MATARAM - Penderita HIV-AIDS di Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah mencapai 127 orang diantaranya 29 orang meninggal. Mereka yang terkena HIV sebanyak 82 orang dan 45 orang yang menderita AIDS. Mereka kebanyakan terjangkit akibat hubungan seksual bukan dengan pasangannya. Ironisnya, ada seorang balita yang juga menderita selain ada 13 orang ibu rumah tangga yang juga tertular. Penderitanya yang lain adalah akibat heteroseksual 60 orang atau 47,62 persen, akibat suntik 40 orang (31,75 persen), homo tiga orang (2,38 persen).
Dr. Elly Rosila Wijaya selaku Ketua Badan Eksekutif Jejaring Mulia - kumpulan pegiat peduli HIV-AIDS di Mataram mengemukakan bahwa temuan semakin banyak karena adanya Klinik Voluntary Conselling and Testing (VCT) di Rumah Sakit Umum (RSU) Mataram dan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mataram, RSU Praya. ”Ditemukan peningkatan tajam,” ujarnya sewaktu tampil berbicara pada malam renungan Peduli HIV-AIDS di Pantai Ampenan, Sabtu (2/6). Elly juga menjabat sebagai penanggung jawab Klinik VCT Balai Matahari RSJ Mataram, anggota satuan tugas Penyuluhan dan Penerangan Badan Narkotika Propinsi NTB dan direktur RSJ Mataram.
Para penderita HIV-AIDS berasal dari kalangan TKW, ibu rumah tangga janda TKI Malaysia, pekerja seks komersial, pramuwisata.
Karena itu, Elly Rosila Wijaya mempersilahkan warga di sekitar lokasi Selasar Pelabuhan Ampenan untuk memeriksakan dirinya di Institut Rumah Arus yang membuka pelayanan gratis bekerja sama dengan Klinik VCT Balai Matahari.
Secara rinci dijelaskan bahwa penderita HIV-AIDS sudah menyebar di enam daerah kabupaten-kota se NTB. Hanya dari Dompu dan kota-kabupaten Bima yang belum ada datanya karena belum dilakukan pemeriksaan. Di Mataram ditemukan adanya 37 orang penderita HIV dan 27 orang penderita AIDS, Sumbawa Barat 17-4, Lombok Timur 10-5, Lombok Barat 8-6, Lombok Tengah 8-1 dan Sumbawa 2-2.
Adapun penyelenggaraan Malam Renungan Peduli Aids yang diselenggarakan di Selasar Pantai Ampenan diadakan oleh Jejaring Mulia bersama Burnet Indonesia dan Institut Rumah Arus didukung oleh warga lokal sekitar bekas Pelabuhan Ampenan. Diawali oleh atraksi Happening Art oleh Zaeni Muhammad bersama tujuh orang anak-anak setempat, dan orasi budaya oleh Mustakim Biawan, dilanjutkan dengan pentas hiburan spontan oleh remaja setempat pula.(supriyantho khafid)


