MATARAM - Enam unit mesin pengolah biji jarak bantuan Jepang, Departemen Perindustrian dan Departemen Energi Sumber Daya Mineral keseluruhan senilai Rp1 miliar, mubazir.Mesin-mesin ini adalah bagian dari proyek prestisius Pemerintah Provinsi untuk menjadikan Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai Propinsi Jarak, belum pernah digunakan menganggur di Kabupaten Dompu satu unit, Kabupaten Lombok Timur satu unit, dan masing-masing dua unit di Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Barat.
Mesin yang harganya satu unit lebih dari Rp150 juta karena bahan baku yang akan diolah belum tersedia cukup. Pengelolaan mesin diserahkan pada Dinas Perkebunan, Dinas Petambangan dan Energi dan juga Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB.
Dijelaskan oleh Kepala Dinas Perkebunan NTB Shahabuddin Sadar di sela perjalanan safari ramadhan Pemerintah Propinsi NTB di Pulau Sumbawa tidak menyangkal tidak beroperasinya mesin ini. ”Memang belum bisa beroperasi, karena tak adanya bahan baku yang diolah,” ujarnya.
Disebutnya bahwa keberadaan mesin itu memang bukan untuk komersil. Mesin itu untuk membuktikan bahwa pemerintah serius degan program jarak yang tetap akan menjadi komoditas unggulan NTB.
Sebelumnya, Gubernur NTB Lalu Serinata saat menyampaikan Laporan Keterangan Pertangungjawaban tahunan di DPRD NTB Agustus lalu, menyampaikan mesin-mesin bantuan pengolahan biji jarak itu memang belum digunakan hingga kini. Penyebabnya keterbatasan bahan baku.
Dikatakannya bahwa pemerintah memang telah melakukan gerakan menanam jarak di sejumlah daerah. Potensi lahan tanam bahkan lebih dari 600.000 hektar. Nyatanya hingga 2006 lalu, luas tanam terealisasi baru mencapai 2.482 hektar. Areal seluas itu tidak cukup memasok kebutuhan enam unit mesin untuk beroperasi terus menerus.
Satu unit mesin mampu beroperasi delapan jam sehari tanpa henti. Kapasitas mesin mencapai satu ton biji jarak kering. Dari ini bisa didapat sedikitnya 200 liter minyak jarak. Tapi kenyataannya bahan baku yang tidak ada.
Diakuinya bahwa tanaman jarak yang ada saat ini belum terlalu produktif. Dalam satu hektar baru bisa menghasilkan 200 kilogram biji basah. Butuh waktu empat tahun untuk bisa mendapatkan tanaman jarak yang benar-benar produktif. Idealnya satu hektar bisa menghasilkan dua ton biji basah. Itu untuk rata-rata 2.500 pohon.(supriyantho khafid)


