MATARAM - Di Nusa Tenggara Barat (NTB), jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang menyandang buta aksara setahun terakhir ini mencapai 615.823 orang atau 21,12 persen. Mereka yang mengalami buta aksara terbanyak adalah perempuan mencapai 410.989 orang atau 26,45 persen, lebih tinggi bila dibandingkan laki-laki yang mencapai 204.834 orang atau 15,18 persen. Jumlah terbesar berada di pedesaan, 441.668 orang atau 71,72 persen. Sedangkan di daerah perkotaan 174.155 orang atau 28,28 persen.
Kepala Kantor Wilayah Biro Pusat Statistik NTB Marthanius Moechtar hasil data survey sosial ekonomi nasional yang dilakukan sebelumnya. Ia mengingatkan, bahwa apabila terjadi perbedaan ditegaskannya bahwa angka yang dipaparkan tersebut berdasar kelompok usia. ”Bisa saja terjadi perbedaan surveynya,” katanya, sewaktu memberikan keterangan pers bulanan di kantornya, Selasa (5/6) pagi.
Jumlah penduduk buta aksara tergolong tinggi. Termasuk 10 propinsi di Indonesia diantara Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Irian Jaya dan Papua Barat. Tngginya penduduk yang buta aksara tersebut disebabkan empat faktor yakni kurangnya fasilitas pembelajaran, tingginya putus sekolah, faktor kemiskinan dan faktor budaya masyarakat sendiri.
Dari sembilan kota dan kabupaten se NTB, didapati Kabupaten Lombok Tengah merupakan kabupaten yang paling banyak jumlah penduduk buta aksara. Angkanya 179.946 orang atau 31,57 persen. Sedangkan Kabupaten Sumbawa Barat yang paling sedikit penduduknya yang buta aksara 6.098 orang atau 9,39 persen.
Secara keseluruhan, dari 622.074 jiwa penduduk usia di atas 10 tahun atau 18,35 persen yang buta aksara, terinci penduduk usia 10-14 tahun yang buta aksara 6.251 jiwa atau 1,28 persen, usia 15-44 tahun sebanyak 210.963 jiwa atau 10,24 persen, usia 45-60 tahun sebanyak 237.258 jiwa atau 41,28 persen, usia 61 tahun lebih mencapai 167.602 jiwa atau 62,47 persen.(supriyantho khafid)




