Lombok Sumbawa Online
Jual Fiber Optic Link IIX untuk Seluruh Indonesia
FULL FO sampai pelanggan, cocok untuk korporat, game online, isp dll.
tarif: 1 Mbps=13jt, 2Mbps=15jt, 4Mbps=20jt, 6mbps=26jt, 10Mbps 35jt per-bulan.
kami juga menyediakan bandwidth internasional 10jt/Mbps per-bulan
info lebih lanjut hubungi : 081353570001
Google
 
Wednesday, 3 October 2007 • PARIWISATA

Sore itu, sekitar pukul 14.30 Waktu Indonesia Tengah. Dua orang pemuda bule masing-masing mengendarai sepeda motor bebek sedang melintas di jalanan yang sepi melalui bukit dan tebing. Dibawanya, papan surfing (selancar). Mereka, adalah dua orang mahasiswa ekonomi asal Munich Jerman Przemek Bower, 24 tahun, dan kawannya Alex Miller, 24 tahun, yang melaju mencari tempat penginapan murah di kawasan Sekongkang Bawah.

Keduanya, baru datang dari Kuta Lombok yang ditempuhnya sejak pukul 10 pagi. Sebelumnya, di Kuta Lombok, ia berlibur dan main selancar selama 3 minggu. Rencananya, di Sekongkang ia berlibur selama dua malam. ??Saya mendengar dari teman dan baca buku adanya lokasi surfing di sini,?? ujarnya. Ia dan Alex selama semester terakhir belajar sebagai mahasiswa pertukaran di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Bali.

Przemek ingin menyoba selancar di pantai Rantung menjajal ombak Yoyo - yang gulungan ombaknya seperti mainan Yoyo. Tidak di Pantai Maluk yang dikenal lokasinya lebih berat disebut Super Suck. ”Saya ingin relax, meditasi, exercise,” ujarnya, setelah mendapat kamar penginapan murah di Hotel Pantai Rantung. Ia mengaku baru 3 tahun berselancar - belajar di Amerika Serikat. Di negerinya, Jerman ia tidak bisa belajar selancar karena di sana tidak ada samudera sehingga dikatakan lautnya tidak ada ombak.

Memang, sepanjang pantai barat dan selatan Kabupaten Sumbawa Barat memiliki potensi sebagai kawasan surfing (selancar) yang diminati peselancar mancanegara. Hamparan pasir putihnya memanjang hingga 25-30 kilometer. Bahkan masuk dalam perhitungan sebagai lokasi dunia karena memiliki tingkat kesulitan tinggi. Mulai dari utara daerah tersebut yaitu di Pantai Jelenge dan Pantai Maluk di Kecamatan Jereweh, seterusnya di belahan selatan yaitu di Pantai Rantung dan Pantai Pesin yang berada di depan Tropical Beach Club spa & resort di Kecamatan Sekongkang. Jarak masing-masing lokasi hanya 5 kilometer terkecuali Pantai Jelenga yang terletak di Kecamatan Jereweh ? sekitar 15 kilometer ? utara dari Maluk. Menuju Sekongkang Bawah, melewati bukit yang ditumbuhi pohon lokal kosambi, asam, dan kayu bertemu.

Lokasi-lokasi selancar di Kabupaten Sumbawa Barat ini selain karena diminati tantangannya juga memang menjadi alternatif baru lokasi setelah Bali dirasakan terlalu ramai. Betapa tidak. Di sini masih sunyi. Peselancar yang datang bukan pada bulan ramai tidak lebih dari sepuluh jari setiap harinya.

Menurut Yayat - seorang karyawati Tropical Beach Club spa & resort di Sekongkang, hanya 1-2 orang yang datang bermain di pagi hari atau petang hari. Itu pun adalah ex patriat yang bekerja di perusahaan tambang PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) - sekitar 9 kilometer dari lokasinya. Tetapi pada hari Sabtu dan Ahad, ketika para ex patriat pekerja PT NNT memiliki waktu libur atau senggang, ada 5-10 orang pun datang berselancar.

Tropical Beach Club memiliki 17 kamar terletak menghadap Samudera Indonesia. Di sana, dua bentang ombak berdebur terpisah sekitar 50 meter yang dijadikan lokasi memainkan papan selancar. Kalau ombak besar, maka dua bentang ombak tersebut menyambung. Di sana, pengusaha asal Malang Yuni White yang bersuamikan pria Australia mendirikan hotel sejak tahun 1999. Malahan, setahun lalu, agar memudahkan wisatawan dari Bali datang, ia membangun sendiri bandara Tropical Air Strip yang bisa didarati pesawat Twin Otter milik Merpati Nusantara Airlines berpenumpang 18 orang.

Joni, 28 tahun, yang tamatan Sekolah Peternakan Menengah (SNAKMA) 1996, asal Karang Bosok Taliwang ? ibukota Kabupaten Sumbawa Besar, sudah 10 bulan bekerja sebagai staf rekreasi di Tropical Beach Club, mengurusi tamu yang berselancar dan kolam renang. Sebelumnya, ia 2,5 tahun menjadi peselancar lokal di pantai Senggigi Lombok. Ia menyebutnya ombak di depan hotelnya tersebut sebagai Tropical Waves. ”Di sini tidak mengerikan. Ombaknya ke kiri. Fun wave. Saya di sini merasa home break,” ujarnya. Sayang sore hari itu, ia sedang mengalami sakit malaria sehingga tidak bisa turun berselancar sejak empat hari sebelumnya.

Ia membandingkannya dengan ombak Yoyo di pantai Rantung ? gerakannya ke kanan yang tidak dapat dipastikan perilaku ombaknya yang cenderung lebih besar, atau ombak Super Suck di Maluk dan ombak Scarred Reef atau luka akibat tergores karang di Jelenga yang hantaman ombaknya bisa membuat peselancar jatuh pada karang sehingga berakibat membuat goresan luka di tubuh. Super Suck di depan pantai Maluk, dikatakan oleh Joni, adalah lokasi peselancar kelas tinggi yang bisa main. ”Di sana bukan level saya. Saya tidak mau ambil resiko,” ujar Joni - mengenai keliaran ombak Yoyo, Super Suck atau Scarred Reef.

Yan Haerudin alias Rock, 29 tahun, karyawan Scarred Reef Surf Bungalow di pantai Jelenga, sewaktu ditemui selesai balik dari lokasi selancar Little Bingin ? mirip Bingin di Bali, di utara Scarred Reef, mengatakan Jelenga sebagai lokasi selancar dikenal sejak 11 tahun lalu atau pada tahun 1984. ”Ombaknya sudah terkenal di dunia selancar internasional. Banyak tantangannya,” kata Rock.

Pagi itu, ia bermain bersama dua rekannya, Lihin dan Den. Ia kemudian menunjuk pinggang dan sikunya yang bergores putih bekas luka terkena karang. Ini akibat dihantam ombak Scarred Reef yang bergeraknya mengarah ke kiri. Tingginya hingga 9-10 meter dan panjangnya mencapai 50 meter.

Di Jelenga, peselancar ramai berdatangan pada bulan April-September. Setahun bisa mencapai 500an orang yang dataing bermain di sana. Selain Scar Reef, dan Little Bingin, juga ada di utaranya, Phantom. Ombaknya keras dan laju, sangat kuat.

Untuk menuju ke pantai Jelenga ini, harus menempuh 25 menit dari jalan utama Jereweh-Benete sejauh 6 kilometer menanjak dan menurun pada jalanan yang sudah dikeraskan dan bahkan sebagian aspal di antara bukit dan kebun. Jelenga bisa ditempuh 50 menit dari Maluk, atau dari kota Taliwang.

Di sana ada dua penginapan yang memiliki masing-masing 12 kamar, tarifnya Rp20 ribu sekamar seorang atau Rp25 ribu untuk dua orang. Kalau musim ramai, tidak dapat menampung peselancar yang datang sehingga mereka harus menggelar tenda sendiri.

Muhsin Bajri - seorang nelayan Kampung Jelenga Desa Beru Kecamatan Jereweh, kalau musim ramai peselancar datang, ia bisa mendapatkan rezeki mengantar ke tengah. Ongkosnya pergi pulang dari pinggir pantai ke tengah lokasi selancar Rp5 ribu. Sehari bisa 20 orang yang diangkutnya. ”Ya bisa Rp100 ribu-Rp150 ribu sehari,” katanya sambil memperbaiki perahunya, untuk persiapan menjelang musim ramai, April nanti. Sedangkan ongkos angkut pergi mancing dipungutnya Rp25 ribu per orang.

Sedangkan di pantai Maluk yang panjangnya 4 kilometer, kawasan tersebut yang terletak di desa Maluk, satu kilometer selatan dari Pelabuhan Benete - kawasan tambang PT NNT, telah dibenahi menggunakan bantuan program pengembangan masyarakat sebesar Rp800an juta. Dulu di tempat bekas base camp perusahaan konstruksi kontraktor PT NNT ini adalah hutan yang banyak babi dan ayam hutan berkeliaran. Di utara ada bukit Mantun dan di selatan bukit Balas. Kini sudah disulap ada berugak berteduh dan kantin tempat makan untuk tamu, atau tempat bermain anak yang semuanya diserahkan pengelolaannya kepada Badan Usaha Milik Desa Maluk. Setelah ini, NNT masih akan menambah lintasan jogging, mushala dan warung.

Untuk keperluan menghidupkan kawasan wisata yang memiliki potensi selancar ini, PT NNT sudah mulai membenahi pantai Rantung yang panjangnya 2 kilometer. Jaraknya 5 kilometer dari Maluk atau waktu tempuhnya sekitar 15 menit. Telah dikucurkan Rp200an juta. ”Kami membantu pembenahan ini agar wisatawan mancanegara itu mau menginap di sana,” ujar Senior Manajer Hubungan Eksternal Malik Salim. Selama ini, para peselancar yang datang dari Bali, tinggal di kapal yang membawanya. Sehingga masyarakat lokal tidak bisa menikmati dampak kehadiran wisatawan. Tetapi kawasan wisata yang bisa dibenahi adalah yang belum dikuasai perorangan sehingga peruntukannya bisa untuk kepentingan publik.

Pantai Maluk, oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dijuluki sebagai surga wisata alam terakhir di belahan bumi selatan. Ketika Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menetapkan Maluk sebagai salah satu kawasan pariwisata pada tahun 1982, tidak terbersit sedikitpun upaya tersebut akan menjadi kenyataan. Kini, setelah 22 tahun kemudian, impian tersebut menjadi kenyataan.

Hamparan pasir putih di sepanjang teluk tapal kuda Maluk, membingkai keindahan perairan Teluk Maluk yang jernih. Sedangkan keindahan terumbu karang dan habitatnya yang tersebar di beberapa pojok teluk.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sumbawa Barat Abdul Razak mengemukakan bahwa semua pantai di daerahnya tersebut memang sudah lama dikenal oleh para agen perjalanan wisata di Bali. Namun, selama ini tidak banyak ditangani oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa - sebelum terbentuknya Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat yang merupakan pemekaran dari daerah tersebut. Selama ini kawasan potensial selancar tersebut terkesan jauh dari kota Sumbawa Besar - ibukota Kabupaten Sumbawa, sekitar lebih 100 kilometer.

Untuk mengembangkan kawasan wisata di daerahnya, Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Djamaludin Malik mengatakan masih dalam tahap menata potensi. Ia mengakui potensi selancar cukup menggairahkan. Juga berkat kepedulian PT NNT yang mengembangkan kawasan Maluk, lembaga desa dan masyarakat pun diuntungkan. Memang ada 10 pengusaha yang memperoleh kesempatan berusaha di sana. Walaupun mereka harus membayar sewa Rp100 ribu sebulan untuk seluruh fasilitas yang diberikan - antara lain lokasinya, air, listrik dan kebersihan.

Misalnya, Lalu Burhanuddin asal Lombok yang bersama mitra lokal Dahlan menyewa dua lokal ukuran masing-masing 3 kali 4 meter membuka kantin bernama Balikpapan di Pantai Maluk. Ia menyediakan ikan bakar - baronang, kakap, kerapu -gado-gado, pelecing dan cap cay.

Berkembangnya pariwisata di sini, tidak lepas dari adanya usaha tambang. Jumlah pekerjanya 4.000an orang diantaranya juga ada ratusan warga asing. Karena itulah, tumbuh fasilitas penginapan untuk mereka yang ingin bermalam di luar kawasan tambang. Lihat saja Yuni White. Setelah mendirikan hotel di Maluk, kemudian juga menyediakan Tropical Beach Club di Pantai Pesin. Sudah lebih puluhan miliar rupiah investasinya mendirikan hotel dan bandara. (supriyantho khafid)

Akses Ke Maluk
Kini Maluk adalah desa yang menjadi tujuan menginap utama di daerah kawasan tambang PT Newmont Nusa Tenggara. Untuk mencapai Maluk, anda dapat menggunakan bus umum dari Terminal Mandalika di Mataram. Perjalanan dari Mataram menuju Maluk dapat ditempuh selama kurang lebih 4,5 jam. Yaitu Mataram-Pelabuhan Kayangan di Lombok sekitar 1,5 jam. Kemudian penyeberangan dari Kayangan menuju Pelabuhan Poto Tano di Sumbawa juga selama 1,5 jam. Kemudian perjalanan darat dari Poto Tano menuju Maluk adalah 1,5 jam. Ongkosnya keseluruhan Rp35 ribu atau apabila ingin beranting, dari Mataram ke Labuan Kayangan Rp10 ribu, ticket penyeberangan feri dari Kayangan ke Poto Tano Rp9 ribu dan Poto Tano-Maluk Rp15 ribu.

Di Maluk, cukup tersedia penginapan murah atau hotel mulai dari yang mahal Trophy, Kiwi, atau Baku Dapa. Sedangkan di lokasi dekat pantai di Sekongkang, adalah Tropical, Yoyo, Pantai Rantung, Mega Arafah. Mengenai tarif penginapan ini, yang termurah di hotel Pantai Rantung yang menjual kamarnya Rp25 ribu untuk tempat tidur single dan Rp50 ribu untuk tempat tidur ukuran besar. Sedangkan di Yoyo yang memiliki 9 kamar tarifnya mulai Rp150 ribu untuk standar, Rp250 ribu (studio), Rp300 ribu (family atau bungalow), dan Rp450 ribu (Villa).

Sarana telekomunikasi pun tersedia dari PT Telkom atau seluler Excelcomindo dan Telkomsel.(supriyantho khafid)

Palopo Makanan Khas Taliwang
Selain adanya minyak Jereweh yang manjur untuk segala penyembuhan - termasuk masalah seksual, di Kabupaten Sumbawa Barat, kita bisa mendapati makanan khas Taliwang. Taliwang adalah ibukota kabupaten yang baru berusia 2 tahun sejak berdiri sendiri dari kabupaten induknya Sumbawa, Palopo yang terbuat dari susu kerbau. Entah apa artinya, karena dua orang wanita Hapsah, 50 tahun dan Fatimah Ahmad, 60 tahun ? hanya mereka yang menjualnya - tidak ada yang bisa menjelaskan. Semula, makanan semacam agar-agar ini menurut Hapsah disebut Sukaya.

Keduanya, adalah pembuat Palopo secara turun temurun. Hafsah berjualan sejak 1977, sedangkan Fatimah menyebut telah 32 tahun.

Harganya per mangkok Rp2.500. Dari setiap penjualnya, pada sore dan malam hari, mereka bisa menjual 100-150an mangkok. Pembelinya, tidak hanya lokal Taliwang tetapi juga pendatang yang datang dari luar singgah ke tempat mereka berjualan di Kampung Sebok Desa Dalam Kecamatan Taliwang.

Palopo yang kini juga menjadi menu sajian Pemerintah Kabupaten Sumbawa, menggunakan susu kerbau sebagai bahan utamanya, dicampur gula merah dan gula putih, terong parak ? atau terong berduri. Dikatakan enak bila dicampur poteng - yaitu tape yang terbuat dari ketan.

Cara membuat Palopo, susu kerbaunya disaring terlebih dahulu. Kalau susunya 10 liter, maka dicampur satu kilo gula merah dan 0,5 kilo gula putih yang kemudian diaduknya. Terong parak diremas agar keluar airnya. Setelah itu ditempatkan di dalam mangkok dan direbus dalam dandang sekitar 15 menit. ”Makan Palopo ini supaya badan sehat. Bisa enak tidur. Tapi anak-anak tidak boleh makan banyak-banyak. Bisa mencret,” kata Fatimah.(supriyantho khafid)

1 Comment »
  • saya barubaca tentang tropical beach club spa resort yang berada di sumbawa barat.
    Kayannya menarik baget, bisa saya tau kontak tempat itu atau nomer teleponenya,

    thank you

    wirtama

    Comment by wirtama wayan — August 24, 2008 @ 10:17 am

  • Leave a comment

    You must be logged in to post a comment.

    Recent Comments
    » LALU SERINATA MENOLAK DIBAWA KE KEJARI MATARAM
    11/27/2008 03:47 pm | 10 Comments
    » KPI CEGAH TAYANGAN KEBANCI-BANCIAN
    11/26/2008 09:36 pm | 1 Comment
    » PEJABAT TERLAMBAT DATANG, PINTU RUANGAN DITUTUP
    11/26/2008 06:25 pm | 3 Comments
    » BEASISWA NEWMONT NUSA TENGGARA UNTUK 8.493 SISWA
    11/26/2008 01:26 pm | 3 Comments
    » PNS SE NTB DIPERIKSA KESEHATANNYA
    11/25/2008 09:18 pm | 1 Comment
    Lomboknews.com - 2007 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com | busby seo challenge