MATARAM – Kebanyakan pemuda pelamar calon bintara polisi di Nusa Tenggara Barat (NTB) gugur seleksi karena alasan kesehatan. Mereka memiliki tubuh tidak tegap, bahu miring sehingga penampilannya tengleng. Kalaupun sehat, mereka menderita penyakit jantung. Sedangkan pendaftar calon polisi wanita tidak memenuhi persyaratan tertentu – namun dirahasiakan. Sebenarnya penerimaan calon bintara di Kepolisian Daerah (Polda) NTB diprioritaskan untuk putra daerah. Namun ironisnya, dari tes psikologi ketahuan mereka juga tidak meminati menjadi polisi namun mendaftar karena paksaan dari orang tuanya.

Kepala Kepolisian Daerah (Polda ) NTB Brigjen Pol Wawan Hendarawan mengemukakannya sewaktu melakukan silaturahmi dengan wartawan, Jum’at (10/8) siang. ”Mereka ini kebanyakan tidak lulus kesehatan. Seharusnya melakukan cek kesehatan sebelum mendaftar,” katanya.

Mengenai hasil tes psikologinya yang tidak meminati menjadi polisi, Wawan Hendrawan menyebutkan bahwa mereka ini bisa merepotkan kalau sudah resmi menjadi anggota polisi. Selama ini, Polda NTB cukup banyak menangani masalah anggotanya yang tidak disiplin menjalankan tugas dan disersi. ”Sudah cukup banyak yang diberikan tindakan pemecatan dan sanksi,” ucapnya.

Dirincikan pula oleh Wawan Hendrawan, para pelamar calon bintara dari NTB ini sekitar 95 persen tercoret karena alasan kesehatan. 10 persen dari lebih 1.000 orang menderita hepatitis. Tubuh mereka juga panuan, kudis, dan kaki X. Ada pula yang tidak bisa berenang sehingga tenggelam sewaktu berada di kolam renang. Sewaktu menjalani tes fisik pun tidak mampu melakukan pull up (tarik badan).

Penjelasan tersebut diberikan setelah disebutkannya Sekolah Polisi Negara di Belanting Sambelia Kabupaten Lombok Timur memiliki kapasitas tampung hingga 800 orang. Setiap angkatan pendidikan diberikan jatah oleh Mabes Polri sebanyak 200 orang. Namun, untuk penerimaan angkatan kedua, yang baru dimulai Agustus 2007 ini hanya 180 orang.

Adapun pendaftar calon taruna Akademi Kepolisian yang semula 80 orang yang berpendidikan sarjana (S1 dan S2), hanya empat orang yang berhasil lolos diberangkatkan ke Semarang untuk menjalani seleksi nasional.(supriyantho khafid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here