MATARAM - Produksi padi Nusa Tenggara Barat (NTB) diramalkan turun 10,19 persen atau 158.138 ton gabah kering giling (gkg) karena berkurangnya luas panen 37.050 hektar atau 10,85 persen. Walaupun produktivitasnya diperkirakan naik sebesar 0,34 kwintal atau 0,75 persen per hektar. Padahal, Program Peningkatan Beras Nasional (P2BN) Departemen Pertanian meminta NTB menghasilkan 1.615.000 ton gkg.
Perkiraan menurunnya produksi padi NTB tersebut dikemukakan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB Marthanius Moechtar berdasar hasil penghitungan Angka Ramalan II. ”Tahun ini target peningkatan beras nasioal untuk wilayah NTB diperkirakan belum tercapai,” ujarnya, Kamis (5/7).
Menurut Marthanius Moechtar, penurunan produksi padi NTB sudah pernah terjadi akibat curah hujan yang rendah sehingga menyebabkan kekeringan di beberapa tempat. Akibatnya terjadi gagal tanam dan gagal panen (puso) yang cukup besar terutama di pulau Sumbawa sehingga luas panen berkurang 7,85 persen yang dialami oleh padi sawah maupun padi ladang.
Pada tahun 2002 sebanyak 88.445 ton gkg atau 6,06 persen dibanding tahun sebelumnya. Tahun 2005 pun mengalami penurunan 6,74 persen. Pengaruh curah hujan pula maka pada tahun 2006 lalu, meningkat lagi cukup tinggi sebesar 184.758 ton atau 13,51 persen sehingga keseluruhan produksinya mencapai 1,55 juta ton gkg.
Adapun ketersediaan beras yang diperlukan untuk konsumsi penduduk NTB sendiri dirasa cukup karena diperhitungkan produksinya 1.394.490 ton gkg atau 789.776 ton beras. Dari jumlah tersebut terdapat surplus sebanyak 245.038 ton beras yang sebagai mana tahun-tahun sebelumnya untuk memenuhi permintaan stock pangan nasional oleh Perum Bulog yang disuplai ke Nusa Tenggara Timur, Bali dan bahkan Jember.(supriyantho khafid)

