MATARAM - Di Donggo Kabupaten Bima, 10 orang anak usia 5-9 tahun terserang campak. Kamis (20/9), tim Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat (Dikes NTB) mendatangi penderita dan mengambil sampel darah mereka untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Kecamatan Donggo dan Wera di Kabupaten Bima memang masuk peta merah wilayah campak di NTB.
Kepala Seksi Kejadian Luar Biasa (KLB) dan Bencana Dikes NTB dr.Beny Nugroho mengatakan, bahwa keadaan ini telah mulai dilaporkan 7 September lalu. ”Mereka telah menjalani perawatan di Puskesmas, ” ujarnya di sela buka puasa bersama Wakil Gubernur NTB Bonyo Thamrin Rayes di Dusun Sancara Desa Nunggi Kecamatan Wera, Kamis (20/9) malam.
Karena banyaknya penderita, walau 10 orang, sudah dinyatakan dalam keadaan KLB. Keadaan penderita campak mengalami bercak di kulit seperti cacar berisi air dan bisa berakibat menjadi nanah. Meskipun tidak berbahaya dan belum ditemukan adanya penderita yang meninggal, namun dikawatirkan menimbulkan penyakit ikutan pnemonia yang bisa menimbulkan kematian. Dan, Beny Nugroho mengatakan bulan September ini memang musim campak. Yang dikawatirkan adalah terjadinya dua masa inkubasi sehingga penularannya bisa berkembang ke lebih dari orang kedua.
Campak yang di daerah ini diwaspadai sejak 2006 sehingga masuk pemetaan berdasarkan kejadian epidemiologi menjadi Crash Program Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization).
Kecamatan Donggo dan Wera di Kabupaten Bima ini merupakan wilayah merah penyakit campak yang menjadi fokus perhatian. Daerah lainnya adalah Kecamatan Sape dan Woha. Timbulnya campak akibat masalah higienis yaitu air dan gizi buruk. Karena itu, masalah tenaga kesehatan seperti dokter, bidan desa dan adanya puskesmas pembantu harus mendaptkan perhatian untuk pendidikan kesehatan masyarakat. Apalagi daerah tersebut bukan daerah terisolir.
Sebenarnya, 1-2 bulan sebelumnya sudah dilakukan imunisasi campak. Namun adanya penderita ini tidak bisa disebut imunisasi yang tidak efektif karena berbagai sebab. Masih sedang diteliti, apakah karena imunisasi yang tidak efektif atau memang tidak diimunisasi sama sekali. Masa effektif vaksin lima tahun.
Data Dinas Kesehatan NTB sebelumnya yakni periode Januari hingga Juli 2007 sedikitnya ditemukan 109 kasus campak. Kasus tersebut diantaranya ditemukan di Kabupaten Bima 87 kasus, Kabupaten Lombok Timur 15 kasus, terakhir pada Juli lalu ditemukan 7 kasus campak di Kabupaten Dompu.
Terkait hal itu Dikes NTB telah meminta kepada Kepala Daerah di sembilan kabupaten/kota se NTB untuk mewaspadai kemungkinan munculnya campak termasuk juga meledaknya penyakit malaria yang diprediksikan pada bulan Oktober mendatang. “Campak di Bima termasuk tinggi dan NTB ini merupakan daerah endemis malaria,” katanya.
Ada beberapa jenis penyakit yang selama ini menunjukkan terjadinya KLB diantaranya, malaria, demam berdarah, antraks, campak dan gizi buruk. Namun dari sejumlah penyakit tersebut cenderung mengalami penurunan kecuali malaria.
Oleh karena itu sebutnya, para kepala daerah bersama Dinas Kesehatan setempat diharapkan sesegera mungkin melakukan langkah-langkah antisipasi dengan prediksi bakal terjadinya ledakan kasus malaria berdasarkan analisa kasus dari tahun-tahun sebelumnya.
Pada 2005 lalu, kasus malaria di NTB terjadi pada Nopember dan Desember dengan itensitas mencapai 500 lebih kasus dalam sebulan. Saat itu sebanyak 18 korban meninggal, 16 diantaranya adalah berasal dari kabupaten Lombok Timur.
Namun pada 2006 kasus malaria menurun menjadi 116 kasus tetapi tetap saja dalam status KLB walau tidak ada korban meninggal, sedangkan pada 2007 puluhan kasus dan 5 meninggal.
Terhadap kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada 2004 lalu enam belas meninggal, 2005 lima belas meninggal, 2006 empat meninggal dan 2007 satu orang meninggal akibat DBD.(supriyantho khafid)


