MATARAM - Pariwisata di Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) tergantung Bali. Luberan wisatawan di Bali tidak bisa dijamin bisa ke Lombok karena akses transportasi. Karenanya, dibutuhkan bandara internasional yang mampu didarati pesawat yang terbang langsung dari negaranya. Kenaikan angka kunjungan wisatawan hanya seribu lebih orang dinilai lumayan dari pada tidak ada sama sekali.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB Muhammad Nur mengemukakannya, Selasa (21/8). Menurutnya, Lombok memiliki kedekatan jarak dengan Bali. Namun luberan wisatawan yang datang ke Bali terhambat melanjutkan perjalanan ke Lombok. ”Tidak ada yang bisa menjamin mereka ke sini,” ujar Nur.
Selama tahun 2006, angka kunjungan wisatawan tercatat 426.577 orang atau meningkat sekitar 1.500an orang dibanding tahun 2005 yang jumlahnya 425.000 orang. Meskipun demikian, tahun 2007 ini ditargetkan angka kunjungan wisatawan 546.000 orang.
Nur mengemukakan pula bahwa untuk menyegah hilangnya Lombok sebagai destinasi wisatawan dari Eropah, akibat larangan terbang menggunakan pesawat Indonesia, diupayakan menghidupkan kembali transportasi laut menggunakan kapal cepat. Sebelumnya, ada Mabua Express dan Bounty yang melayani Benoa Bali - Lembar atau Gili Meno Lombok.
Selain itu, ia juga meminta pelaku pariwisata di Lombok dan Sumbawa tidak menjadi panik akibat larangan dari uni Eropah tersebut. Sebab, angka kunjungan wisatawan nusantara bisa lebih banyak dan lebih royal berbelanja. ”Mereka, bule-bule itu tidak elit banget. Orang Jakarta lebih boros belanjanya,” katanya. Dimintanya, pelaku pariwisata untuk menjaga dan mempertahankan citra pariwisata.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB juga menggagas bangkitnya pariwisata religi seperti yang ditanyakan oleh agen perjalanan dari Kuala Lumpur dan Brunei Darussalam. Ini sebagai bentuk diversifikasi agar tidak bergantung hanya wisatawan dari negara tertentu. Hasil pemantauannya, sebenarnya bule-bule yang datang menyaksikan pertunjukan pada event yang dijadwalkan sebelumnya tidak dalam jumlah banyak. ”Pondok pesantren di Lombok pun didorong untuk menyelenggarakan wisata religi. Tetapi yang tidak mengorbankan aqidah,” ucapnya.(supriyantho khafid)


