MATARAM - Fakultas Kedokteran Universitas Mataram menjadikan biologi molekuler sebagai pilihan unggulan penelitian. Ini dilakukan karena sudah ada fasilitas Laboratorium Imuno Biologi yang dimilikinya. Tenaga akademiknya sudah ada yang selesai dan sedang belajar imunologis di Jepang dan Selandia Baru. Selain itu, di RSU Daerah Mataram pun sudah memiliki laboratorium bio medik yang telah melakukan berbagai penelitian tentang hepatitis B dan banyaknya penderita maag.
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Mataram Prof.DR.dr.Mulyanto mengemukakan ilmu biologi molekuler baru berkembang beberapa dekade ini. ”Kalau ilmu ini yang jadi unggulan, kami tidak ketinggalan start dibanding yang lebih dulu,” ujarnya.
Berbeda apabila dibanding fakultas kedokteran di Indonesia yang sudah lama ada seperti di Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Universitas Airlangga yang belum maju ilmu biologi molekuler ini namun sudah terlebih dahulu memiliki keunggulan klinik.
Menurutnya, ilmu biologi molekuluer itu menjadi unggul karena problema biologi itu apabila ditelusuri akar masalahnya ke arah biologi molekuler atau imunologi. Misalnya sekarang ahli penyakit dalam mengobati rematik. Obatnya nanti ujungnya ke arah imunologi mekanisme kerjanya. ”Obatnya dulu misalnya mengurangi bengkak, sekarang mengintervensi penyebabnya dari timbulnya rematik itu,” kata Mulyanto seusai pengambilan janji 30 orang dokter muda tamatan pertama Fakultas Kedokteran Universitas Mataram, di RSU Daerah Mataram, Senin (10/9) pagi.
Kemudian ia juga menjelaskan temuan banyaknya penderita maag atau kanker lambung atau tukak lambung di Indonesia. Sebelumnya, telah dilakukan penelitian unggulannya biologi molekuler. Diketahui bahwa maag yang luka kebanyakan disebabkan oleh kuman Heliobacter Pylori yang ditemukan 1980an oleh dokter dan mahasiswanya di Australia. ”Setelah diteliti ternyata penyebab utama usus lambung dan kanker lambung,” ujarnya. Di Indonesia strain-nya lain dengan yang ada di Australia dan lainnya. Sehingga kalau buat alat tes ada tidaknya kuman itu, sebaiknya menggunakan strain yang ada di Indonesia. Menurutnya, strain Hepatitis di Indonesia juga berbeda dari penduduk Papua, Jawa, Maluku dan di sini bisa lain.
Mulyanto yang bersama Prof.DR.dr.Soewignyo dari RSU Daerah Mataram selama ini dikenal sebagai pakar Hepatitis B dan bekerja sama dengan pakar dari Univesitas Nagoya Jepang, menyebutkan dirinya sewaktu menjabat Rektor Universitas Mataram pernah didukung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (waktu itu) Wardiman Dojonegoro untuk mengembangkan laboratorium menyiapkan laboratorium Imuno Bilogi. Sudah ada tiga orang doktor dibidang biologi molekuler, dan seorang dosen bergelar master dan dua orang lagi masih belajar di luar negeri diantaranya di Selandia Baru sedang belajar vaksin rekayasa genetik, di Nagoya juga mengenai Imunologi. ”Kalau tenaga itu datang, ibaratnya mainan sudah cukup sarananya,” katanya.(supriyantho khafid)


