Letak Morotai sejauh 12 jam perjalanan laut atau darat (tetapi harus menyeberang dua pulau terlebih dahulu) di ujung utara dari kota Ternate – ibukota Propinsi Maluku Utara. Di sana, pernah dijadikan pangkalan asing sewaktu Perang Dunia II. Ada Pitu Strip - begitu orang setempat menyebutnya - yang merupakan tujuh landas pacu pesawat terbang sepanjang empat kilometer. Bukan hanya meninggalkan Jenderal Mc Arthur (Amerika Serikat) di sana. Ternyata, tidak sedikit rongsokan pesawat terbang maupun kapal laut yang tersimpan disana - di darat maupun di laut.
Rongsokan pesawat terbang maupun kapal laut itulah yang disebut besi putih anti karat kini menjadi sumber nafkah penduduknya. Dalam jumlah banyak yang dikatakan tidak ada akan habisnya, setiap hari paling tidak ada enam orang yang mengambilnya. Mereka melayani pengrajin yang menyalurkan produksinya berupa kalung, gelang dan cincin kepada lebih 30 pedagang kerajinan perhiasan besi putih tersebut di kota Ternate.
Adalah Ridwan Mangoda alias Iwan, 22 tahun, diantara penjualnya yang sejak lima tahun terakhir ini berjualan di Jalan Busairi Kompleks Pasar Gamalama. Menggunakan modal Rp20 juta, ia memiliki satu peti (istilah tempat jualannya) diantara lebih 30 peti pedagang. Di situlah ia melayani orang-orang yang datang dari luar daerah berbelanja oleh-oleh perhiasan tersebut dlaam berbagai bentuk model. Ada yang berupa gelang rantai kecil untuk anak-anak atau gelang rantai besar. ”Orang yang belanja kebanyakan dari luar daerah. Ada dari Jakarta atau Manado,” ujar Iwan.
Ini dibenarkan oleh Abubakar Abas Has, salah seorang warga kota Ternate yang sering mendampingi tamunya dari Jakarta. ”Ya saya sering mengantar teman yang datang untuk berbelanja di sini,” ucapnya, Ahad (26/8) malam di pasar Gamalama. Inilah, katanya, satu-satunya pasar produk besi putih terbesar di Indonesia.
Dikutip dari Wikipedia Indonesia, riwayat sejarah Morotai, selama abad ke-15 dan 16, Morotai berada di bawah pengaruh Kesultanan Ternate yang berkuasa. Merupakan inti sebuah kawasan besar bernama Moro, yang termasuk pulau dan pesisir Halmahera yang dekat dengan Morotai ke selatan.
Pulau ini menjadi lapangan terbang bagi Jepang selama PD II. Pulau ini diambil alih oleh angkatan Amerika Serikat pada September 1944, dan digunakan sebagai landasan serangan Sekutu ke Filipina pada awal 1945, dan ke Borneo timur pada Mei dan Juni tahun itu. Merupakan basis untuk serangan ke Jawa pada Oktober 1945 yang ditunda setelah penyerahan diri Jepang pada bulan Agustus.(supriyantho khafid)


