Lombok Sumbawa Online

Jual Link/Bandwidth IIX & Internasional Utk Seluruh Indonesia
call. 081-3535-70001 www.andira.co.id
Google
 
Wednesday, 3 October 2007 • PARIWISATA

Dua wanita muda itu memandang ke kiri dan kanan. Mereka baru saja menginjakkan kakinya di atas pantai Tasem Asem - sekitar 60 meter di atas permukaan laut. Sejauh mata memandang hamparan laut biru di bawah dan sekitar Teluk Ekas. ”Very nice place,” kata mereka takjub. Seraya tangan salah seorang diantaranya mengarahkan handycam ke berbagai arah, mengabadikannya.

Siang itu, Simone dan Susanne - demikian nama kedua wanita asal Jerman itu, baru menginjakkan kakinya di kawasan Ocean Heaven yang juga disebut Heaven On the Planet. Sudah dua malam ia berada di perairan Teluk Ekas. Keberadaannya di perairan tersebut bersama sejumlah wisatawan peminat selancar. Mereka menumpang kapal wisata yang membawanya dari Bali untuk main selancar di Laut Surga yang berada di depan pantai Kalaulan. Pasir pantainya putih dan air lautnya panas tropik.

Untuk mencapai dataran tebing itu, mereka harus menapaki empat tingkatan jalan. Masing-masing sekitar 60an anak tangga sejauh 100an meter jalan setapak itu. Lumayan berat dilalui mereka yang tidak biasa melintasi bukit pendakian.

Demikian pula seorang pekerja design komputer Patrick Baumel bersama istrinya Antonia Wonburs asal Belanda. Ia menyeberangi laut dari seberang pantai Awang Lombok Tengah. Dari website www.wannasurf.com ia mendapatkan lokasi tersebut. ??Tempat ini bagus sekali,?? katanya membaca kesan orang.

Maka setelah sebelumnya dua hari berlibur di Kuta Lombok Tengah bagian selatan, ia pun ingin membuktikannya. Dan ternyata, benar. Semula ia hanya akan menginap dua hari molor menjadi empat hari. ??Perfect nice place,?? katanya. Yang dimaksud, suasananya tenang. Tidak hiruk pikuk sebagaimana suasana kawasan wisata di Bali dan bahkan di Kuta Lombok Tengah. Juga tidak ada pedagang asong yang mengganggu menawari barang jualannya. Patrick Baumel mengaku datang bermain selancar di sana, karena dekat dari Bali. Dan sebagai pemula yang baru dua tahun ia bisa berselancar di sana.

Setidak-tidaknya empat tahun terakhir ini, kapal-kapal wisata yang datang dari Bali biasanya membawa penumpang hingga sembilan orang. Kalau siang naik ke bukit tersebut untuk makan siang dan minum-minum Coca Cola. Utamanya, peselancar itu datang pada bulan Juli-Oktober karena adanya gelombang yang bagus untuk bermain. Ada ombak Outside (kekanan saja) dan bisa pula Inside (kekiri dan kekanan)

Bukan hanya surfing itu saja yang menjadi daya tarik pantai di Teluk Ekas tersebut. Lokasinya seperti bisa ditemui di Uluwatu, adalah menuruni tebing batu karang atau batu cadas apabila hendak berselancar. Dulunya, Uluwatu di Bali sebelum booming wisatawan, pra peselancar harus merangkak menuruni bukit mendatangi pantai di bawahnya. Suasananya masih sepi seperti Uluwatu sekian puluh tahun yang lampau.

Heaven on the Planet atau Surga di Atas Planet. Begitulah Kerry Black - specialist artificial surfing reef asal Selandia Baru - menjuluki tempat itu - yang kemudian membayar lahan seluas 16 hektar tersebut. Letaknya di Dusun Lendang Terak Desa Pemongkong Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur.

Letaknya di atas tebing. Sudah empat tahun Kerry Black membuka lahan tersebut sebagai kawasan berlibur tersebut. Di sana ia menyediakan fasilitas penginapan lima kamar dilengkapi berbagai sarana sport. Ada lapangan basket, skate board ramp, boogie board, nature trail look out (mengelilingi kampung sekitar menggunakan sepeda motor trail. Dan satu jenis atraksi lain, ini yang berbeda dari lokasi wisata lain di Lombok, abseiling atau rapelling yaitu menuruni tebing ke pantai Tasem Asem.

Memang tidak banyak wisatawan yang berani menyoba petualangan menuruni bukit dengan cara bergantungan menggunakan tali. Namun, ada juga mereka yang menyobanya. Segala keperluan olahraga petualangan ini memang sudah disiapkan. Ada tali, carabiner, harnest. ”Kami sudah siap melayani turun tebing ini,” kata Muslim yang diserahi Kerry Black untuk mengelolanya.

Tingkat kesulitannya adalah kehatian-hatian menghadapi dinding batu yang tajam. Kalau tidak, akibat geseran karang bisa mengalahkan kuatnya tali yang dipakai bergantung menuruni tebing itu. Jadi juga harus teliti mencari tempat yang paling aman sebagai titik lokasi penurunannya.

Biasanya, mereka yang menginap di Heaven On the Planet, bermain selancar dua kali sehari. Pagi hari melakukannya pukul 08.00 - 11.00 dan sorenya pukul 15.00 - 18.00. Ramainya wisatawan peselancar ke sini pada bulan Maret-April. Selama sebulan itu, ombaknya bagus untuk berselancar. Tetapi pada musim libur akhir Juni-awal Juli ini juga banyak wisatawan yang datang. Maka, lima kamar tersebut dipastikan akan terisi semuanya.

Sewa kamarnya bungalow Rp200 ribu dan flamboyan Rp400 ribu. Untuk seorang dikenai tarif separo. Dan bila bertiga, diberikan ekstra bed gratis. Jika kamar sudah terisi, para peselancar pun rela tidur di ruang terbuka restoran disediakan fasilitas untuk tidur.

Di depan Heaven On the Planet ini juga terdapat danau kecil sewaktu air surut. Sekitar 100an meter ke tengah. Ini terjadi selama 4-5 hari pada penanggalan 16-17-18. bulan Di sana, biasanya penduduk yang datang dari dusun Berora, Kuang Rundun, Bagik Cendol atau Sungkun melakukan Madak ? yaitu mencari ikan mencungkil tanah. Ikan yang bisa didapat adalah ikan Serpih, gurita atau kerang.

Bangunan penginapan di situ menggunakan batu percek - batu yang apabila digesek memercik api seperti gesekan korek api. Di malam hari, batu tersebut terlihat sepertinya menyala. Di sekitarnya ada batu-batu tebing yang ditempeli kulit-kulit kerang. Orang menyebutnya sebagai fossil beach. Mengasikkan mendatanginya - sekitar 500an meter jauhnya. Menuruni dan menaiki batu-batu dipinggir pantai sambil menghadapi deburan ombak yang datang menghempas.

Semula ada ribuan fosil kulit kerang di tebing pantai di selatan Lendang Terak ini. Diperkirakan peninggalan sekitar 6000-100,000 tahun. Sewaktu permukaan laut masih sekitar 50 meter. Sayangnya, kini telah tiada lagi setelah habis dipunguti untuk dijadikan bahan kerajinan oleh penduduk.

Untuk mendatangi Dusun Lendang Terak ini, melalui jalan yang disekitar kiri kanan penuh ditumbuhi Imba - pepohonan lokal. Tidak tersedia angkuta umum dari pusat desa Pemongkong - sekitar 10an kilometer. Yang ada hanyalah ojek sepeda motor saja. Kalau datang dari Pantai Kuta Lombok Tengah, harus melewati pantai Awang terlebih dahulu sebelum menyeberang sekitar 15 menit menggunakan perahu motor yang ongkosnya Rp70 ribu per orang. Tetapi apabila minta dijemput dari bandara Selaparang di Mataram atau sebaliknya, dikenai tarif Rp250 ribu seandainya sendirian atau Rp150 ribu per orang apabila berdua. Jarak Heaven on the Planet dari kota Mataram sekitar 80 kilometer.

Di selatan Lombok Timur ini, juga terdapat kawasan wisata lain. Ada pantai Kaliantan, Tanjung Ringgit dan Cemara. Jadi, para wisatawan petualang alam bisa terpuaskan menikmati alam pantai yang masih perawan.(supriyantho khafid)

No Comments »

No comments yet.

Leave a comment








Recent Comments
» KELUARGA TIGA TKI LOMBOK TIMUR MENERIMA SANTUNAN MASING-MASING RP37 JUTA
05/17/2012 02:36 pm | 1 Comment
» KARENA DIRUGIKAN PEMBERITAAN, DOSEN FH UNRAM GUGAT RP7,5 MILIAR
05/16/2012 07:19 am | 2 Comments
» HERYADI RACHMAT MERILIS BUKU GEOWISATA NTB
05/15/2012 11:08 am | 4 Comments
» DAYA BELI GABUNGAN PETANI NTB 95,53
05/15/2012 10:27 am | 1 Comment
» SELAMA 2011 DIDUGA TERJADI 61 KASUS KORUPSI DI NTB
05/14/2012 08:46 pm | 1 Comment
Lomboknews.com - 2007 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com