MATARAM - Hutan di Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak dalam kondisi baik. Luas hutan yang mengalami kerusakan mencapai 159.343 hektar dan lahan non hutan yang rusak yang kritis 368.619 hektar. Laju penggundulan hutan setiap tahunnya mencapai 4.000 hektar. Sebelumnya, selama periode 1998-2001 luas hutan yang mengalami kerusakan mencapai 29.300 hektar setahunnya. Penyebab utamanya, adalah perambahan dan penebangan liar selain teknik budi daya pertanian tanpa konservasi tanah dan air.
Perusakan hutan oleh masyarakat disebabkan rendahnya kepemilikan lahan sawah di NTB yang rata-rata sepertiga hektar per kepala keluarga. ”Masalahnya di sini karena kemiskinan dan pengangguran dan lapar lahan,” ujar Kepala Dinas Kehutanan NTB Baderun Zainal didampingi Kepala Bagian Humas Pemerintah Propinsi (Pemprop) NTB Manggaukang Rabah, di Mataram.
Gangguan keamanan hutan yang tercatat selama 2003-2006 terjadi 578 kasus, kebakaran dan perambahan hutan seluas 7.662,23 hektar, dan kayu curian yang bisa diselamatkan 4.784,57 meter kubik. Nilai kerugian yang dihitung oleh Dinas Kehutanan NTB sebesar Rp3,488 miliar.
Disebutkannya kemudian bahwa dari perusakan hutan tersebut setiap tahunnya terjadi kekurangan 80.000 meter kubik yang digunakan untuk kayu bangunan dan 480.000 meter kubik. Karenanya, Pemprop NTB sudah menghentikan perizinan penebangan hutan agar bisa menjaga dirinya sendiri. ”Fungsi tata air lebih penting dari pada nilai manfaat hutan,” katanya.
Tidak heran kalau berdasarkan neraca air di pulau Lombok secara keseluruhannya mengalami defisit 1,178 juta meter kubik. Di sana ada empat daerah aliran sungai (DAS) yaitu Jelateng, Dodokan, Putih, dan Menanga. DAS Dodokan yang menjadikan defisit 2.156,9 jutaq meter kubik dan DAS Menanga defisit 258,2 juta meter kubik. Tetapi dari keadaan 14 DAS di pulau Sumbawa mencapai 2.846 juta meter kubik.
Baderun pun mengakui bahwa gerakan rahbilitasi hutan dan lahan (Gerhan) di NTB kurang berhasil karena pelaksanaannya tidak pernah tepat waktu. Ini akibat turunnya dananya setelah memasuki musim kemarau. Misalnya tahun pertama pelaksanaan Gerhan, dimulai Agustus 2004, kemudian tahun kedua 23 Nopember 2005, tahun ketiga 22 Nopember 2006. Tahun ini lebih cepat yaitu mulai 22 Juni 2007.Namun, Baderun pun mengaku kondisi vegetasi di Lombok berdasarkan pengamatan satelit sebenarnya semakin menghijau dan sebaliknya di Bima semakin membara.(supriyantho khafid)


