan untuk seekor banteng saja. Berarti, pada lahan yang dikuasai MSA tersebut untuk 6.000an ekor. Belum untuk rusanya. Setiap dua hektar untuk tiga ekor rusa. Kalau untuk kedua satwa tersebut berarti idealnya luas lahan seluruhnya untuk untuk sejumlah 1.500 ekor banteng dan 4.000 ekor rusa. Kelebihan dari jumlah tersebut yang diizinkan untuk diburu.

Berburu disini diartikan sebagai hunting game. Satwa yang bisa diburu adalah yang telah mencapai usia lanjut. Jadi kalau dikatakan kenapa tidak dikirim ke tempat lain kalau jumlahnya berlebihan, tidak mungkin. Sebab, yang boleh ditembak itu yang menunggu mati saja. Kalau dipindah ke kebun binatang nggak ada gunanya. Ibaratnya pohon yang mmau mati yang bisa ditebang. Disebut memetik panen - culling. Apa yang hidup toh pasti mati. Perburuan ini terkontrol. Dihitung kuotanya. Yang dinilai tidak produktif.

Berdasar perhitungan PSL Unram, waktu itu dikatakan oleh ketuanya Abdullah MT (almarhum), pada lima tahun pertama hanya bisa dilakukan oleh 20 orang pemburu. Pada tiga tahun pertama, setiap pemburu mendapat jatah empat ekor rusa. Sedangkan jatah tembak banteng hanya dua ekor. Untuk babi hutan dijatahkan setiap pemburu bisa menembak lima ekor.

Jumlah yang bisa dijadikan sasaran buru dihitung dari jumlah populasi dibanding luas ruang. Kelebihan jumlah tersebut yang boleh dijadikan sasaran buru. Dan yang diperkirakan akan mati meski tidak sakit. Berdasar hitungan populasi dan luas ruang tersebut, maka diperhitungkan dalam setahun maksimal sejumlah 100 hunter bisa datang ke Moyo dengan jumlah maksimal buruan 200 ekor. Namun juga akan dilakukan penangkaran.

Selanjutnya sesudah lima tahun pertama, setiap tahunnya diperhitungkan bisa dilakukan perburuan oleh 100 orang pemburu. Tetapi kalau jatahnya sesuai sensus berkurang ya sasarannya dikurangi. Seandainya jumlah pemburu cukup banyak, maka sesuai program penangkaran, hasilnya itu yang dilepaskan. Untuk menjaga populasi satwa buru tersebut, harus disiapkan penangkaran insitu dan exsitu di timur area Amanwana Resort, serta restocking. Penangkaran insitu adalah hewan liar yang ada dipelihara semi dikandangkan dibiarkan berkembang alami. Penangkaran exsitu dengan cara tidak alami, dari mani alam tapi intensif. Kalau restocking yaitu mendatangkan dari luar daerah.

Pemburu yang bisa datang adalah pemburu professional yang memiliki izin berburu dan izin senjata. Bukan pemburu daging tetapi pemburu tropi. Yang dimaksud tropi adalah kepala binatang yang berhasil diburunya, membawa kepuasan batin pemburunya. Medan dan sasaran buru di Moyo cukup bagus. Yang jadi andalan di Moyo ini, adalah banteng. Di dunia lain tidak ada.

Berlibur ke Moyo ini cocok bagi mereka yang mengalami frustrasi. Di sini, mereka bisa menemukan ketenangan batin. Pengelolaan pulau Moyo ini sebagai ekotourism - pariwisata yang berwawasan lingkungan. Mereka yang selama ini dikelilingi hutan beton pencakar langit dan kebisingan kota besar, memerlukan tempat yang sepi. Kalau di rumah asalnya mungkin belum pernah dengar suara burung, di sana back to nature - kembali ke alam. Membaur dengan alam, suara burung yang membangunkan dari tidurnya, atau suara elang laut yang menerkam ikan dan rusa yang bergerombol di malam hari.Setelah pulang dari sini, pada diri mereka tenteram dan penuh kedamaian. Karena, seperti Lady Diana yang kembali ke negerinya dengan wajah yang segar dan mata bersinar.(supriyantho khafid)

Ke Moyo
Sekarang ini, Sumbawa bisa dijangkau menggunakan penerbangan dari Denpasar dan Mataram dua kali seminggu, hari Kamis dan Ahad. Atau kalau mau melakukan perjalanan darat, melalui Mataram menggunakan kapal penyeberangan feri setiap jam dari pelabuhan Kayangan-Lombok ke Poto Tano-Sumbawa. Dari Poto Tano ke kota Sumbawa sekitar dua jam perjalanan darat.

Untuk menuju pulau Moyo ini bisa dijangkau dari pelabuhan Badas di kota Sumbawa Besar, atau dari dusun Ai Bari sekitar 20 kilometer arah timur dari ibukota kabupaten Sumbawa tersebut. Belum ada penyeberangan secara tetap menghubungkan pulau tersebut. Hanya ada sampan-sampan nelayan yang bersedia membantu wisatawan yang hendak ke Moyo.

Untuk ke Moyo ini ada beberapa tempat berlabuh. Khusus tamunya Amanwana Resort di Gedal Brang Sedo dari pelabuhan Badas di daratan Sumbawa, menggunakan transportasi internal hotel sekitar satu setengah jam.

Untuk tujuan Tanjung Pasir - yang biasa disinggahi kapal wisata setiap minggu dari Bali mengangkut wisman yang singgah beberapa jam sepulangnya dari pelayaran wisata Komodo - waktu tempuhnya satu jam atau hanya sekitar 20 menit dari dusun Ai Bari di daratan Sumbawa.

Namun, tidak sepanjang tahun pulau Moyo bisa dikunjungi. Ini disebabkan musim barat yang cukup berat untuk dihadapi kapal penyeberangan yang ada di sana.(supriyantho khafid)

Amanwana Resort
Amanwana Resort ini dibangun oleh PT.Moyo Safari Abadi yang direktur utamanya waktu itu (kini sudah almarhum) Lalu Manambai Abdul Kadir - Laksamana Madya (pur) Angkatan Laut RI dan bekas duta besar di Tanzania-Zambia (1974-1978), mantan Panglima Armada (sebelum dibagi wilayah barat dan timur), (1974-1978) dan mantan sekjend Departemen Perdagangan.

Abdul Kadir, putra daerah keturunan bangsawan Sumbawa, bekerja sama dengan pengusaha hotel Aman Group warga negara Belanda kelahiran Sukabumi Adrian Zecha yang tinggal di Hongkong. Didirikannya MSA, timbul dari pengalaman Abdul Kadir selama ratusan malam berburu dan bermalam di bawah tenda ketika di Afrika itulah. Ide membangun wilayah perburuan dan akomodasinya muncul dari diri Kadir yang menyebutnya sebagai proyek prestise bagi daerah kampung halamannya.

MSA membangun 20 guest shelter beratap tenda kemah tersebut di tengah hutan tropis. 11 tenda di pinggir pantai (disebut beach tent) dan 9 tenda di sebelah dalam (junggle tent). Terletak pada areal resort hotel seluas 50 hektar di Gedal-Brang Sedo, kedua puluh guest shelter tersebut dilengkapi bangunan restoran, administrasi, diving center dan perumahan karyawan. Kecuali guest shelter, bangunan pendukung hotel tersebut beratap khas rumah tradisional Sumbawa terbuat dari kepingan bambu.

Sebagai hotel mewah beratap tenda kemah, Amanwana Resort ditangani jaringan hotel Aman-Hongkong, seperti juga Amandari-Ubud dan Amanusa-Nusa Dua, Amankila, Amanpuri-Thailand. Tempat tidur diletakkan di tengah-tengah ruangan. Rangka tempat tidur yang berukuran sekitar dua kali dua meter adalah kayu. Tingginya dari lantai sekitar 20 senti dan tebal kasurnya Airland sekitar 30 senti. Di lantai papannya dibeber lampit rotan. Di depan tempat tidur yang lurus dengan pintu masuk depan ditempatkan sebuah meja kayu bulat. Sedangkan di belakang tempat tidur adalah sebuah meja kerja berukuran panjang tiga meter dan lebar 80 senti yang bahannya juga kayu dan memiliki beberapa buah laci.

Di kamar ini terdapat dua sofa yang memanfaatkan kedua pojok ruang kiri kanan dari bagian depan tempat tidur. Baik sofa maupun tempat tidur dilengkapi bantal guling yang dibungkus kain cotton tebal warna putih seperti blaco zaman dahulu. Kalau kita duduk di sofa maupun berbaring di tempat tidur tadi, apabila kain pelapis dinding yang juga seperti blaco tadi dibuka, akan terlihat lingkungan hutan sekitarnya.

Di bagian belakang, kurang lebih dua pertiga dari guest shelter ini, adalah dua buah almari pakaian gantung dan rak yang terletak di kiri dan kanan ruangan. Berhadapan dengan dinding belakang yang merupakan tempat dipasangnya dua buah wastafel dan kacanya, adalah sebuah meja hias terbuat dari marmer berkaca tinggi yang seperti wastafel tadi, di sekitarnya dominan papan kayu sebagai bingkainya. Sedangkan kamar mandi shower dan WC yang masing-masing berukuran kecil terletak di pojok kiri dan kanan bagian belakang guest shelter tersebut.

Seperti yang telah disebutkan bahwa guest shelter ini menggunakan atap tenda dari kain tebal berwarna blaco buatan Amerika Serikat - harganya sekitar 30 ribu dolar. Tetapi sebagaimana ruangan bangunan yang dilapis plafon, guest shelter ini juga memakai kain tenda tersebut sebagai plafon. Jadi tidak langsung atap yang terlihat. Artinya, tenda kemah tersebut memang berlapis dua, satu sebagai atap dan satunya sebagai plafond. Tinggi dinding kamar 1,88 meter. Tetapi di bagian tengah sesuai bentuk tenda kemah yang menjulang ke atas, tinggi plafonnya sekitar empat meter.

Pada bagian luar guest shelter ini, sekelilingnya berlantai papan selebar satu meter setelah di pinggir dinding, terbuat dari tembok bata tersedia buk memanjang untuk duduk santai terdiri dari tiga trap.(supriyantho khafid)

No Comments »

No comments yet.

Leave a comment








Recent Comments
» DHC MULAI BUKA POSKO RELAWAN PALESTINA
01/08/2009 04:18 am | 1 Comment
» PEMPROP NTB BANTU DANA SKRIPSI 3.000 MAHASISWA
01/07/2009 04:20 pm | 3 Comments
» PERTUMBUHAN PENDERITA HIV/AIDS NTB 5 BESAR NASIONAL
01/06/2009 04:33 pm | 1 Comment
» ENAM TAHUN ANTRIAN CALON JEMAAH HAJI NTB
01/05/2009 02:27 pm | 1 Comment
» GUBERNUR NTB PIMPIN AKSI SOLIDARITAS UNTUK PALESTINA
01/05/2009 01:08 pm | 2 Comments
Lomboknews.com - 2007 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com | busby seo challenge