MATARAM - Kondisi lingkungan sungai Jangkok sebagai sungai besar di Lombok dalam keadaan prihatin. Dari hasil survey pendahuluan yang dilakukan oleh Komunitas Hijau Biru, terlihat bahwa terjadi penurunan peringkat sungai begitu aliran sungai memasuki daerah perkotaan. Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan bantaran sungai untuk pemukiman dan usaha, menumpuknya sampah di beberapa titik, berkurangnya prosentase penutupan tanah dan vegetasi, adanya erosi parsial serta berkurangnya hewan invertebrata maupun vertebrata.
Selain itu, penurunan peringkat secara drastis terjadi di dua lokasi pantau yaitu di Udayana dan Ampenan di kota Mataram, kemudian sedikit mengalami kenaikan di daerah muara (estuari). Penurunan peringkat terjadi lebih banyak disebabkan oleh banyaknya kegiatan manusia di bantaran sungai yang memberikan pengaruh yang cukup signifikan selain tentunya penggunaan bantaran sungai yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Sedangkan potensi pencemaran yang ditemukan paling dominan selama survey adalah adanya tumpukan sampah yang berpotensi menimbukan rembesan (leaching) sehingga bisa memperngaruhi kualitas air sungai selain itu masih banyaknya saluran pembuangan dari rumah penduduk di bantaran sungai yang langsung di arahkan ke sungai Jangkok.
Temuan tersebut diperloleh Komunitas Hijau Biru (KHB) setelah melakukan survey yang dilakukan di beberapa lokasi sebagai titik pantau yaitu Selagalas, Bagirati, Udayana, Ampenan dan muara (estuari). Setiap lokasi pantau dilakukan pengamatan pada daerah sepanjang 100 m untuk setiap kategori seperti yang telah disebutkan diatas.
Survey KHB tersebut dilakukan setelah sebelumnya juga terlibat aktif dalam beberapa kegiatan pada peringatan Hari Lingkungan Se-Dunia. KHB yang juga terdaftar sebagai anggota Clean Up The World, sebuah organisasi nir-laba yang bermarkas di Australia, melakukan survey pendahuluan terhadap potensi pencemaran dan penentuan peringkat kondisi sungai. Kegiatan survey dilakukan pada tanggal 28 Juli 2007 dan difokuskan pada sungai Jangkok. Tim survey selain berasal dari KHB juga diikuti oleh 2 (dua) orang staf Bagian Lingkungan Hidup Kota Mataram, Danang Cahyo Nugroho dan Lalu Nuradam.
Diungkapkan oleh Koordinator Pelaksana KHB, Joni Safaat Adiansyah, bahwa kegiatan ini merupakan bentuk tanggung jawab KHB sebagai sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang lingkungan dan ditegaskan lagi bahwa tanggung jawab pelestarian lingkungan berada dipundak semua orang baik individu, organisasi maupun masyarakat. ”Jadi bukan hanya menjadi porsi pemerintah untuk menanganinya,” ujarnya. Di kesempatan terpisah Kepala Bagian Lingkungan Hidup Kota Mataram, Mutawalli mengatakan sangat mendukung upaya pihak-pihak yang mau berperan aktif bahu membahu dengan pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan khususnya di lingkup Kota Mataram.
Metode survey yang dilakukan adalah dengan melakukan pengamatan langsung terhadap beberapa aspek antara lain kondisi fisik sungai, tata guna lahan, banyak dan jenis sampah, keberadaan pipa dan saluran, bangunan tambahan/modifikasi, bau, kejernihan air, tumbuhan, keragaman hewan tidak bertulang belakang (invertebrata) dan bertulang belakang (vertebrata) selain itu dilakukan juga wawancara lapangan untuk keperluan kelengkapan data, demikian penjelasan M.Salamuddin Yusuf, Koordinator Divisi Penelitian dan Pendidikan Lingkungan KHB. Lebih lanjut Alam panggilan M.Salamuddin Yusuf menerangkan bahwa metode yang digunakan adalah merupakan metode sederhana yang setiap orang bisa melakukannya. Metode ini jugalah yang digunakan secara meluas untuk program pemantauan kondisi sungai di Australia yang didanai oleh Pemerintah Australia (Water Watch Program).
Selaku Koordinator Pelaksana KHB, Joni Safaat Adiansyah, sangat berharap Pemerintah bisa lebih memperhatikan dan menata kembali daerah sepanjang bantaran sungai Jangkok ini. Beberapa langkah yang bisa ditempuh antara lain penataan tata guna lahan, memperbanyak taman lingkungan, melakukan penghijauan bantaran sungai, membuat event-event kegiatan yang menggunakan sungai sebagai media kegiatannya. Selain itu tentunya tindak lanjut survey pendahuluan ini perlu dilakukan terkait dengan pengujian fisik dan kimia terhadap kualitas air sungai Jangkok sehingga bisa memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai kondisi sungai Jangkok.(supriyantho khafid)


