MATARAM - Akhir Juli nanti, di pintu gerbang Pos Mosta Masin yang terletak di perbatasan antara Nusa Tenggara Timur Indonesia dengan Timor Leste akan diselenggarakan Family Meeting antar warga ex Timor Timur yang berdiam di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan sesama saudaranya yang masih berdiam di Timor Leste. Pertemuan itu difasilitasi oleh United Nation (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur. Departemen Luar Negeri sudah mengirimkan pemberitahuan adanya Family Meeting tersebut.
Panglima Kodam IX Udayana Mayjend TNI Syaiful Rizal mengemukakan pertemuan keluarga tersebut dirancang berlangsung selama seminggu. Ada yang dirancang bertemu sehari, tiga hari atau seminggu. ”Sekarang kondisinya kondusif,” ujar Syaiful Rizal sewaktu ditemui seusai peresmian Markas Korem 162 Wirabhakti di Jalan Lingkar Selatan Mataram, Kamis (19/7).
Komandan Korem 161 Wira Sakti/NTT Kolonel Inf.Arief Rahman ikut menjelaskan bahwa Family Meeting akan diikuti oleh 8.000 orang ex Timor Timur dari 14.000 kepala keluarga atau 148.000 jiwa yang berada di NTT. ”Sejumlah 8.000 orang itu yang sudah ditangani perumahannya,” kata Arief yang berada di Mataram menghadiri peresmian markas Korem 162 Wirabhakti tersebut.
Di sepanjang perbatasan NTT - Timor Leste, saat ini bertugas pasukan Batalion 742 Satya Wira Yudha dari Mataram. Jumlah keseluruhan personilnya, termasuk aparat teritorialnya mencapai 1.379 prajurit.
Secara keseluruhan, wilayah Nusa Tenggara yang menjadi daerah pengamanan Kodam IX Udayana dapat dijaga sendiri oleh masyarakatnya. Diharapkan tidak terprovokasi oleh kepentingan seseorang. Utamanya di daerah Lombok dan Sumbawa yang merupakan daerah muslim yang penuh kedamaian. ”Tunjukkan sebagai muslim yang membawa kedamaian,” ucapnya.
Menurutnya, saat ini di Lombok peristiwa kriminal sangat menonjol. ”Ini yang perlu diwaspadai. Masyarakat juga harus bisa menjaga keamanannya sendiri,” ujarnya. Tidak hanya menyerahkan penjagaan lingkungannya kepada aparat yang jumlahnya juga terbatas. Sebagai daerah tujuan wisata nasional dan internasional diinginkannya Lombok tidak sampai dinodai perbuatan yang tidak bertanggung jawab.
Ia yang sepekan sebelumnya telah berkunjung ke Flores dan Sumba juga mengharapkan masyarakatnya tidak mudah terprovokasi.
Walaupun di sekitar Nusa Tenggara Barat terdapat selat Lombok yang merupakan alur laut internasional, ia tidak memiliki dugaan akan adanya intervensi asing. ”Mereka akan menghormati kita,” ujarnya kemungkinan adanya kapal perang asing yang melewati selat Lombok.(supriyantho khafid)


