Lombok Sumbawa Online
Jual Fiber Optic Link IIX untuk Seluruh Indonesia
FULL FO sampai pelanggan, cocok untuk korporat, game online, isp dll.
tarif: 1 Mbps=13jt, 2Mbps=15jt, 4Mbps=20jt, 6mbps=26jt, 10Mbps 35jt per-bulan.
kami juga menyediakan bandwidth internasional 10jt/Mbps per-bulan
info lebih lanjut hubungi : 081353570001
Google
 
Monday, 30 July 2007 • EKONOMI

MATARAM - Selama sebulan terakhir ini, Tahir, 45 tahun, warga dusun Sejorong Desa Tongo di Kecamatan Sekongkang tidak lagi kesulitan air bersih. Setiap malam, ia bisa mendapatkan gratis air bersih bisa langsung diminum sebanyak delapan liter. Sebenarnya, tanpa batasan jatah untuk keperluan minum dari dispenser yang tersedia dua unit nilainya Rp 60 juta, di desanya. Begitu juga 1.800 keluarga desa lainnya, termasuk Arsyad, 34 tahun, diantara 400 jiwa penduduk Dusun Sejorong. Setiap minggu ia bersama istri seorang perawat Puskesmas Pembantu (Pustu) dan seorang anak memerlukan segalon air bersih tersebut.

Dispenser yang ditempatkan di Sejorong dan Dusun Tongo itu memang disediakan untuk warga yang selama ini kesulitan persediaan air bersih. ”Hanya dari sumur saja yang bisa diambil, ” ujar Tahir kepada LombokNews. Kapasitas mengisinya tiga galon setiap tiga menit. Sumber airnya dari sumur bor yang memiliki kemampuan tampung 200 liter, yang juga disalurkan melalui pipa ke rumah-rumah penduduk. Rencananya, diperbesar tangkinya agar bisa menampung 500 liter karena pompa airnya mengandalkan listrik dari genset yang hidup hanya pada malam hari saja.

Tidak itu saja. Listrik rumah penduduk pun juga mendapatkan aliran dari genset yang dihidupkan untuk penerangan malam hari saja. Sebab desa ini tidak terjangkau aliran listrik PLN. Warga pun tidak perlu membayar untuk membeli solar genset. Setiap bulan sudah memperoleh suplai solar 300 drum berisi masing-masing 200 liter.

Remaja desa pun bisa melakukan kegiatan olahraga cabang bulu tangkis di gedung serba guna yang baru dibangun. M Sahib bersama beberapa orang temannya, siang itu bermain bulu tangkis hanya bermodalkan raket dan bola yang dibelinya Rp5 ribu per biji. ”Kami main gratis di sini,” katanya. Hanya bola yang dibeli dari usaha remaja di sana yang juga melayani cukup banyak warga lainnya yang main bulu tangkis di sana, selepas sore.

Bukan itu saja, sejak Maret 2007 lalu, di sana juga sedang dibangun bendungan Tiu Sepit senilai Rp4,8 miliar guna memanfaatkan sungai Santong sehingga kelak bisa mengairi 60 hektar sawah. Ini adalah bendungan ke-6 di daerah lingkar tambang PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Sebelumnya, sudah dibangun dua bendungan di Satuan Pemukiman (SP) I Transmigrasi Tabiong untuk mengairi 200 hektar (ha) dan di Senutuk (300 ha), embung Puja (70 ha), embung Batu Bangkong di Benete (200 ha), Bendung Plampoo (memang dobel O), di Sekongkang (200 ha) dan rencananya satu lagi bendung di Murus Kecamatan Jereweh. Kalau sebelumnya, penduduk di sana dibantu beras untuk warga miskin. Kini sebaliknya, daerah lingkar tambang tersebut menjadi lumbung beras di KSB.

Itulah salah satu wujud dari program Community Development (Comdev) atau pengembangan masyarakat PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) yang memulai operasional pertambangannya Tahun 2000 lalu. ”Kami menyediakannya agar tidak ada gap antara perusahaan dengan warga lingkar tambang,” ujar Senior Cost and Program - Infrastruktur Comdev PT NNT kepada LombokNews.

Manajer Public Relations PT NNT Kasan Mulyono mengatakan bahwa program comdev dilakukan di bidang peningkatan kesehatan, pendidikan, infrastruktur dan usaha masyarakat. ”Ini dilakukan sejak awal,” katanya.

Ya rata-rata setiap tahunnya PT NNT menyediakan Rp22 miliar untuk comdev. Sejak 2000 sudah US $ 29.900.000 yang dikucurkannya. Bukan hanya membangun bendung, bahkan juga sekolah dan pasar. Dan semuanya itu direncanakan bersama - sepersetujuan Pemerintah KSB. ”Melibatkan legislatif, kami duduk bersama mendiskusikannya. Bukan hanya diberikan sepihak oleh PT NNT,” ujar Bupati KSB Zulkifli Muhadly.

Mengenai jumlah alokasi comdev, Zulkifli Muhadly menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada keharusan untuk jumlah tertentu. Dalam kontrak karya memang tidak dicantumkannya besaran pembiayaannya. Hanya kewajiban memberikan kontribusinya. ”Sebaiknya, jumlahnya dua kali lipat dari yang disiapkan sekarang,” katanya. Angka yang disebut Zulkifli adalah Rp 50 miliar. Sebab, KSB yang baru Tahun 2003 berdiri setelah memisahkan diri dari induknya Kabupaten Sumbawa masih harus lebih banyak lagi melengkapi infrastruktur antara lain pasar dan terminal serta perkantoran dan wisma.

Zulkifli Muhadly yang mengaku belum membaca Undang-Undang Perseroan Terbatas yang mengatur Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan yang bergerak di bidang sumber daya alam, menyebutkan KSB memerlukan anggaran berimbang. Sebagai pemilik lokasi tambang, ternyata karena menerima jatah royalti Rp60 miliar setahunnya, tidak lagi mendapatkan dana alokasi umum dari pemerintah pusat. ”Ini yang membuat royalti yang kami terima tidak memiliki nilai tambah,” ucapnya. Padahal, katanya, royalti PT NNT yang disetor ke pemerintah pusat sebesar Rp1,5 triliun. ”Nggak sebanding yang ke daerah,” ujarnya. Itu sebabnya, diharapkannya program comdev PT NNT Tahun 2008 nanti dimintanya sebesar Rp50 miliar. Ini untuk lebih menyentuh lapangan kerja, ekonomi kerakyatan.

Menurutnya, program comdev PT NNT cukup efektif. Walaupun sebagian besar pelaksanaan konstruksinya ditangani - bukan memberikan uang - sendiri, Zulkifli mengatakan justru semakin bagus hasil yang diterimanya. Seperti yang diterimanya, Jum’at (19/1-2007) awal tahun ini. KSB menerima bantuan gedung sekolah, bendungan, embung, puskesmas, pasar, jembatan dan fasilitas olahraga sejumlah 81 proyek senilai Rp24,5 miliar dari PT NNT. Kesemuanya diterima oleh Zulkifli Muhadli dari Senior Manajer Hubungan Eksternal PT NNT Malik Salim di SMP Negeri 2 Benete.

Bantuan pembangunan gedung sekolah dan lainnya tersebut adalah kelanjutan dari program pengembangan masyarakat perusahaan tambang asal Amerika Serikat terhadap masyarakat lingkar tambang. Sedangkan sebelumnya, selama 10 tahun terakhir terhitung 1996 hingga 2005, telah memberikan bantuan berbagai bentuk termasuk beasiswa keseluruhannya senilai Rp250 miliar.

SMP Negeri 2 Benete, yang dibangun dua tahap menghabiskan dana pembangunan Rp480 juta, yang pelaksanaan pekerjaannya juga dipercayakan kepada kontraktor lokal KSB, menjadikan masyarakat terbantu. Setidak-tidaknya, anak-anak usia sekolah SMP dan SMA tidak harus menempuh perjalanan hingga 25 kilometer dari desanya. Belum lagi kondisi jalan yang berat penuh tanjakan dan tikungan.

Seperti yang dikatakan oleh Kepala SMPN 2 Benete Syamsudin, menampung siswa dari desa Maluk dan Benete di sekitarnya. Sehingga 162 orang siswa kelas satu dan dua yang ditampungnya tidak lagi harus sekolah di Jereweh atau Sekongkang. ‘’Sebelumnya Newmont membantu sewa transportasi,’’ katanya. Ketua Komite Sekolah SMPN 2 Benete Lalu Sujarwadi mengucapkan syukurnya. Sebab selama ini ia menyekolahkan anaknya di Mataram, ibukota Nusa Tenggara Barat di Lombok yang berjarak tempuh enam jam perjalanan darat dan laut. ‘’Sebab lebih praktis dari pada harus ke Sekongkang atau Jereweh karena tidak menjamin belajarnya,’’ ucapnya.

Sejak menambang tembaga dan hasil ikutannya perak dan emas, sebagai kontrak sosialnya kepada masyarakat lingkar tambang, PT NNT sudah menetapkan empat pilar program pengembangan masyarakatnya. Yaitu pengembangan kesehatan, pendidikan, infra struktur dan ekonomi. Senior Manajer Hubungan Eksternal PT NNT Malik Salim mengatakan bahwa proyek ini untuk kepentingan masyarakat sebagai program pengembangan kapasitas. ‘’Agar kelak mampu bersaing dan antisipasi kalau tambang berakhir,’’ ujar Malik Salim, putra daerah KSB yang merupakan pejabat tertinggi orang Indonesia di PT NNT.

Bupati KSB Zulifli Muhadli yang menerima penyerahan kontribusi PT NNT di daerah lingkar tambang tersebut menyatakannya sebagai program pengembangan masyarakat yang sukses dan berhasil. Di sana, program pengembangan masyarakat biasa disebut community development atau disingkat comdev. ‘’Saya khawatir kalau dana comdevnya dimasukkan dalam APBD tidak sebaik kalau ditangani comdevnya Newmont,’’ katanya. Apalagi, kwalitas pekerjaannya walaupun diserahkan kepada kontraktor lokal pun sangat berkwalitas. ‘’Kenapa kalau comdev yang menangani bisa baik,’’ ucapnya membandingkan dengan pelaksanaan proyek APBD.

Perihal bantuan fisik, General Supervisor Infrastructure Wagimin Hadi Sastra mengemukakan rata-rata setiap tahunnya nilainya Rp15 miliar guna penyediaan bangunan yang diperuntukkan masyarakat. Malahan, 2007 ini mencapai US $ 1,6 juta. Antara lain berupa bangunan gedung TK, SMP, SMA, madrasah, mesjid, mandi cuci kakus (MCK), puskesmas, puskesmas pembantu, posyandu, irigasi.

Senior Supervisor untuk Social Development Faozan Maulad mengatakan dana comdev di bidang pendidikan non fisik selama setahun terakhir, 2006, mencapai Rp1,3 miliar. Antara lain digunakan untuk pelatihan guru, seminar, insentif guru dan operasional sekolah. Bahkan juga memberikan pendidikan non formal. Tidak termasuk dana beasiswa yang diberikan kepada 800 siswa dan mahasiswa hingga S3 hingga Rp1,6 setahunnya. Hingga kini jumlah warga yang telah menerima beasiswa 5.000 orang.(supriyantho khafid)

No Comments »

No comments yet.

Leave a comment








Recent Comments
» DHC MULAI BUKA POSKO RELAWAN PALESTINA
01/08/2009 04:18 am | 1 Comment
» PEMPROP NTB BANTU DANA SKRIPSI 3.000 MAHASISWA
01/07/2009 04:20 pm | 3 Comments
» PERTUMBUHAN PENDERITA HIV/AIDS NTB 5 BESAR NASIONAL
01/06/2009 04:33 pm | 1 Comment
» ENAM TAHUN ANTRIAN CALON JEMAAH HAJI NTB
01/05/2009 02:27 pm | 1 Comment
» GUBERNUR NTB PIMPIN AKSI SOLIDARITAS UNTUK PALESTINA
01/05/2009 01:08 pm | 2 Comments
Lomboknews.com - 2007 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com | busby seo challenge