MATARAM - PT Sentosa Jaya Abadi (SJA) dari Surabaya meminati investasi komoditi jagung di Nusa Tenggara Barat (NTB). Pengajuan rencana investasi tersebut sudah disampaikan oleh Sudarmono dari SJA kepada Gubernur NTB Lalu Serinata, Selasa (22/5). Potensi lahan jagung di NTB seluas 800.000 hektar dan baru dimanfaatkan sekitar lima persen atau 40.000 hektar saja.
Kepala Bagian Humas Pemerintah Propinsi NTB Manggaukang Rabah menjelaskan bahwa masih perlu dibicarakan sistem kerja samanya dengan petani, kemitraan ataukan bagi hasil. ”Mereka menyatakan tertarik mengembangkan produksi jagung di sini,” katanya.
Sekarang ini produksi tanaman jagung di NTB baru menghasilkan rata-rata 2,5 - 2,7 ton per hektar. Padahal idealnya bisa sampai sembilan ton kalau menggunakan bibit unggul dan pola tanamnya benar.
Untuk keperluan pengembangan produksi jagung ini, Pemerintah Propinsi NTB menyediakan lahan seluas 1.000 hektare sebagai lahan inti. Pada lahan inti itu PT SJA akan menanam jagung, dan menyediakan peralatan teknis pengolahan paska panen. Petani selanjutnya akan menjadi plasma, yang akan diberikan bimbingan teknis pertanian dan manajemen pengelolaannya.
Disebutkan bahwa PT SJA sudah berhasil dibeberapa wilayah, misalnya 1.000 hektar kopi di Toraja Sulawesi Selatam dan 1.000 hektar tanaman singkong di Kalimantan Timur.
Menurut Manggaukang, minat investasi PT SJA itu juga menunjang program pemerintah NTB memproduksi satu juta ton tanaman jagung (Prosa Tanjung) yang sudah dicanangkan Gubernur NTB tahun ini. Dengan potensi yang ada pemerintah menargetkan NTB akan memproduksi lebih dari satu juta ton Jagung pada 2011 mendatang. Saat ini, menurutnya, pemerintah akan segera mengupayakan untuk menyediakan 1.000 hektar lahan inti tersebut. Kemungkinan lokasinya di pulau Sumbawa.
27 Mei nanti PT SJA akan mengajak perwakilan dari NTB untuk ke China. Di sana bisa diperoleh kesempatan memaparkan potensi jagung NTB ke negeri itu untuk menarik investornya.
Ketua Masyarakat Agrobisnis Jagung (MAJ) NTB, Lalu Mudjitahid mengatakan, saat ini petani Jagung di NTB mengalami kendala penjualan hasil produksinya. Akhirnya produksi jagung di NTB hanya bisa terjual untuk kebutuhan NTB sendiri. Diharapkan investasi yang khusus untuk komoditi Jagung dapat membantu masalah tersebut. Dicontohkan, biaya kirim Jagung ke Jawa saja sebesar Rp 500 per kilogram, dengan harga jagung di NTB Rp1.500 per kilogram. Jika di Jawa harga jagung Rp1.800 perkilogram, maka petani akan merugi Rp 300 per kilogram. ”Ini menjadi kendala kita selama ini,” ucapnya.
Sehingga diharapkan penanam modal juga melakukan proses pembelian di wilayah NTB, sehingga petani terbantu. Menurutnya, petani juga mengalami kendala di bidang permodalan untuk bibit unggul dan pemupukan yang standar. Jika itu bisa diperhatikan, diyakini produksi Jagung bisa ditingkatkan.(supriyantho khafid)


