Lombok Sumbawa Online
Jual Fiber Optic Link IIX untuk Seluruh Indonesia
FULL FO sampai pelanggan, cocok untuk korporat, game online, isp dll.
tarif: 1 Mbps=13jt, 2Mbps=15jt, 4Mbps=20jt, 6mbps=26jt, 10Mbps 35jt per-bulan.
kami juga menyediakan bandwidth internasional 10jt/Mbps per-bulan
info lebih lanjut hubungi : 081353570001
Google
 
Sunday, 3 June 2007 • SENI BUDAYA

MATARAM - Seorang seniman teater dari Lombok Salman Faris meluncurkan karya sastranya, novel berjudul Tuan Guru. Jum’at (1/6) malam lalu, oleh Institut Studi Krisis dan Perdamaian (InSkrip) bekerja sama dengan Institut Rumah Arus (Irus) dilakukan diskusi dan bedah buku. Temanya Sastra Menggugat Tuan Guru. Padahal Tuan Guru, dua kata ini di Lombok adalah berarti kiyai. Seorang pemuka agama yang dihormati dan menjadi panutan masyarakat. Tetapi kesehariannya dinilai oleh Salman, banyak memperoleh keuntungan dari ketokohannya.

Novel Tuan Guru ini yang oleh sebagian pengunjung malam itu dinilai kontroversial, dibahas oleh Tuan Guru Haji Hamzah dari Pondok Pesantren Kiblatul Mustakim Jenggik Lombok Tengah dan seorang dosen Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri Mataram Abudu Wahid. Juga pemerhati budaya Lalu Suprapta - yang berpangkat Komisaris Besar Pol sehari-hari Wakil Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Wakapolda NTB).

Naskah yang ditulis Salman Faris tahun 2006 lalu ini, disertai komentar dari kritikus seni-pemikir kebudayaan Nirwan Ahmad Arsuka, sastrawan pelaku teater dan dosen sosiologi Universitas Indonesia Radhar Panca Dahana, serta penyair-esais-kritikus seni Wicaksono Adi, dicetak Mei 2007, diterbitkan oleh Genta Press bersama Nusantara Cinema. Tebalnya 641 halaman yang terdiri dari 40 bagian.

Salman Faris sendiri mengatakan pandangannya melihat kembali pondok pesantren dari luar. ”Saya menulis Tuan Guru ini setelah 13 tahun di dunia teater. Ada persoalan substansial yang selalu ditutupi,” katanya sewaktu berbicara awal pada malam itu. Menurutnya, ada madrasah yang kondisinya lebih buruk walaupun tetap memperoleh dana bantuan hasil dari mengedarkan brosur yang tetap dijalankan di lingkungan masyarakat. ”Lalu kemana dananya. Saya sampai menangis sendiri,” ucapnya.

Kemudian, ia menunjuk ibunya sendiri seorang pedagang bakulan yang dibandingkannya dengan wanita di Jawa. Walaupun sama-sama buta huruf dan bodoh, namun wanita Jawa memiliki perubahan visi hidupnya. Tidak bergantung kepada kiainya. ”Kualitas kemanusiaannya lebih visioner,” ujarnya.

Lantas, yang disedihkan adalah seorang kawannya di pesanteren yang ditemukan bekerja di pom bensin (SPBU). Kenapa dulu tidak sekolah STM saja kalau kemudian hanya bekerja di SPBU. ”Saya tidak menentang atau menolak tuang guru. Tapi menyayangkan,” katanya. Karena itu ia menyontohkan kehidupan pemuka agama di Pakistan yang mengutamakan mengajarkan aqidah, walaupun mereka sendiri harus bekerja kasar. Sebaliknya, tuan guru di Lombok ada yang sedari dulu hanya menerima amplopan kehadirannya tetap sebesar Rp25 ribu. Menurutnya, seharusnya ada yang berubah. ”Ini semangat yang ada dari novel ini. Saya yang berani katakan pondok pesantren salah,” ucapnya.

Sebelumnya, mari kita perkenalkan diri Salman Alfarisi - demikian biasa dipanggil teman-teman senimannya. Pria, kelahiran Rensing Lombok Timur, 1974, yang kini sedang mengikuti program Strata 2 Antropologi pernah selama 13 tahun menjalani pendidikan Mahad di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Pancor di Lombok Timur. Ia adalah tamatan Akademi Seni Drama Indonesia (Asdrafi) Yogyakarta 2000 dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta jurusan teater 2004 adalah pendiri Dapur Teater Lombok yang karyannya bernuansa kearifan lokal. Salman Alfarisi yang juga sempat dua tahun (1997-1999) di Malaysia untuk memahami kehidupan TKI.

Karyanya sendiri yang telah dipentaskan di Mataram, pertama adalah Rimba Jiwa Sunyi : Matinya Tradisi Di Atas Pertarungan Dua Kelamin (7/10-2004). Kedua, Perempuan-perempuanku Apa Maumu (25/11-2004). Ketiga, Perempuan dan Dedaunan Sama-Sama Tak Ingin Terbakar (29/11-2004). Keempat, Aku Hanya Menggoda (31/12-2004). Kelima, Airku, Airmu Air Bencana (12/1-2005). Setahun lalu, (27/2-2006), ia menampilkan Sekam - yang menggugat kebangsawanan pria di Lombok.

Adalah Paox Ibenz, direktur Irus, yang mengemukakan bahwa tidak pernah dibayangkan kalau para Tuan Guru yang pada 10an tahun lalu hanya dikenal sebagai pendulang suara pada pemilu kini ikut memasuki rana politik. ”Kini telah berubah. Karena itu Irus sebagai lembaga kajian dan transformasi tertarik terhadap bedah novel realis sosial ini,” ujarnya sewaktu berbicara sebagai pengantar acara.

Lalu Suprapta yang Wakapolda NTB tadi, memang senang dengan adanya karya Tuan Guru tersebut. Selama ini, sewaktu 24 tahun merantau, berada di luar Lombok, menunggu-nunggu karya sastra tertulis dari daerah Sasak ini. Padahal banyak karya sastra yang diilhami dari isi lontar yang didapat dari Lombok. ”Banyak karya sastra lisan. Kenapa tidak ditulis. Kenapa Lombok tidak maju,” katanya.

Tetapi mengemukakan pendapatnya, Suprapta mengatakan karya sastra dalam bentuk novel ini membuatnya terperangah. Isinya dinilai kontroversial. ”Saya kawatir terhadap buku ini,” ucapnya menilai. Disebutnya bahwa memang ada tiga kelompok Tuan Guru. Pertama, berperan memberikan kontribusi keberadaan pesantren. Kedua, pesantren dan tuan guru yang berguna dan berperan terhadap kehidupan masyarakat. Ketiga, bahwa tuan guru dianggap sebagai cahaya, penuntun yang fantastik. ”Kalau saya memilih yang kedua. Kemana masyarakat dibawa kalau tidak ada tuan guru,” ujarnya.

Karena itu, setelah membaca sebagian - karena belum selesai seluruhnya membaca novel Tuan Guru ini, mengajak Salman agar lain kali tidak menulis yang kontroversial. ”Jangan sampai ada orang yang tersinggung,” katanya.

Pemimpin Pondok Pesantren Kiblatul Mustakim Tuan Guru Haji Hamzah yang juga sarjana hukum dan mengajar pula di Universitas Nahdlatul Wathan, mengakui bahwa tuan guru memang masih dominan di masyarakat. Dibutuhkan sewaktu pemilihan umum ataupun pemilihan kepala daerah, pelaksanaan Keluarga Berencana. ”Ulama itu ibarat bintang di langit. Bagaikan lampu dan pewaris nabi,” ucapnya.

Tiga kelompok tuan guru yang disebutnya adalah pertama yang menyandarkan hidupnya pada kehidupan. Kedua, bersifat bunglon. Samina Watona atau menerima dan bergantung kepada status quo. ”Leto lete ini itu iya,” ujarnya. Artinya kesana kemari dilakukan. Sedangkan yang ketiga, tidak menggantungkan dirinya hanya kepada Allah SWT yang disebutnya kemudian tuan guru yang bagaikan pedang yang bisa digunakan untuk apa saja.

Isi novel itu sendiri, dikritiknya ada bagian yang sensitif. ”Memang ada yang sensitifnya, istri tuan guru digituin ini yang sensitif,” katanya. Namun ia juga mengakui di sisi lain bahwa kehadiran masjid hanya ramai dari proposal pembangunannya. Tapi tidak ada yang memenuhi isinya.

Dosen Fakultas Dakwah IAIN Mataram Abudu Wahid menyebut novelnya Salman Faris ini memang dahsat. Novel ini utamanya adalah kritik sosial. Dikatakannya bahwa bukan tuan gurunya yang terpenting dari buku ini. Tapi adanya pengungkapan terjadinya kekerdilan dan penindasan. Itu sebabnya dikatakan bahwa kehadiran karya Salman ini sebaga peran sastra adalah nyata merupakan bagian yang penting dari sejarah. Tanpa keterlibatan sastra dalam sejarah menimbulkan banyak misteri. ”Penulis buku ini berontak. Tapi mencari jalan keluar menuju masyarakat demokratis agar tidak terjadi penindasan,” ucapnya.(supriyantho khafid)

3 Comments »
  • apa gk sebaiknya masalah pemerintahan dan pendidikan yang harus di gugat. Tuan Guru malah telah banyak memberikan sumbangsihnya pada masyarakat. atau penulis hanya ingin unjuk gigi aja spy cepet dikenal???

    Comment by jalal — November 6, 2007 @ 1:33 am

  • aww. buat kak salman
    semoga selalu dilindungi Allah swt. orang yang cukup berani menghadapi kenyataan hidup. mengatakan sesuatu yang orang lain masih berpikir sekian kali lipat, hanya untuk menjaga perasaan agar tidak tersinggung. Perjuangan pendidikannya yang luar biasa, ketika kita menengok sekian puluh tahun yang lalu bahwa dia lahir dari rahim seorang ibu yang lembut, namun dengan segala keterbatasannya beliau belum bisa menikmati indahnya pengetahuan luas. seorang anak yang bercita-cita membahagiakan banyak orang. Hebatttt. semoga suatu saya bisa bertemu dengan seorang ibu yang dengan kesabarannya menanti putranya di ujung sebrang. semoga kk menjadi orang yang bermanfaat untuk diri sendiri dan untuk bangsa yang beraneka ini. hati-hati saja dalam membuat karya-karya yang lain. Semoga karyanya bermanfaat. DITUNGGU NOVELNYA YANG ISLAMI. OK? mawants_7000127

    Comment by mawants — December 1, 2007 @ 4:22 pm

  • Sangat kritis dan berani. Salut atas upaya kritik sosial bung salman. Masyarakat dan kita semua memang harus di tunjukkan dan menunjukkan cara pandang dari sudut yang berbeda, agar kita bisa melangkah lebih cepat kedepan.. Di tunggu kreatifitas kritis lainnya. Maju terus..

    Comment by Ridwan — December 17, 2007 @ 5:49 pm

  • Leave a comment








    Recent Comments
    » DHC MULAI BUKA POSKO RELAWAN PALESTINA
    01/08/2009 04:18 am | 1 Comment
    » PEMPROP NTB BANTU DANA SKRIPSI 3.000 MAHASISWA
    01/07/2009 04:20 pm | 3 Comments
    » PERTUMBUHAN PENDERITA HIV/AIDS NTB 5 BESAR NASIONAL
    01/06/2009 04:33 pm | 1 Comment
    » ENAM TAHUN ANTRIAN CALON JEMAAH HAJI NTB
    01/05/2009 02:27 pm | 1 Comment
    » GUBERNUR NTB PIMPIN AKSI SOLIDARITAS UNTUK PALESTINA
    01/05/2009 01:08 pm | 2 Comments
    Lomboknews.com - 2007 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com | busby seo challenge