Siang hari di sepanjang pantai timur pulau Gili Trawangan, bagaikan pantai negeri asing karena hampir semuanya orang asing yang wanitanya mengenakan bikini bahkan diantaranya melepas BHnya. Kelakar muncul menyebutkan bahwa meskipun menghadapi musim kemarau panjang tetapi di daerah ini banyak dijumpai ”Sumur”. Ini joke untuk bule-bule yang tanpa bra berjemur di pinggir pantai.
Di sepanjang pantai, ratusan wisatawan mancanegara berbaring berjemur. Sebagian lainnya, bermain pukul-pukulan bola menggunakan papan berbentuk bet ping pong. Ada pula sejumlah puluhan lainnya turun naik perahu motor mendatangi lokasi karang laut dan melakukan penyelaman. Sedangkan di pelabuhan, perahu motor datang dan pergi memuat wisatawan yang baru datang dan hendak meninggalkan kawasan wisata itu.
Pohon-pohon cemara dan akasia meneduhi jalanan tanah yang mengelilingi pulau tersebut. Penginapan milik penduduk, losmen, cottage, bungalow hotel berbintang dan cafe-cafe berjajar. Itulah suasana sehari-hari di pulau wisata Gili Trawangan, sekitar 30 menit penyeberangan dari Bangsal Pemenang di utara Lombok Barat.
Kepariwisataan Lombok memang mendapatkan berkah dari posisinya diantara segi tiga emas pariwisata yang menguntungkan untuk bisa majunya pariwisatanya. Di sebelah barat daerah ini adalah Bali yang disebut sebagai pulau kembarnya Lombok. Di sebelah timur adalah pulau Komodo-Nusa Tenggara Timur yang memiliki satwa langka dunia Komodo. Dan di utara adalah Tanah Toraja yang terletak di Sulawesi Selatan.
Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Lombok dan NTB, umumnya datang dari Eropah. Khususnya dari Jerman dan Belanda. Dan memang, turis-turis Eropah sekarang ini cenderung dalam rangka Go Back to Nature mencari daerah-daerah yang suasananya masih alami dan sepi. Untuk lebih mendekatkan diri dengan alam.
Ada tiga pulau kecil, yaitu Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air yang memiliki pantai pasir putih dan taman laut - karang dan ikan hiasnya beraneka warna. Gili Trawangan terbanyak didatangi wisatawan. Gili Trawangan, memang pilihan utama wisatawan mancanegara yang datang berlibur ke Lombok. 20 persen dari lebih 100an ribu setahunnya, memilih berkunjung ke Gili Trawangan. Ini terjadi sejak Lombok-Nusa Tenggara Barat muncul sebagai daerah tujuan wisata yang berkembang pesat.
Di utara Gili Trawangan, bisa melihat kelompok ikan hiu yang tidak ganas. Bisa pula melihat rumah ikan hiunya yang ditemukan sampai delapan ekor sedang tidur pada kedalaman 80 feet. Di sebelah timurnya terdapat Sponge point atau Sponge garden. Seakan berada di sebuah taman yang dipenuhi berbagai jenis biota karang yang bentuknya seperti corong atau yang lainnya.
Sebagai alternatif penyelaman, di sekitar Gili Meno, terdapat Meno Wall tapi tidak terlalu terjal. Karang lautnya memang banyak dan tidak terlalu dalam. Ikan hiasnya pun bagus dan banyak. Ada macam- macam musim Napoleon - seperti Kerapu, Kura-kura, Manta (pari) - banyak. Ikan Napoleon yang bisa dijumpai bulan Mei-Juni ini disenangi wisatawan Jepang.
Jika ingin menyeberang ke Gili Trawangan, bisa menumpang boat Koperasi Jasa Angkutan Wisata Bahari di Pelabuhan Bangsal Pemenang, 25 kilometer arah utara dari kota Mataram. Tarifnya, per orang sekali jalan Rp6 ribu atau bila mencarter sekali jalan Rp115 ribu.
Di pulau yang jarak kelilingnya 7,3 kilometer ini bisa dijelajahi selain berjalan kaki juga menggunakan angkutan tradisional Cidomo. Ongkosnya Rp35 ribu untuk tiga orang penumpangnya. Ada sejumlah 32 Cidomo yang melayani wisatawan di sana. Kalau jarak dekat ongkosnya sekitar Rp3-5 ribu. Biasanya, wisatawan yang datang menumpang cidomo tersebut dari tempat pendaratan ke hotel yang akan diinapinya. Di pulau Gili Trawangan yang berpenduduk 315 kepala keluarga ini, ada sekitar 700an kamar penginapan.
Riwayat Gili Trawangan
Semula pulau Gili Trawangan yang luasnya 360 hektar tersebut dibuka untuk lahan pertanian agar tidak lagi menjadi sarang nyamuk dan dapat dihuni oleh penduduk. Lahan seluas 100 hektar sebelah timur utara dan 100 hektar di sebelah timur selatan dikuasai dua perusahaan. Sedangkan di sebelah barat utara disiapkan untuk masyarakat. 60 hektar di sebelah barat selatan merupakan bukit.
Sekitar tahun 1974, di kawasan timur utara mulai ditanam pohon kelapa dan dua tahun kemudian tumbuh setinggi satu meter. Namun dalam perkembangannya kurang berhasil. Tahun 1976, masyarakat masuk ke Gili Trawangan dan menduduki bagian yang telah disediakan. Kemudian, wisatawan terutama dari mancanegara banyak berdatangan ke kawasan HGU ini dan menjadikannya sebagai resort wisata.
Pemda NTB menetapkan kebijakan tata ruang pulau tersebut sebagai kawasan sarana rekreasi bahari setelah dilakukan studi teknis Deparpostel pada bulan Maret 1990. Gili Trawangan, sesuai hasil studi teknis Departemen pariwisata Pos Dan Telekomunikasi yang dilakukan akhir Maret 1990 bahwa peruntukan tanah di tiga gili yaitu Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan diarahkan kepada sarana rekreasi bahari. Adapun fasilitas akomodasi masih dimungkinkan.
Pemda NTB sendiri sejak 15 Agustus 1989 sudah menetapkan 15 kawasan wisata se NTB yang sembilan diantaranya ada di Lombok. Termasuk diantaranya penataan kawasan Gili Terawangan itu.(eska)
Gili Air
Kalau ingin relax, cobalah menginap di Gili Air ? pulau kedua di seberang Gili Trawangan. Luas pulau Gili Air 180 hektar. Keliling pulau ini 6 kilometer. Cukup banyak penginapan di sana. Baik yang sederhana maupun yang berpendingin udara.
Laut Flores di utara pulau kecil ini cukup banyak ikan hiasnya berwarna biru dan kuning, merah, putih di dalam lekukan karang. Di antara lahan hotel menambah keasrian taman hotel banyak ditumbuhi pohon Banten, Cemara, Bugenvile, Kembang kertas. Ini memang membuat tamu yang menginap menjadi betah.
Memang pulau ini terkesan sepi. Air laut tenang. Ombak berdebur setelah senja. Ini katanya yang dicari orang-orang asing yang jenuh dengan kebisingan. Di sekitar hotel juga ada kebun milik penduduk. Pohon kelapa yang rindang dan sapi-sapi yang dilepas memakan rumput. Berhadapan dengan Gili Meno ombak berdebur menghantam batu karang.
Sua waktu, Daniella Maur yang berdua dengan pasanganya semula rencananya akan menginap 4 hari di sana. Daniella sambil memegang buku bacaan - kebiasaan wisman mengisi waktu liburnya ? mengaku menambah liburannya dua hari di sana.(eska)
Gili Nongol
Ada pulau baru di utara Lombok. Namanya Gili Nongol. Sebutan ini diberikan oleh Harun Al Rasyid - waktu itu, 2001 - Gubernur Nusa Tenggara Barat. Luas daratanya hanya sekitar setengah hektar, tidak berpasir. Lokasinya berada 100 meter di utara kawasan wisata pulau Gili Air. Munculnya pulau ini, sewaktu terjadi gelombang besar Februari 2001.
Lokasi pulau itu dulunya kedalamannya sekitar satu meter di bawah permukaan air. Tetapi sekarang kedalamanya sekitar satu meter di atas permukaan laut. Untuk ke sana, bisa berjalan kaki apabila air surut. Sebab, dulu memang perairan di situ dangkal.
Harun Al Rasyid yang memandang dari kejauhan Gili Nongol yang kelihatan putih tersebut, setuju nama itu digunakan. ”Ya Gili Nongol bolehlah digunakan,” katanya.
Sekarang, Gili Nongol sering dijadikan tempat beristirahat nelayan dan pemancing untuk berjemur bila kedinginan. Di sekitar perairan itu juga bagus taman lautnya. Meskipun muncul kagetan, penduduk tidak merasa aneh karena dinilai sebagai kejadian alam saja.
Sekretaris Daerah NTB Nanang Samodra Kusuma ? yang latar belakang pendidikannya sarjana geodesi, menyebut kemunculan pulau itu bukan akibat kejadian luar biasa tetapi sebagai adanya tumbukan karang. Di Lombok memang banyak muncul pulau baru. Kalau semula tahun 1980an tercatat 101 pulau di NTB kini telah menjadi 124 buah.(eska)
Konservasi penyu
Selama ini tidak banyak yang tahu, di salah satu bagian di pinggir pantai timur Gili Trawangan tersebut ada upaya untuk menetaskan telur-telur dan membesarkan penyu hingga waktunya dilepaskan. Di sana, tepatnya di seberang Caf‚ Dino, Zainuddin, 40 tahun, pemiliknya, seorang warga yang hanya tamatan Sekolah Dasar peduli penyu.
Ia menggunakan peralatan sederhana berupa kotak plastik dan baskom memelihara sembilan ekor penyu sisik (Eretmochelys Imbricata). Kelak, sekitar Agustus-September, apabila penyu-penyu itu sudah berusia delapan bulan atau panjangnya sudah mencapai 25 senti meter akan dilepasnya ke perairan. Kini, menggunakan biaya sendiri, dari usaha cafe dan tiga kamar bungalow yang dimilikinya, setiap harinya ia harus memberi makan tiga ons daging ikan untuk setiap ekor penyu sisik setiap harinya.
Tidak itu saja. Sehari tiga kali harus pula mengganti air menggunakan air laut. Berjarak sekitar 20 meter ia harus mengangkut 40-50 ember. Karena itu, Zainuddin menyebut celananya belum kering dari tumpahan air pengganti pertama sudah pula melakukannya ulang. Mesin pompa air yang pernah dimilikinya rusak sehingga tidak dapat menggunakannya untuk mengalirkan air dari laut itu. Kini ia sedang membuat sebuah kolam pemeliharaan penyu menggunakan batako Berukuran tiga kali 1,5 meter dan tingginya 50 senti. Dibiayai oleh pasangan wisatawan asal Selandia Baru John dan Veny menyumbang Rp5 juta. Kelak dilengkapi mesin pompa yang dihubungkan pipa paralon sepanjang 20 meter dari laut.
Kemudian, selama dua hari berturut-turut Ahad-Senin (3-4 Juli), lalu dari asal lokasi yang berbeda datang pula ratusan telur penyu. Pertama, sebanyak 103 butir telur penyu didapatnya dari warga Nipah di daratan Lombok. Uang pengganti harga telur itupun sebanyak Rp150 ribu harus merogoh kantongnya sendiri. Kemudian datang lagi yang lain membawa 83 butir yang digantinya dengan uang Rp100 ribu. Setahun musim bertelur penyu dimulai Nopember setiap 12-15 hari hingga 6-7 kali naik ke pantai untuk bertelur. Lokasinya adalah yang alami, sunyi dan tidak berbau parfum dan manusia.
Zainuddin, yang beristrikan Saida dan telah memberinya tiga orang anak, sudah dikenal oleh pihak World Wide Fund for Nature Bali maupun Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat. Zainuddin sendiri bersyukur bahwa meskipun daerah tujuan wisata lainnya Senggigi-Gili Air dan Gili Meno di Lombok mengalami penurunan angka kunjungan wisatawan, Gili Trawangan tetap banyak dikunjungi. ??Mereka lebih banyak ke sini karena suasananya yang lebih alami dan familiar,?? kata Zainuddin. Karena itu, ia memilih melakukan penetasan telur penyu dan memelihara untuk menggantikan karang-karang dan ikan hias yang terancam musnah diburu.
Ceritanya ke penyu setelah selesai proyek maka pencari dibayar dengan uang sendiri dipelihara sesuai kemampuan. Setahun 3-4 sarang dibayarnya. Kalau tidak ada uang dibawanya ke Ernest di Gili Air. Saya tampung dengan alat sederhana. Berhenti pakai keramba menggunakan baskom. Tidak ada pekerja pemberi makan daging ikan. Seharinya memerlukan rata-rata per ekor tiga ons daging ikan usia hingga sebulan. Seterusnya lipat dua kali sewaktu usia 1-2 bulan dan pada usia delapan bulan dilepasnya. Selama ini Zainuddin sudah melepas 672 ekor penyu yang ditetaskannya sendiri.
Awalnya, Zainuddin memang dibantu Yayasan Kehati Jakarta. Ia menerima dana Rp10 juta lebih untuk melakukan konservasi penyu. Semula ia melakukannya di Gili Air. Dibuatnya kerambah. Setiap tiga sarang telur penyu yang ditemukan di pulau wisata itu, dibayarnya Rp300 ribu. Berapa pun banyaknya telur yang didapat. Hitungannya, sebenarnya setiap sarang dibayar Rp75 ribu, ditambah upah penjaganya dan pemeliharanya Rp25 ribu. Waktu itu, di Gili Air tetap ada penyu yang naik untuk bertelur. Namun, selama kurun waktu 2001-2003 nihil penyu yang naik.
Setelah proyek selesai, ternyata masih tetap ada warga yang membawakan telur penyu. ??Saya kasihan pencari telur dan di Gili Trawangan ini memang perlu contoh tambahan daya tarik,?? kata Zainuddin. Sebab, karang laut pada tahun 1997 habis dibabat El Nino. Sebelumnya pun kena bom ikan, pakai potas oleh nelayan. Demikian pula karang tujuh warna di utara Gili Trawangan habis. Sedangkan karang delapan warna di utara Gili Meno juga hancur. Maka muncullah Gili Nongol dari karang. Seperti pulau di dekat Gili Air yang kemudian disebut sebagai anak Gili Air.
Kehadiran penyu di perairan pulau wisata ini ada kaitannya dengan banyaknya hotel di sepanjang pantai di Bali yang menjadikan penyu banyak yang lari ke Lombok. Tadinya, penyu ini banyak ditemukan di perairan Bali. Namun setelah banyaknya berdirinya hotel-hotel di pinggir pantai, sekarang sangat jarang ditemukan penyu.
Seorang bule peduli penyu Kath Mitchinson dari Reefseekers Dive Centre and Turtle Nursery di Gili Air, pernah mengatakan bahwa karena banyaknya hotel, penyu tidak mau naik ke pantai. ”Maka banyak penyu beralih ke Lombok,” katanya. Ia mengatakannya kepada Gubernur Nusa Temggara Bartat (waktu itu) Harun Al Rasyid sewaktu hendak melepas 12 ekor penyu yang ditetaskan di tempatnya di perairan laut Pantai Sire.
Penyu-penyu itu kini banyak yang bertelur di Pantai Sire dan Teluk Dalam di Kabupaten Lombok Barat. Setidak-tidaknya ada enam jenis penyu antara lain penyu hijau (Chelonya mydas), sisik (Eretmochelys Imbricata) dan tempuyan bisa ditemukan di pantai-pantai yang sepi mulai di perairan Sekotong Lombok Barat, Keruak Lombok Timur, Maluk dan Lunyuk di Sumbawa.
Pelestarian penyu di Lombok, sudah 10an tahun lalu dilakukan di Lombok oleh Kath Mitchinson bersama suaminya Ernest Lewandowksi sekaligus mengenalkan indahnya taman laut di kawasan Gili Indah - yaitu Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan. Harun Al Rasyid yang melepas 12 ekor penyu usia 7 bulan yang telah ditetaskan sendiri dari telur yang dibelinya di pasar. Diharapkan, pada saatnya bertelur mereka kembali ke Pantai Sire.
Ini adalah pengembalian penyu ke habitatnya ke-40 oleh pasangan suami istri asal Inggris selama membuka Reefseekers Dive Centre di Gili Air. Selama sembilan tahun di sana, mereka sudah melepas sejumlah 773 ekor penyu berbagai jenis diantaranya Olive Ridlys, Hawksbill dan Green Turtle.
Pemilihan lokasi pelepasan di pantai wisata yang tidak dijadikan tempat mandi-mandi wisatawan yang berkunjung ke sana. Penyu, ingin mendapatkan pantai yang sepi sebagai tempat bertelur. Namun waktunya sesuai kebiasaan penyu kembali ke tempat asal pelepasannya sekitar 20 tahun kemudian.(supriyantho khafid)


