Lombok Sumbawa Online
Google
 
Wednesday, 11 July 2007 • PERTANIAN

MATARAM - Perjuangan tanpa kenal lelah yang dilakukan Gubernur NTB, Drs. H. Lalu Serinata beserta seluruh jajaran Pemerintah daerah dinilai pemerintah pusat telah berhasil mengantarkan pembangunan NTB mencapai kemajuan yang cukup menggembirakan. Dibidang Pertanian produksi padi di NTB yang mencapai 13,51 persen per tahun merupakan hasil produksi pertanian tertinggi di Indonesia. Padahal secara nasional peningkatan produksi padi di Indonesia hanya mencapai 5 persen pada tahun 2006 lalu. Dengan peningkatan produksi tersebut, kini NTB menjadi pemasok utama peningkatan produksi beras nasional. Selain itu, pembangunan di berbagai bidang juga mengalami kemajuan yang cukup pesat. Karena itu, tidaklah mengherankan apabila beberapa tahun belakangan ini Provinsi NTB mendapat perhatian berbagai pihak, utamanya dalam menarik minat investasi.

Atas keberhasilan pembangunan tersebut, Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penghargaan Tanda Kehormatan Satyalencana Pembangunan dan Satyalencana Wira Karya pada Gubernur NTB, Drs. H. L. Serinata di ajang Pekan Nasional (PENAS) XII, di Banyuasin Sumatera Selatan. Gubernur NTB menerima penyematan Penghargaan Tanda Kehormatan Satyalencana Pembangunan dan Satyalencana Wira Karya dari Presiden pada puncak Kegiatan PENAS di Banyuasin (sabtu,7-7-2007), kata Kabag Humas Provinsi NTB DR.Ir.H.Manggaukang Raba,MM yang mendampingi Gubernur pada acara tersebut.

Bagi Pemerintah Provinsi NTB, kata juru bicara Pemprov NTB yang akrab disapa Angga ini, keberhasilan NTB meraih penghargaan dan prestasi pembangunan yang membanggakan tersebut, merupakan keberhasilan dan kerja keras seluruh komponen masyarakat NTB. Keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras dan bentuk dukungan masyarakat NTB terhadap pembangunan dan kepemimpinan Gubernur NTB, tandasnya.

Karena itu, hal ini harus terus dipertahankan dimasa yang akan datang. Gubernur sangat berterima kasih atas partisipasi dan semangat seluruh masyarakat dalam membangun daerah, sehingga NTB dapat mencapai kemajuan yang kita harapkan bersama. Penghargaan yang sama juga diterima 7 bupati se-NTB, yakni Bupati Bima, Ferry Zulkarnaen, ST., Plt. Bupati Dompu, Syaifurrahman Salman, SE., Bupati Sumbawa, Drs. Jamaluddin Malik, Bupati Sumbawa Barat, KH. Zulkifli Muhadli, SH., MM. Selain itu, Bupati Lombok Timur, Ali Bin Dachlan, Bupati Lombok Tengah, H. L. Wiratmadja dan Bupati Lombok Barat, Drs. H. Iskandar. ” Ini menunjukkan bahwa Pembangunan di NTB selankah lebih maju dari masa-masa sebelumnya, terangnya kepada wartawan di Kantor Gubernur NTB, baru-baru ini.

Disisi lain Kepala Dinas Pertanian NTB, Dr. Ir. Mashur, MS, menegaskan, bahwa sektor pertanian hingga kini tetap menjadi andalan pembangunan NTB. Bahkan sektor pertanian tetap menjadi andalan atau sebagai lokomotif pembangunan perekonomian nasional, tandasnya dalam berbagai kesempatan. Karenanya, Strategi umum yang ditempuh dalam revitalisasi sektor pertanian antara lain adalah peningkatan kesejahteraan petani, peningkatan daya saing produk pertanian dan menjaga kelestarian sumberdaya pertanian. Sektor pertanian yang disebut sebagai sektor yang strategis, hendaknya mampu menyediakan pangan yang cukup, berkualitas dan merata. Dalam hal ini, daerah NTB telah berhasil berswasembada beras sejak tahun 1984. Produksi padi di NTB berdasarkan Angka Tetap Daerah (ATAPDA) 2006 sebesar 1.552.627 ton gabah kering giling (gkg), meningkat sebesar 184.758 ton atau meningkat 13,51 %, jika dibandingkan dengan produksi padi tahun 2005.

Untuk itu, tegasnya, pelestarian swasembada beras harus benar-benar dipersiapkan sejak penyusunan perencanaan, penyedia sarana dan prasarana yang dibutuhkan, pelaksanaan kegiatan sampai ke tingkat monitoring dan evaluasi di lapangan.

KEMBANGKAN BERBAGAI INOVASI TEKNOLOGI.
Dalam upaya mendukung peningkatan produksi dan kualitas hasil pertanian di NTB, pemerintah daerah terus mengembangkan berbagai inovasi teknolgi pertanian mutahir. Selain upaya peningkatan indeks pertanaman (IP), percepatan pengolahan tanah dan tanaman dengan dukungan alat mesin, juga perhatian terhadap sistim tanam gogorancah, pengaturan pembagian air atau giring gilir yang cukup, pengembangan padi gogo di lahan kering/tidur. Pemanfaatan lahan bukaan baru, katanya Kadis Pertanian yang low profil ini, tetap menjadi perhatian, termasuk bagaimana memanfaatkan hasil rehabilitasi jaringan irigasi, pemanfaatan lahan perkebunan transmigrasi.

Tidak hanya itu, pengembangan teknologi tanpa olah tanah (TOT) dan upaya penunjang, peningkatan koordinasi dengan dinas dan instansi terkait seperti Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Koperasi, Bulog dan lainnya tetap dikedepankan.

Menyinggung luas lahan kering dan masih bisa berpotensi ditanam padi seluas 893.758,58 hektar. Sementara yang telah dimanfaatkan untuk pertanian 287.085,80 hektar. Luas baku sawah 215.783 hektar (IP 100 persen seluas 78.391 hektar dan IP 300 persen seluas 38.202 hektar). Alih fungsi lahan sawah 2.243,29 hektar dan lahan kering 665 hektar.

Hal lain yang mendapat perhatian dari pemerintah dalam mengembangkan tanaman pertanian di NTB, khususnya saat musin kering, ujar pengganti Ir. H. Agil Husein, MM., ini, pemerintah memberikan bantuan benih kepada petani di NTB senilai Rp 42 milyar. Di mana, penyaluran benih tersebut langsung disalurkan melalui pihak kabupaten. Pemberian bantuan benih, ungkapnya, dikarenakan penggunaan benih unggul bersertifikat di NTB masih rendah, yakni hanya sekitar 50 persen.

Untuk itu, pihaknya akan berupaya semaksimal mungkin menyalurkan benih pada petani, sehingga mampu mempertahankan predikat NTB sebagai lumbung pangan nasional. Mencapai itu semua, terangnya, berbagai sarana kebutuhan petani seperti saluran irigasi dan keperluan petani, seperti pupuk atau obat-obatan tetap disediakan.

Hal senada juga disampaikan Kepala BUKPD Provinsi NTB, Ir.H. Lalu Wirhan, usaha-usaha untuk meningkatkan produktivitas padi dengan bantuan teknologi sudah banyak dilakukan guna meningkatkan pendapatan petani. Dengan bantuan teknologi yang sudah diterapkan tingkat produktivitas padi daerah NTB terus meningkat. Pada tahun 2007 direncanakan produktivitas padi mencapai rata-rata 46,41 kuintal per hektar. Hal tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2006 yang hanya sebesar 46,25 kuintal per hektar.

Keadaan tersebut, bagi NTB yang sebagian besar lahannya merupakan lahan kering atau tadah hujan cukup membanggakan, bahkan mampu menjadi daerah penyangga pangan nasional yang sebelumnya merupakan salah satu daerah rawan pangan.

Dengan tingkat produktivitas yang dicapai tersebut di atas, pada tahun 2007 diperkirakan luas areal tanam 356.555 hektar atau meningkat 7,79 persen dibandingkan tahun 2006 sebesar 330.766 hektar, dengan perkiraan luas panen sebesar 317.473 hektar. Demikian pula dengan perkiraan produksi pada tahun 2007 akan mencapai 1.473.392 ton gabah kering giling menurun sebesar 1,98 persen dibandingkan tahun 2006 yang mencapai 1.503.287 ton. Penurunan produksi tersebut akibat adanya bencana kekeringan yang terjadi sampai dengan Februari 2007 pada beberapa wilayah produksi padi di NTB seluas 39.082 Ha.

Pada bagian lain, ucapnya, terus meningkatnya produksi padi di NTB setiap tahunnya, juga diikuti dengan peningkatan kualitas gabah yang dihasilkan. Para petani saat ini telah mengerti teknologi untuk menghasilkan gabah yang berkualitas baik, baik melalui cara budidaya maupun penanganan pascapanennya, walaupun ada beberapa yang masih di bawah standar.

Dengan telah diterapkannya teknologi pascapanen, lanjutnya, rata-rata nilai kehilangan hasil yang dialami petani setiap tahunnya dapat ditekan, walaupun saat ini masih cukup tinggi yaitu rata-rata masih mencapai 10,37 persen kehilangan hasil pada saat panen dan perontokan. Angka kehilangan hasil sebesar 10,37 persen tersebut, dicapai setelah para petani memanfaatkan peralatan untuk penanganan pasca panen seperti pedal threser, power threser dan peralatan lainnya. Diharapkan pada tahun-tahun mendatang dapat ditemukakan varietas padi baru dengan tingkat kerontokan bulir rendah yang dapat menekan tingkat kehilangan hasil.

GUBERNUR PERJUANGKAN TAMBAHAN KAPASITAS GUDANG
GUBERNUR NTB, Drs. H. L. Serinata mengakui salah satu permasalahan yang sering muncul ketika musim panen melimpah, adalah kurangnya kemampuan dan kapasitas tampung gudang Perum Bulog NTB, sementara kebisaaan menyimpan gabah ke lumbung sebagaimana tradisi yag dilakukan oleh para orang tua masa lalu sudah mulai ditinggal. Karena tidak tersedia tempat penyimpanan gabah yang memadai, maka hal; tersebut menurut Gubernur mendorong petani menjual gabahnya pada musim panen secara sekaligus. Kondisi tersebut pada gilirannya memicu anjloknya harga gabah di pasaran. Padahal bila a kearifan lokal menyimpan padi di lumbung tetap dijaga, berbagai persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat tidak akan terjadi, ungkap Gubernur ketika membuka Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) di SPP Negeri Mataram, beberapa waktu lalu.

”Dulu orang tua kita, setiap musim panen tiba memasukkan gabahnya ke lumbung atau disimpan. Kini, ketika musim panen, semua hasil panen dijual dan seluruh petani melakukannya. Hal inilah yang menyebabkan harga gabah anjlok,” terangnya.

Untuk itu, Gubernur NTB mengharapkan seluruh petani di daerah ini memahami tentang pentingnya kearifan lokal yang menjadi peninggalan nenek moyang di NTB. Bagaimana pun, katanya, berbagai hal positif yang ditunjukkan nenek moyang di masa lampau harus diaktifkan kembali, sehingga permasalahan yang dihadapi selama ini mendapatkan solusi tepat demi kesejahteraan petani itu sendiri.

Namun demikian, Gubernur berjanji akan memperjuangkan adanya penambahan kapasitas daya tampung Gudang Bulog NTB sehingga dapat menyerap lebih banyak hasil panen untuk mencegah anjoknya harga pada saat panen raya tiba. Terbatasnya kapasitas gudang pada Divisi Regional Bulog NTB, menyebabkan kapasitas daya tampung pada saat panen raya terbatas, sehingga intervensi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga ditingkat petani sulit dapat dilakukan.

Penambahan kapasitas gudang ini sangat penting, menurut Gubernur karena sebagai daerah Lumbung Pangan Nasional peningkatan produksi pertanian di NTB dari tahun ke tahun terus meningkat. Peningkatan tersebut seiring dengan upaya-upaya pemerintah daerah untuk mengembangkan berbagai inovasi teknologi disertai penyedia-n berbagai sarana/ prasarana yang mendukukung peningkatan jumlah produksi dan kualitas hasil pertanian di NTB, terangnya.(Humas).

No Comments »

No comments yet.

Leave a comment








Recent Comments
» PELANTIKAN GUBERNUR NTB DITUNDA
08/28/2008 06:16 pm | 2 Comments
» MENDAKI RINJANI YANG CANTIK
08/28/2008 10:45 am | 1 Comment
» INDUSTRI AGRO DI PULAU SUMBAWA
08/28/2008 10:42 am | 3 Comments
» ABDUL MALIK JADI SEKDA NTB
08/27/2008 10:32 am | 4 Comments
» KPUD NTB KAWATIR JADWAL PELANTIKAN GUBERNUR NTB TERPILIH TERGANGGU
08/27/2008 04:29 am | 3 Comments
Lomboknews.com - 2007 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com | busby seo challenge