MATARAM - 5.000 hektar luas tanaman padi di Nusa Tenggara Barat (NTB) terancam puso akibat kekurangan air. 2.000 hektar diantaranya berada di Kabupaten Lombok Tengah bagian selatan. Kerugian petani mengalami kegagalan panen tersebut karena tidak mematuhi pola tanam yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah.
Sebenarnya, di Lombok Tengah setelah musim tanam sebelumnya, yang direkomendasikan hanya 10.000 hektar. Tetapi yang menanam padi lagi mencapai 16.000 hektar. Padahal kesediaan air irigasi tidak menyukupi kebutuhan tanam padi. ”Tetapi memaksakan diri menanam kembali, ” ujar Kepala Dinas Pertanian NTB Masyhur di sela mengikuti safari Ramadhan Wakil Gubernur NTB Bonyo Thamrin Rayes di Dompu, Jum’at (21/9) malam.
NTB pun masih belum bisa menanam padi seperti yang diinginkan seluas 336.000 hektar agar bisa menghasilkan 1,6 juta ton gabah kering giling (gkg) yang diminta pemerintah menambah 100 ribu ton gkg. Waktu tanam mengalami kelambatan 1-2 bulan karena akibat terlambat turun hujan. Sampai dengan Agustus 2007 lalu baru tertanam 98 persen. Kalau sampai akhir September 2007 ini tidak tercapai, tidak bisa mencapai target dan produksi, sehingga hanya menghasilkan 1,5 juta ton gkg atau setara 850.000 ton beras.
Untuk mengatasi kemungkinan kekurangan beras guna stabilitas pangan, pemerintah mengimpor beras dan NTB pun bisa dijatah menerimanya Sebab, 93 persen beras NTB ditangan petani dan pengusaha yang menjualnya sampai ke Bali dan Jawa Timur. Perum Bulog juga mengeluarkan beras NTB ke Nusa Tenggara Timur. Kebutuhan konsumsi lokal 500.000 ton beras. Dilematis petani juga konsumen yang ikut membayar mahal beras yang dibelinya.
Di Kabupaten Dompu, untuk memanfaatkan air sungai yang mengalir ke laut petani di Kecamatan Woja melakukan pemompaan air untuk keperluan luas tanam 250 hektar yang berada di daerah cekungan. ”Ini kita dorong,” kata Masyhur. Di sana juga merupakan sentra kedele yang luas arealnya hingga 10.000 hektar. Target luas tanam kedele NTB sebagai sentra kedele nasional mencapai 86.000 hektar minimal menghasilkan 100.000 ton kedele Wilis dan Anjasmoro.(supriyantho khafid)


