MATARAM - Inflasi di Mataram melampaui batas maksimal yang diinginkan pemerintah 0,5 persen sebulan. Selama sembilan bulan terakhir, Januari-September 2007 mencapai 5,82 persen. Sebulan terakhir, inflasi yang terjadi sebesar 0,62 persen disebabkan komoditas yang teratas telur ayam ras sebesar 0,1346 persen, kangkung 0,0919 persen dan daging ayam ras sebesar 0,0567 persen.
Inflasi ini terjadi karena naiknya indeks harga. Lebaran masih 10 hari lagi sehingga masih ada peluang kenaikan harga bahan makanan. Akibat laju inflasi di Mataram, nilai rupiah dipastikan merosot selama tiga tahun terakhir ini hingga 36,14 persen.
Menurut Kepala Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat (BPS NTB) Marthanius Moechtar, dibandingkan dengan daerah sektiarnya di Nusa Tenggara, inflasi di Mataram tertinggi. Inflasi di Denpasar sebesar 0,55 persen dan Kupang malah mengalami deflasi sebesar 0,02 persen. ”Ini diduga ada pengaruh kebutuhan selama bulan puasa,” ujarnya, Selasa (2/10) pagi di kantornya.
Disebutkan oleh Marthanius, komoditas telur ayam ras, kangkung sebagai dua dari 10 komoditas tertinggi penyumbang inflasi di Mataram, diduga juga disebabkan karena adanya isu flu burung sehingga permintaan telur meningkat. Sedangkan naiknya harga kangkung di Mataram yang dikenal sebagai bahan menu Pelecing Kangkung di rumah-rumah makan Ayam Taliwang karena terbatasnya persediaan karena tidak tumbuh subur pada musim kemarau yang tanamannya kesulitan air. Sebaliknya beras mengalami deflasi 0,0411 persen diantara 304 komoditi dari tujuh kelompok yang dipantau BPS NTB secara rutin mingguan dan bulanan.
Selain itu, kelompok biaya pendidikan ikut menyumbang inflasi 0,14 persen disebabkan adanya pembayaran sekolah taman kanak-kanak selama bulan September 2007. Sebulan sebelumnya, Agustus 2007 lalu juga pembayaran uang komite sekolah untuk tingkat SD, SMP dan SMA juga ikut mempengaruhi inflasi hingga 0,17 persen.
Disebutkan oleh Marthanius Moechtar mengenai merosotnya nilai rupiah sejak 2003 hingga sembilan bulan terakhir ini, kalau semula memiliki uang Rp1 juta bisa memperoleh tiga pasang sepatu, karena nilainya merosot menjadi hanya Rp640 ribu maka cuman dua pasang sepatu yang bisa dibeli.(supriyantho khafid)


