MATARAM - Tingginya angka kematian ibu (AKI) melahirkan di Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga 97 orang per 100.000 kelahiran tertinggi disebabkan perdarahan dan infeksi. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan, 87,7 persen ibu yang pertama kali melahirkan melakukannya di rumah. Padahal 95,7 persen tidak memenuhi persyaratan dan 84,7 persen dibantu oleh dukun.
Menurut Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi (POGI) Mataram SDA Soesbandoro, pertolongan dukun yang 32 persen tidak terlatih adalah memiliki resiko tinggi. ”Perdarahan dan komplikasi yang tinggi mencapai 70 persen dari kematian ibu melahirkan,” ujarnya. Sedangkan ibu yang mengalami masalah tersebut hanya 2,6 persen yang dirujuk ke rumah sakit. Semestinya, normalnya berdasar standar World Health Organization (WHO) adalah 20 persen.
Selebihnya, dari hasil penelitian itu, penyebab tingginya AKI di luar penyebab medis adalah kemampuan membayar ibu melahirkan rendah sekali atau 81 persen kurang dari Rp10 ribu dan kendala transportasi 42 persen.
Pada tahun 1986, AKI di NTB mencapai 780 ibu meninggal dari 100.000 kelahiran hidup sewaktu AKI nasional 450 per 100.000 kelahiran hidup. Kondisi ini sama seperti di Afrika sebagai negara terbelakang. Berdasar Survey Demografi Kelahiran Indonesia (SDKI) tahun 1997 angka nasionalnya 334 di NTB masih mencapai 394.
Ia mengemukakan AKI tersebut, sewaktu memberikan keterangan pers kepada wartawan menjelang berlangsungnya Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) POGI XVI di Mataram, 5-11 Juli. PIT POGI akan diikuti 1.045 orang spesialis obstetri dan ginekologi (Obgin) se Indonesia dan 378 orang calon spesialis Obgin. Temanya adalah peran obgin dalam penurunan angka kematian ibu.
Soesbandoro juga mengemukakan bahwa POGI juga akan melakukan penanda tanganan kesepakatan bersama dengan pihak Singapura untuk pelatihan dan penggunaan endoskopi. Peralatan ini guna menghindarkan dilakukan operasi bedah perut yang selama ini dilakukan misalnya untuk mengangkit tumor. ”Lebih sederhana menggunakan endoskopi dan singkat waktu perawatannya di rumah sakit,” ujar Soesbandoro.(supriyantho khafid)


